Menlu : Indonesia Melihat Pentingnya Kerjasama Negara-negara Lingkar Luar Samudra India

Foto: Kemlu RI

 

Jakarta, 4 Jumadil Akhir 1438/3 Maret 2017 (MINA) – Menginjak 20 tahun IORA, Indonesia melihat pentingnya kerja sama negara-negara di lingkar luar Samudera India, mengambil visi strategis, agar dapat memanfaatkan besarnya potensi di kawasan, untuk itu kestabilan dan perdamaian harus terus dipelihara.

“Inilah arti penting IORA Concord yang akan dihasilkan dalam IORA Leader’s Summit,”ujar  Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P. Marsudi saat menjelaskan rangkaian pertemuan IORA Leader’s Summit (Jakarta, 5-7 Maret 2017), di Kementerian Luar Negeri RI, Pejambon, Jumat (3/3).

Menlu Retno mengatakan, Indonesia telah menunjukkan kepemimpinannya di APEC dan di ASEAN, “Saatnya Indonesia menampilkan kepemimpinan di IORA dengan menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi yang pertama dan menghasilkan concord.”

IORA concord akan memberikan platform bagi negara-negara ini untuk menghadapi tantangan masa kini dan mendatang. IORA bercita-cita memajukan berbagai kerja sama di bidang ekonomi. Namun sejarah membuktikan, pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan tanpa didukung kestabilan dan perdamaian.

“Indonesia ingin memastikan Samudera India yang stabil dan damai. Concord menjelaskan norm setting agar negara-negara berkomitmen terhadap hukum dan perjanjian internasional, termasuk UNCLOS 1982,” jelasnya.

Visi dalam concord ini tidak terlepas dari implementasi pilar Poros Maritim pemerintahan Presiden Joko Widodo. Melalui diplomasi maritim, Indonesia akan mengisi kekosongan di Samudera India dan memanfaatkan peluang ekonomi.

Menlu Retno menjelaskan bahwa bagian barat Samudera India adalah pasar yang telah tergarap. Indonesia ingin memanfaatkannya sebagai sumber investasi dan pariwisata. Sedangkan bagian timur yang relatif belum tergarap, “Melalui IORA, kita ingin jadikan bagian timur Samudera India, pintu akses kerja sama dengan negara-negara di Afrika dan Timur Tengah.”

Di balik diplomasi maritim di IORA, Indonesia memprediksikan bahwa Samudera adalah kawasan masa depan. Sekitar 2,7 miliar penduduk dunia dari 21 negara berada di kawasan ini. Setengah dari negara G-20 juga ada di Samudera India. Lebih lanjut, perairannya telah menjadi sarana transportasi dunia dan menyimpan berbagai sumber daya alam.

Dijelaskan pula rangkaian Leader’s Summit, yaitu pertemuan tingkat Pejabat Tinggi (Senior Officials Meeting – SOM, 5 Maret), pertemuan tingkat Menteri (Council of Ministers Meeting – COMM, 6 Maret) dan pertemuan tingkat Puncak (Leaders Summit, 7 Maret).

Diakui Menlu Retno bahwa partisipasi pertemuan ini melebihi harapan, “Dari 21 negara, telah dipastikan kehadiran 16 pemimpin dan 5 di tingkat menteri.” Di sela-sela konferensi, akan diatur sejumlah pertemuan bilateral di tingkat Kepala Pemerintah maupun Menteri.(L/R04/P1)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)