MENTERI AGAMA HARAP BUKU MUTIARA DARI PESANTREN MENGINSPIRASI MASYARAKAT

(Foto: Kemenag)
(Foto: Kemenag)

Jakarta, 3 Sya’ban 1436/21 Mei 2015 (MINA) – Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin berharap  Buku KH Saifuddin Zuhri: Mutiara Dari Pesantren karya Rohani Shidiq bermanfaat serta dapat memotivasi dan menginspirasi masyarakat untuk terus menjaga dan memelihara persaudaraan, sebagai sesama anak bangsa.

Selain itu juga dapat menumbuhkan  kesadaran bersama untuk menjaga keutuhan NKRI yang majemuk, dengan spirit Islam Nusantara yang sejuk dan damai, demikian pers rilis yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Kamis (21/5).

“Melalui peluncuran buku ini, semoga, masyarakat kita, dari Sabang hingga Merauke termotivasi dan terinspirasi. Karena buku ini mengangkat tema tentang pendidikan pesantren yang menyadarkan, bahwa sesungguhnya, kita memiliki nilai-nilai berharga yang mampu dijadikan sebagai referensi untuk memajukan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa kita,” kata Menteri Lukman saat memberikan sambutan dalam seminar bertajuk  “Berguru Islam Nusantara dari KH Saifuddin Zuhri” di Aula Institut PTIQ Jakarta, Rabu (20/5).

Lukman mengaku kagum dengan  dua buku karya ayahandanya, KH. Saifuddin (alm). Kedua buku itu adalah  “Guruku Orang-Orang dari Pesantren” dan “Berangkat dari Pesantren”. Dari dua buku tersebut, lanjut Menag, sangat terlihat, kecintaan dan ketaatan almaghfurlah terhadap pesantren tidak bisa dipisahkan.

Menurutnya, jika kita mencermati pesantren-pesantren, baik yang berada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara maupun daerah lain di Indonesia, ada beberap ciri khas pokok yang dimiliki oleh pesantren, yakni: Pertama, Islam yang moderat, di mana perbedaan dilihat sebagai hal untuk saling melengkapi, menghormati, melengkapi dan menyempurnakan.

Kedua, dalam pesantren ada nilai-nilai toleransi yang dijunjung tinggi, di mana dikedepankan sikap saling menghormati dan menghargai tanpa harus mengurangi keyakinan masing-masing. Ketiga, adanya cinta Tanah Air.

“Jika ada pesantren tidak mempunyai tiga ciri di atas, maka, kita layak waspada,” tegasnya.

Lukman menilai, pendidikan pesantren adalah mutiara terpendam yang tak pernah lekang. Pendidikan pesantren adalah pendidikan khas Indonesia yang tak lekang oleh panas dan lapuk oleh waktu, mampu memberi peran dan sumbangsih serta pengabdian kepada bangsa ini.

“Sejarah membuktikan,  pesantren berperan penting dalam perjalan bangsa, mampu menjadi pusat penyebaran Islam dengan membawa cara hidup baru yang membebaskan. Pesantren juga mampu menumbuhkan patriotisme dan nasionalisme, memberi pengayaan nilai agama pada paham politik modern, seperti demokrasi dan sosialisme. Lihatlah, semasa revolusi, para ulama pesantren ikut mengangkat senjata tan mendirikan NKRI,” tegas Lukman.

Pesantren juga mampu menjadi elemen penting, ketika kekuasaan politik Islam hancur oleh adu domba kolonial.

Menteri Lukman menyatakan, meski kekuasaan Islam berakhir, namun kekuatan umat Islam tidak ikut sirna. Semua ini tidak lepas dari peran para ulama. Meski pendidikan pesantren dipinggirkan, namun mampu berperan sebagai oposisi yang signifikan. Pesantren mampu menjadi basis penyemaian semangat kebangsaan kaum muda dan menjadi pusat perlawanan di Nusantara.

“Lihatlah, Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari untuk jihad fi sabilillah dalam perang Surabaya, yang saking heroiknya, pada 10 November, kita peringati sebagai Hari Pahlawan,” ungkapnya.

“Mutiara hikmah hubbul watan minal iman, mampu menjadi landasan teologis yang meyakinkan, bahwa Islam dan nasionalisme tidak bertentangan, namun saling menguatkan,” tambahnya.

Selain peran historis, yang tak kalah penting adalah kehadiran pesantren yang intens dalam proses pembentukan Islam Nusantara.

“Islam Nusantara, adalah salah satu kekayaan khazanah tradisi Islam yang dikembangkan oleh para ulama pesantren masa lampau. Islam disebarkan dengan jalan damai, tanpa kekerasan dan paksaan,” terangnya. (T/P011/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0