Bogor, 5 Jumadil Awwal 1437/13 Februari 2016 (MINA) – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera membuka kedutaan besar di Palestina.
“Rakyat Indonesia satu langkah di depan pemerintah Indonesia dalam membantu rakyat Palestina. Pemerintah Indonesia masih belum membuka kedutaan besar di Palestina meskipun mereka sudah memiliki rencana untuk mendirikan kantor konsul kehormatan di Ramallah,” kata Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad, saat menjadi pembicara Peringatan Satu Dasawarsa Ghazwah Fathul Aqsha di Masjid At-Taqwa Cileungsi, Bogor, Jawa Barat Jum’at (12/2) malam.
Pada kesempatan itu, ia juga mendesak pemerintah Indonesia untuk tetap tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Israel menginginkan seluruh negara untuk mengakui Israel sebagai sebuah negara. Sarbini mengungkapkan bahwa adanya kemungkinan pihaknya akan membangun Rumah Sakit di Tepi Barat.
Baca Juga: Tim SAR dan UAR Berhasil Evakuasi Jenazah Korban Longsor Sukabumi
“Ketika saya bertemu dengan Menteri Kesehatan Palestina, Dr Jawad Awad, saya ditanya mengapa MER-C hanya membangun rumah sakit di Gaza, tapi tidak membangun rumah sakit di Tepi Barat,” ungkapnya.
Acara Peringatan Satu Dasawarsa Ghazwah Fathul Aqsha tersebut diawali dengan pembacaan Maklumat Ghazwah Al-Aqsha oleh Imaamul Muslimin, Yakhsyallah Mansur. Maklumat itu pertama kali dibacakan pada Tabligh Akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) 2006 lalu.
Maklumat itu berisi pernyataan bahwa Masjid Al-Aqsha adalah hak milik umat Islam yang wajib dipertahakan oleh segenap kaum Muslimin.
Maklumat juga memperingatkan kepada Zionis Israel agar segera meninggalkan kawasan kiblat pertama umat Islam itu dan menyerahkannya ke tangan Muslimin. (L/nrz/R05)
Baca Juga: BKSAP DPR Gelar Kegiatan Solidaritas Parlemen untuk Palestina
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: Warga Israel Pindah ke Luar Negeri Tiga Kali Lipat