Menumbuhkan Sifat Tawadhu’, Oleh Widi Kusnadi, wartawan MINA

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna. Kesempurnaan itu ditandai dengan bentuk fisiknya yang terbaik. Jika dibandingkan dengan makhluk yang lain seperti; jin, batu, angin atau tanaman, maka bentuk manusia yang lebih baik dan indah karena memiliki segenap anggota tubuh dengan system dan fungsinya yang berjalan masing-masing, satu dengan yang lainnya berbeda namun saling melengkapi dan menguatkan.

Manusia juga dikaruniai akal dan nafsu yang membuat sempurna dan tinggi derajatnya. Jika malaikat hanya dikaruniai akal saja tanpa nafsu, dan binatang hanya diberi nafsu saja tanpa akal, maka manusia memiliki keduanya. Dengan kesempurnaan akal dan nafsu, itu, manusia bisa lebih tinggi derajatnya daripada malaikat. Pun sebaliknya, manusia bisa lebih rendah derajatnya daripada binatang ternak jika tidak dapat mengelola keduanya.

Sesungguhnya, untuk menggapai derajat mulia di sisi-Allah, tidaklah cukup manusia meningkatkan keimanan dan memperbanyak amal shaleh saja. Akan tetapi, manusia juga perlu mengetahui hal-hal yang dapat merusak iman dan pahala amal shalehnya agar jangan sampai menjadi orang yang rugi dan bahkan celaka di dunia terlebih di Yaumil Qiyamah nanti.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam diutus ke dunia, tugas utamanya adalah menyempurnakan akhlak mulia. Dengan akhlak mulia itulah ketakwaan manusia akan semakin sempurna dan salah satu akhlak mulia itu adalah sifat tawadhu’.

Tawadhu’ bisa diartikan sebagai sifat rendah hati yang dimiliki dalam hati, ditunjukkan melalui sikap, tutur kata dan perbuatan serta ketundukan kepada kebenaran. Sedangkan lawan dari tawadhu’ adalah takabur, yaitu sifat merasa benar, ingin menonjol (dilihat) dan tidak mau menerima nasehat dan kebenaran. Turunan dari sifat takabur adalah riya (memperlihatkan amal), sum’ah (memperdengarkan amal) dan ujub (mengagumi diri sendiri).

Berbagai kisah dalam Al-Quran bisa kita ambil hikmah sebagai pelajaran dalam kehidupan dunia ini, untuk dapat meningkatkan sifat tawadhu’ kita serta menghindarkan diri dari sifat takabur. Berikut adalah beberapa kisah yang penulis sajikan:

Dalam kisah antara Nabi Musa Alaihi Salam dengan para tukang sihir, (QS. Al- Araf:115-116) para tukang sihir dengan penuh tawadhu’ mempersilahkan kepada Nabi Musa Alaihi Salam apakah ia akan memulai duluan atau mereka. Maka dengan tawadhu’ pula, Nabi Musa mempersilahkan para tukang sihir beraksi duluan.

Di akhir pertandingan, Nabi Musa Alaihi Salam yang menang dan tukang sihir itu beriman kepada Tuhannya Musa. Jika kita melihat secara tekstual ayat itu, mereka para tukang sihir mendapat hidayah salah satunya adalah karena sifat tawadhu’ yang ada pada diri mereka. Meskipun mereka melakukan dosa besar (sihir), namun ternyata sifat tawadhu itu mengantarkan mereka mendapat hidayah dan keimanan.

Nabi Isa pun juga memiliki kisah yang menarik dalam mengajarkan sifat tawadhu’ kepada para muridnya. Nabi Isa bahkan rela mencuci kaki para murid-muridnya demi ingin mengajarkan sifat tawadhu’ itu.

Nabi kita Muhammad Shallallahu laihi wa salam sudah barang tentu beliau adalah setinggi-tingginya derajat kemuliaan. Beliau adalah puncak dari ketakwaan dan kedekatan manusia kepada Rabbnya, namun beliau tetap rendah hati, tawadhu’ dan jauh dari sifat takabur. Bukti dari itu semua adalah beliau menjahit pakaian dan sandalnya sendiri (tidak menyuruh sahabatnya atau istrinya). Beliau juga tidak segan-segan duduk dan berbaring bersama para sahabatnya di masjid, makan bersama peminta-minta dan mencari kayu bakar untuk sahabatnya yang akan memasak kambing.

Sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib berkata, sifat tawadhu’ akan menghasilkan perasaan hormat dan cinta antar sesama manusia. Sebaliknya, sifat takabur akan menghasilkan sikap kebencian dan permusuhan di antara manusia

Imam Syafi’i berkata, tawadhu’ adalah di kala engkau keluar rumah dan engkau melihat orang lain lebih mulia darimu. Jika ia lebih tua, maka amalnya lebih banyak darimu, dan jika ia lebih muda maka dosanya lebih sedikit darimu.

Lain halnya dengan kisah Raja Jablah bin Aiham, raja dari Kerajaan Gassanah melakukan perjalanan ke Madinah. Menurut para sejarawan, ia datang bersama rombongan ke kota suci kedua bagi umat Islam itu untuk masuk Islam. Begitu sampai di Madinah, rombongan itu diterima dengan penuh suka cita oleh Khalifah Umar bin Khathab.

Saat musim haji tiba, Jablah menunaikan haji bersama Umar. Saat ber-tawaf, sarung raja Gassanah itu terinjak hingga terlepas. Jablah pun murka dan memukul lelaki yang menginjak sarungnya hingga pria tersebut berdarah. Pria yang berasal dari suku Fuzarah itu mengadu kepada Umar.

“Mengapa kamu memukul lelaki ini?” tanya Umar. “Dia telah menginjak sarungku hingga terlepas,” jawab Jablah. Umar berkata, “Bukankah kamu telah menyatakan masuk Islam? Sebagai balasannya, kamu harus berusaha membuatnya rela atau dia melakukan tindakan seperti tindakan yang telah kamu lakukan terhadapnya.”

Dengan penuh kesombongan, Jablah berkata, “Apakah hal ini pantas aku lakukan! Aku adalah raja, sedangkan dia adalah rakyat jelata.” Umar dengan tegas berseru, “Islam memandang sama antara dirimu (raja) dan dirinya (rakyat jelata). Tidak ada hal yang membuatmu memiliki derajat lebih tinggi daripada dia, selain amal kebaikan.”

“Demi Allah, aku masuk Islam dan berharap dapat menjadi lebih mulia daripada masa jahiliah.”

Umar berkata, “Kamu akan seperti itu.” Jablah berkata, “Tangguhkanlah aku sampai besok agar aku dapat berpikir tentang hal ini, wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Silakan.”

Namun pada malam hari, Jablah dan rombongannya malah melarikan diri hingga sampai di Konstantinopel dan bertemu dengan Heraklius. Ia tak mau bersikap tawadhu’ dan memilih keluar dari ajaran Islam yang mengajarkan persamaan derajat.

Tawadhu’ adalah sikap tunduk kepada Allah dan rendah hati serta sayang terhadap hamba-Nya. Insan yang tawadhu’ adalah hamba-hamba Allah yang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.

Orang yang tawadhu’ adalah mereka yang tak pernah sombong dan bersikap angkuh serta tak pernah menyombongkan diri. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. (A/P2/B04)

Mi’raj News Agency (MINA)