Menjaga Shalat, Penghubung dengan Sang Khalik

Oleh Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya, ”Peliharalah segala shalat-(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah/2: 238).

Melalui ayat ini, Allah menjelaskan tentang perintah menjaga atau memelihara shalat. Karena memelihara shalat merupakan bukti iman kita kepada-Nya.

Di sini Allah menggunakan kalimat “shalat wustha”, ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wustha ialah shalat Ashar.

Menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya, bukan hanya shalat Ashar.

Begitulah, ketika kita memulai bangun tidur, sebelum melakukan aktivitas dan melakukan komunikasi dengan manusia lainnya, termasuk dengan keluarga sendiri, kita terlebih dahulu akan terhubung dengan dengan Allah melalui shalat Subuh. Bahkan akan lebih baik lagi, jika dimulai dari shalat tahajud di sepertiga malam yang akhir. Kedekatan dengan Sang Khalik itu akan semakin terasa.

Kemudian kita berhubungan dengan masyarakat, dan mungkin sekali terjadi perbuatan yang tidak diridhai Allah, maka kita kembali mengingatAllah dan terhubung melalui shalat Dzuhur. Apalagi jika shalat itu dikerjakan dengan berjamaah, akan lebih afdhal lagi.

Begitu selanjutnya hingga ke shalat Ashar, Maghrib hingga ditutup sebelum mata terpejam dengan shalat Isya.

Begitulah seterusnya selama full time sepanjang 24 jam sehari semalam, selalu terkait dan terhubung dengan Allah.

Membekas dalam Jiwa

Di dalam Tafsir Al-Quran Kementerian Agama RI dijelaskan, dengan memelihara shalat akan mempunyai pengaruh dan membekas dalam jiwa dan kehidupan manusia. Ini karena dengan memelihara shalat membuktikan adanya iman kepada Allah, syarat mutlak bagi kehidupan seorang Muslim, menguatkan tali persaudaraan, dan dapat menjamin hak-hak manusia.

Allah memerintahkan kita untuk selalu menjaga shalat lima waktu, juga agar kita terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat juga menjadi penenang jiwa dari segala kegelisahan yang menimpa diri kita.

Shalat ini pulalah yang membedakan orang-orang beriman dengan orang-orang kafir. Seperti disebutkan di dalam hadits :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Artinya : “Sesungguhnya batas yang memisahkan seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim).

Berkaitan dengan hal ini, Sayyid Quthb menjelaskan, memelihara shalat menjadi begitu penting mengingat shalat merupakan jalan pertemuan seorang hamba yang dhaif dengan Allah Yang Maha Besar. Dengan shalat, seorang hamba akan merasakan kedekatan dengan Allah, hati menjadi tenang, dan jiwa terbasuh kesejukan.

Shalat ibarat sumber mata air sejuk yang tak pernah kering oleh terik panas perjalanan dunia. Karenanya, orang yang berakal sehat pasti gembira mencelupkan dirinya ke dalam mata air shalat lima waktu sehari semalam.

Di samping itu, shalat merupakan penghubung antara makhluk dengan Sang Khalik. Shalat merupakan sebesar-besar tanda keimanan seseorang dan seagung-agung syiar keislaman seseorang. Shalat merupakan tanda syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima dan merupakan tiang agama Islam.

Begitulah, Allah memerintahkan kepada kita kaum Muslimin untuk selalu menjaga terus-menerus melakukan shalat yang lima waktu sehari semalam, karena shalat juga sebagai tiang agama kita. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebutkan:

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدّيْنِ فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدّيْنِ

Artinya : “Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang menegakkan shalat,maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR Bukhari Muslim).

Pada hadits lain dikatakan:

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ الله

Artinya : “Pokok agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR At-Tirmidzi).

Hingga Allah pun membalas amaliyah kita menjaga shalat tersebut dengan surga, sebagaimana sabda Nabi:

مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ رُكُوعِهِنَّ وَسُجُودِهِنَّ وَوُضُوئِهِنَّ وَمَوَاقِيتِهِنَّ وَعَلِمَ أَنَّهُنَّ حَقٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya : “Barangsiapa selalu menjaga shalat wajib yang lima, baik ruku’, sujud, wudhu atau waktu-waktunya, dan ia mengetahui bahwa semua itu merupakan kewajiban dari sisi Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR Ahmad).

Begitu nikmatnya ibadah shalat, terlebih jika dikerjakan dengan khusyu’, itu akan menjadikannnya sebagai kenikmatan tersendiri. Sehingga shalat kita akan sanggup berlama-lama, berasyik mesra dengan Sang Pencipta.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam betapa telah memberikan pernyataan tentang munajat, berdialog, dan merasakan lezatnya shalat, dalam sabdanya:

 وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنِي فِي الصَّلاَة ِ

Artinya : “Dijadikannya mataku sejuk dalam shalat”. (HR An-Nasa’i, Ahmad dan Al-Hakim).

Inilah di antara manfaat shalat yang sangat agung, mendekatkan hamba dengan Dzat yang paling kita perlukan dalam menyelesaikan problem hidup.

Maka, marilah jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jangan sampai kita lalai dalam detik-detik shalat kita. Jangan pula terburu-buru dalam shalat kita, seakan tidak ada manfaat padanya. Dengan shalat itulah akan menjadi sarana menakjubkan untuk mendatangkan pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala. Ini seperti sabda Nabi:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُوْرٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ.

Artinya : “Barangsiapa yang menjaganya (shalat fardhu) maka pada hari Kiamat dia akan memperoleh cahaya, bukti nyata (yang akan membelanya), dan keselamatan. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka dia tidak memiliki cahaya, tidak memiliki bukti nyata (yang akan membelanya), dan tidak mendapatkan keselamatan, serta pada hari Kiamat dia akan (dikumpulkan) bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ahmad dan Ad-Darimi).

Doa menjaga shalat

Marilah kita perbanyak doa berikut ini agar kita dan anak keturunan kita Allah berikan hidayah untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang memelihara shalat.

رَبّ اِجْعَلْنِي مُقِيم الصَّلَاة وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Artinya : “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat beserta anak keturunanku, ya Tuhan kami kabulkanlah doa kami”. (QS Ibrahim/14: 40).

Amin Ya Robbal ‘Alamin. (A/RS2/RS3).

Mi’raj News Agency (MINA)

=====
Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram "Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.