Menristek Kritik Lembaga Swasta yang Tak Peduli Inovasi

Jakarta, MINA – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, untuk menjadi negara maju, salah satunya harus mengutamakan inovasi. Tahapan terberat dalam inovasi adalah prototype ke industrialisasi.

“Di sinilah tantangan terbesar dari upaya para peneliti kita untuk keluar menjadi hasil inovasi. Nah inilah yang harus ditemukan caranya untuk menjembatani yang tingkat teknologinya sudah tinggi menuju industrialisasi. Apalagi ke komersialisasi,” kata Bambang saat membuka forum Business Innovation Gathering (BIG) 2019 di Jakarta, Kamis (19/12).

Bambang mengatakan, untuk menemukan jembatan antara prototype ke indutrialisasi, maka diselenggarakan forum BIG 2019. Salah satu langkah untuk menghidupkan forum tersebut adalah dengan mengundang sejumlah pihak, termasuk para pelaku usaha.

“Kenapa dunia usaha perlu diundang dan diajak aktif dalam kegiatan penelitian dan pengembangan atau R&D, dan juga inovasi? Karena data di Indonesia ternyata menunjukan keluhan bahwa dana untuk R&D di Indonesia itu relatif rendah,” katanya.

Mantan Kepala Bappenas itu mengungkapkan, keluhan tersebut terjadi bukan semata anggaran yang rendah. Bahkan, kata dia, jika membandingkan Indonesia dengan negara di ASEAN, apalagi Jepang dan Korea, maka akan terlihat suatu persoalan yang harus segera diselesaikan bersama.

Bambang kemudian menjelaskan persoalan yang terjadi. Menurut dia, saat ini, Indonesia baru mempunyai 0,35 persen PDB (Produk Domestik Bruto) untuk membiayai R&D. Sekitar 80 persen dari 0,35 persen tersebut berasal dari pemerintah. Sementara dari swasta hanya sebesar 10 persen.

“Artinya anggaran pemerintah atau riset pemerintah mendominasi dari riset yang ada di Indonesia. Jadi, jika kita ingin memperkuat sumber pendanaan R&D dan inovasi di Indonesia, perlu diseimbangkan neraca sumber anggaran tersebut,” katanya.

Menurut Bambang, persoalan itu yang menyebabkan kenapa inovasi di Indonesia belum terlalu berkembang. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand yang sumber anggarannya 70 persen berasal dari swasta, maka akan terlihat Indonesia masih tertinggal.

“Malahan, Jepang dan Korea di atas 70 persen dan merekalah yang menjadi negara maju. Jepang dan Korea, mereka tidak punya SDA, tapi mereka punya SDM terlatih. Dan yang paling penting sektor swastanya sadar pentingnya R&D untuk sutainability dari dunia usaha,” katanya.

Bambang menjelaskan, dalam pelaksanaan riset dan inovasi, membutuhkan optimalisasi kerja sama antara peneliti dari Perguruan Tinggi/lemlitbang (Academicians/researchers), dunia usaha industri (Businesses), serta Pemerintah (Government), atau biasa dikenal sebagai sinergitas ‘Triple Helix’.

“Semua elemen ‘Triple Helix’ berperan sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya. Sinergitas yang kuat antara tiga elemen ABG ini sangat penting untuk memperkecil ‘lembah kematian’ antara produk riset dan produk inovasi,” katanya. (L/R06R06/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)