Menjadi Pemimpin yang Amanah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor berota Islam MINA (Mi’raj News Agency)

“Amanah” adalah kata kunci sifat pemimpin di manapun dan kapanpun. “Amanah” artinya terpercaya dan bertanggung jawab.

Maka, orang yang paling terpercaya bergelar “Al-Amin”. Dialah Rasulullah Shallallalhu ‘Alaihi Wasallam.

Allah pun memerintahkan setiap hambanya untuk berlaku amanah,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦۤ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرً۬ا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan [menyuruh kamu] apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat..” (QS An-Nisa’ [4]: 58).

Di dalam hadits dikatakan:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ

Artinya: “Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya)”. (HR Ahmad).

Bagi seorang pemimpin, apakah ia pemimpin sebuah negeri seperti presiden, gubernur, dan seterusnya, atau pemimpin sebuah komunitas hingga kepala keluarga, maka kata “amanah” adalah wujud kepemimpinnannya. Hingga ia layak disebut sebagai pemimpin yang bertanggung jawab.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menekankan kepada para pimpinan tentang pertanggungjawaban atas kepemimpinannya kelak,. Seperti disebutkan di dalam haditsnya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ, وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ, وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ, وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ

Artinya: ‘Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya”. (HR Bukhari).

Di antara karakteristik pemimpin yang amanah adalah:

Pertama, sangat merasakan apa yang dirasakan nasib orang-orang yang dipimpinnya.

Ini amat terlihat dari sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pemimpin terbesar sepanjang massa, yang begitu memperhatikan perasaan makmumnya.

Hingga dikatakan di dalam ayat:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS At-Taubah [9]: 128).

Baginda Nabi sangat paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh setiap umatnya. Jadi, hubungan seorang Pemimpin dengan umatnya bukanlah semata hubungan karena fisik-materi. Namun lebih jauh dan mendalam dari itu, yakni hubungan jiwa dan hati, hubungan tingkat tinggi.

Sehingga yang akan menjadi prioritas pekerjaannya bukanlah keselamatan, kesejahteraan atau kekayaan dirinya. Bukan pula keluarganya, kelompoknya atau partai pendukungnya. Namun prioritas programnya adalah bagaimana kesejahteraan umatnya atau rakyatnya.

Di sini betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilihkan syariat (ketentuan) yang mudah, agar umatnya tidak kesulitan menjalankannya. Namun justru merasakan kesejahteraannya.

Ini cukup mudah bagi para pemimpin, apalagi yang telah memiliki anggaran memadai. Toh, bukan dari kantongnya. Tapi dari kas yang hakikatnya datang dari rakyatnya. Ia tinggal mengelola dan menyalurkannya untuk kepentingan masyarakat seluas-luasnya. Soal makan bagi diri dan keluarganya, sudah ada bagiannya, gaji yang mencukupinya atau malah ia punya penghasilan sendiri dari usahanya selama ini.

Jadi, kalau yang dicari seperti ini dari seorang pemimpin adalah bagaimana memperkaya dirinya, apalagi kalau sampai berbuat korup, mengambil bagian harta yang bukan hak dari pekerjannya. Maka, sungguh ia adalah pemimpin yang bodoh, culas lagi khianat. Serta selanjutnya, ia tidak pantas dan tidak layak menduduki amanah semulia itu. Sebab, bukan saja rakyat yang justru dikorbankan. Namun juga dirinya secara sengaja dan bertahap telah menumpuk dosa demi dosa akibat pengkhianatan terhadap amanah yang diembankan di pundaknya, hingga kezaliman demi kezaliman dari keputusan-keputusannya dan tindakan-tindakannya. Dan itu akan menjadi beban penyesalan di hadapan Allah ke kelak Sang Maha Hakim, pada Hari Pembalasan.

Belum lagi di hadapan kebanyakan manusia, ia akan tercatat di dalam lembar sejarah sebagai orang yang pernah mengkhianati amanah kepemimpinannya.

Kemudian, kalau kita menghadapi pemimpin yang tidak amanah, tidak bertanggungjawab, maka kewajiban memberikan nasihat, kritik dan saran memperbaikinya adalah sebuah kewajiban besar nan mulia.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Artinya: Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.(HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Semoga kita mendapatkan pemimpin-pemimpin yang amanah, terpercaya, bertanggung jawab. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)