Menjaga Api Pembelaan Masjid Al-Aqsha

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj News Agency (MINA)

 

Di kala masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup, tidak berada di dalam jangkauan kaum Muslimin terlebih di bawah kendali kekuasaan kenabian. Namun, sejak awal, pondasi untuk perjuangan pembebasannya dari tangan orang kafir sudah dibangun dengan Allah atur peristiwa isra’ dan mi’raj.

Sebelum kaum Muslimin di bawah asuhan kenabian mengenal Al-Quds, Rasulullah telah lebih dulu tiba Masjid Al-Aqsha dan shalat di dalamnya, yang kemudian menjadi titik tolak menuju ke langit.

Fokus umat kepada Masjid Al-Aqsha pun dipupuk dengan ditetapkannya sebagai kiblat pertama bagi orang Islam dalam melaksanakan shalat.

Hingga ketika Rasulullah wafat, masjid suci ketiga dalam Islam itu masih belum tersentuh oleh kekuatan pasukan Muslimin. Namun, Rasulullah meninggalkan pondasi dan pasukan yang sangat memadai untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha dari kekuasaan Romawi.

Di era Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, kejayaan pasukan Muslimin berhasil mengambil kembali Al-Quds tanpa adanya pertumpahan darah.

Di kemudian masa, saat Muslimin lemah dan Al-Quds dirampas oleh kaum Salib, bahkan Al-Aqsha dijadikan tempat pembuangan sampah, kembali muncul seorang pahlawan Islam yang ditakdirkan sebagai pembebas kedua Al-Quds, yaitu Shallahuddin Al-Ayyubi. Untuk sampai kepada masa pembebasan itu, Shallahuddin pun melalui masa penggemblengan dan pemupukan kekuatan yang tidak sebentar.

Kini, Al-Quds kembali di masa ketika ia berada di bawah kekuasaan orang kafir. Kali ini giliran Yahudi yang menjajah Al-Quds.

Di masa-masa yang penuh fitnah ini, penjajah di Al-Quds semakin “kuat”, meski di dalam Al-Quran Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebut mereka lemah. Yahudi “kuat” karena merekalah yang mengendalikan banyak fitnah di seluruh dunia melalui organisasi zionis rahasianya. Yahudi “kuat” karena umat Islam yang fitrahnya lebih kuat dari Yahudi, kini dalam kondisi lemah di dalam keterpecahbelahannya.

Pasukan Israel menyerbu ke dalam Masjid Al-Aqsha di Al-Quds, Palestina. (Gambar: Navidz.com)

Muslimin di Al-Quds, tidak pernah padam semangat perjuangannya dalam membela Al-Aqsha, sejak mereka dalam kandungan hingga mereka syahid di peluru Yahudi Israel, mereka dalam warna perjuangan. Keistiqomahan mereka tidak perlu lagi diragukan, meski faktanya, perjuangan itu belum mampu membebaskan Al-Quds dari penjajahan.

Diperlukan perjuangan dari umat Islam dunia untuk membebaskan Al-Quds yang di dalamnya ada Masjid Al-Aqsha, tidak hanya cukup perjuangan Muslim yang ada di Tanah Syam (Palestina dan sekitarnya).

Medan global yang sudah dipetakan secara internasional oleh Zionis Yahudi selama ratusan tahun, membuat Muslimin dunia harus berjuang ekstra untuk bisa menjangkau Al-Quds. Sekat-sekat nasionalisme dan teritorial yang tercipta oleh sistem perpolitikan karya Zionis, menjadi salah satu penghambat bagi Muslim dunia untuk menjadi satu.

Namun demikian, syariah kepemimpinan Islam adalah satu untuk seluruh dunia. Nasionalisme dan sistem politik global seharusnya bukan tembok penghalang bagi para pejuang Al-Aqsha dunia untuk bersatu.

Di saat Kompleks Masjid Al-Aqsha dan jamaah shalatnya kembali diserang oleh pasukan Yahudi pada Jumat, 27 Juli 2018 lalu, di Turki sedang berlangsung Muktamar Ulama Internasional ke-2 yang diselenggarakan oleh Mimbar Al-Aqsa.

Ulama asal Indonesia yang diundang ke pertemuan tersebut, Imaam Yakhsyallah Mansur, menyeru seluruh umat Islam untuk kembali bersatu. Seluruh umat Islam tahu tentang kondisi Masjid Al-Aqsha, tapi bagaimana cara membebaskannya? Imaam Yakhsyallah menegaskan bahwa cara membebaskan Masjid Al-Aqsha adalah dengan bersatu.

Menurutnya pula, dengan mengedepankan isu Al-Aqsha, umat Islam pasti bisa bersatu.

Imaam Yakhsyallah adalah salah seorang tokoh yang konsisten bersama umat Islam Indonesia selalu bekerja dalam upaya pembebasan Masjid Al-Aqsha. Sejak 2006 ketika deklarasi “Perang Pembebasan Al-Aqsha” diproklamirkan di Indonesia, Imaam Yakhsyallah bersama ulama lainnya selalu menjaga api perjuangan pembelaan terhadap Al-Aqsha terus menyala hingga kini.

Pada acara Muktamar Ulama Internasional di Istanbul itu pula, ulama Malaysia Cikgu Azmi Abdul Hamid mengusung taktik masjid bersatu sebagai upaya pembebasan Al-Aqsha.

Ia menyeru supaya seluruh masjid di dunia bersatu dan mengembleng tenaga untuk menyelamatkan Masjid Al-Aqsha.

Ketika umat Islam semakin disibukkan dengan perjuangan di medan perpolitikan, tetap harus ada sekalangan lainnya dari umat yang fokus dan konsisten terus menyalakan semangat perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsha.

Ini adalah masa membangun pondasi perang, menyusun kekuatan dan menyiapkan pasukan di segala medan tempur. Sebagaimana masa yang telah di jalani oleh Rasulullah, Khalifah Umar bin Khaththab dan Shallahuddin Al-Ayyubi, dibutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk mencapai puncak pertempuran hingga akhirnya Masjid Al-Aqsha terbebaskan.

Keistiqomahan adalah hal yang wajib untuk tetap berada di jalan kebenaran, agar umat Islam tidak hanya peduli terhadap Masjid Al-Aqsha setelah banyak Muslim yang terbunuh, setelah Yahudi berbuat biadab menodai Al-Quds, atau setelah kiblat pertama kita itu benar-benar ada yang runtuh. Sebab, Allah telah memerintahkan di dalam Al-Quran.

“Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Huud [11] ayat 112). (A/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Ismet Rauf

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.