Menyikapi Hoaks dengan Cara Al-Quran

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj News Agency (MINA)

 

Penyebaran berita bohong atau yang lebih popular dengan istilah hoax adalah kondisi yang akrab bagi umat Islam, baik dahulu, kini ataupun di masa yang akan datang.

Di masa kenabian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, setidaknya ada dua peristiwa hoax yang menyebabkan Allah menurunkan wahyu-Nya.

Peristiwa pertama tentang sahabat Walid bin Uqbah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk mengambil zakat dari kabilah Bani Musthaliq.

Mendengar Rasulullah mengirim seorang utusan, para pembesar Bani Musthaliq mengadakan sambutan meriah sebagaimana mereka menyambut kedatangan pahlawan besar. Para pemuda, anak-anak dan orang tua keluar beramai-ramai ke batas desa untuk menyambut kedatangan utusan Rasulullah.

Namun, Walid menanggapi berbeda sambutan itu. Kenangan perselisihan buruk antara Bani Musthaliq dengan kabilahnya masih menggelayut di benaknya. Walid beranggapan bahwa sambutan itu bertujuan untuk membunuhnya.

Maka, sebelum tiba dan tanpa bersapa kata dengan orang Bani Musthaliq, Walid justru berbalik arah dan lari pulang ke Madinah.

Setibanya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Walid menciptakan cerita bahwa jiwanya terancam. Ia mencoba meyakinkan Rasulullah dengan apa yang dilihatnya, meski hal itu belum diklarifikasinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang percaya segera mengirim pasukan yang dipimpin oleh Sang Pedang Allah, Khalid bin Walid.

Sebelum menyerbu, Khalid lebih dulu mengklarifikasi kabar tentang Walid dan menyeru Bani Musthaliq untuk bertaubat. Namun faktanya, saat kedatangan Walid sebelumnya, Bani Musthaliq justru sudah menyiapkan zakat yang akan diambil dan ingin menyambut kedatangan utusan Rasulullah.

Peristiwa itulah yang kemudian Allah menurunkan Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Tabayyun atau periksa dengan teliti adalah prinsip utama bagi orang-orang beriman dalam menerima berita dari orang yang diragukan keimanan dan kejujurannya, termasuk berita dari sumber yang tidak diketahui.

Peristiwa kedua adalah kisah Ummul Mukminin Aisyah yang tertinggal rombongan pasukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang hendak pulang pada malam hari. Tertinggalnya Aisyah tanpa sepengetahuan Rasulullah atau sahabat yang lain.

Aisyah yang tertinggal kemudian diam menunggu di tempat dengan harapan ada pasukan yang mencari dan menyusulnya ke lokasi itu. Aisyah pun tertidur hingga pagi.

Sahabat Shafwan bin Al-Mu’aththal yang bertugas memastikan tidak ada pasukan yang tertinggal, kemudian menemukan Aisyah. Shafwan yang merupakan sahabat assabiqunal awwalun (sahabat yang pertama masuk Islam) dan alumni Perang Badar tersebut, mengucapkan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun” (sesungguhnya ia adalah ciptaan Allah dan sesungguhnya ia akan kembali kepada-Nya) saat mengenali siapa wanita yang tertidur, membuat Aisyah terbangun karenanya.

Setelah itu, Shafwan tidak pernah berbicara lagi kepada wanita suci yang ditemuinya tersebut, selain dengan bahasa isyarat. Shafwan memberikan untanya kepada Ummul Mukminin untuk dinaiki dan ia menuntunnya tanpa bercakap sepatah kata pun.

Sepulangnya di Madinah, Aisyah jatuh sakit. Tanpa sepengetahuannya, fitnah bahwa ia berzina merebak viral di kalangan muslimin. Gembong munafik Abdullah bin Ubay adalah orang yang menyebarkan fitnah tersebut.

Sedemikian hebatnya berita hoax tersebut, hingga-hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mempercayainya karena sebulan lamanya tak kunjung turun wahyu dari Allah sebagai penyangkal berita tersebut.

Aisyah sendiri menjadi orang terakhir yang mengetahui fitnah tentang dirinya, sehingga kesedihan parah melanda perasaannya. Ia kembali jatuh sakit dan terus menangis, karena sikap Rasulullah kepadanya berubah, bahkan ada wacana untuk menceraikannya.

Hingga puncaknya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menuntut Abdullah bin Ubay menghadirkan saksi bahwa mereka telah melihat Aisyah berzina. Namun, kesaksian para orang munafik lemah.

Sebaliknya, Aisyah memberi pengakuan bahwa ia suci. Ia bingung harus menjawab apa, karena suaminya yang agung telah terpengaruh oleh berita dusta itu.

Pada akhirnya, Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Al-Quran Surah An-Nuur ayat 11 hingga 20.

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٌ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرًّ۬ا لَّكُم‌ۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ‌ۚ لِكُلِّ ٱمۡرِىٍٕ۬ مِّنۡہُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِ‌ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُ ۥ مِنۡہُمۡ لَهُ ۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya.” (QS. An-Nuur [24] ayat 11)

Setelahnya, Rasulullah berkata kepada istrinya yang suci, “Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu.”

Dalam rangkaian wahyu tersebut dijelaskan tentang karakter para penyebar berita bohong. Dan setiap orang yang berperan menyebarkannya, baik peran kecil atau besar, akan mendapat balasan dari Allah sesuai kadar perannya.

Maka, dari dua sejarah tersebut, menjadi kewajiban bagi umat Islam tetap merujuk kepada Al-Quran dalam menyikapi berita yang kebenarannya diragukan. (A/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)