MER-C Kembali Kirim Tim ke Myanmar untuk Pembangunan RS Indonesia

Relawan MER-C DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc. (dua dari kanan) dan Ir. Rizal Syarifuddin (tengah) bersama saat akan bertolak menuju Yangon Myanmar dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (23/10/2017). (Foto: Rana/MINA)

Tangerang, MINA – Organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali memberangkatkan tim ke Myanmar untuk menindaklanjuti pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State.

Kedua dua relawan teknis MER-C yang sudah berpengalaman dalam program misi kemanusiaan, yaitu DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc. dan Ir. Rizal Syarifuddin akan menjalankan misi menindaklanjuti pembangunan RS Indonesia di Myanmar yang kini memasuki tahap dua dan dari empat tahap yang direncanakan yakni pembangunan gedung utama rumah sakit.

Idrus yang merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Penanggung jawab Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar menjelaskan, tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan pengukuran dan penentuan titik-titik bangunan kompleks RS Indonesia. Pengukuran akan dikerjakan bersama dengan kontraktor lokal pemenang tender.

“Kita juga akan langsung sosialisasi untuk pembangunan building (bangunan) utama rumah sakit. Mohon doa semoga lancar semua,” kata Idrus di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, sebelum bertolak ke Yangon Myanmar, Senin pagi (23/10).

Direncanakan esoknya tim akan terbang ke Sittwe dengan maskapai lokal. Dari ibukota Rakhine State ini, tim akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi pembangunan RS Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 3,5 jam.

Setelah proses pengukuran ini, dia berharap Rakhita Ah Linn, kontraktor lokal yang ditunjuk bisa segera memulai pembangunan tahap dua berupa rumah dokter dan rumah perawat.

Relawan yang telah berpengalaman dalam membangun rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina ini juga menjelaskan bahwa agenda penting lainnya dalam kunjungannya ke Rakhine adalah pra tender pembangunan tahap tiga, yaitu pembangunan bangunan utama RS Indonesia.

“Target penting kami lainnya adalah untuk pra tender pembangunan tahap tiga dengan beberapa calon kontraktor lokal, sehingga setelah pembangunan rumah dokter dan perawat selesai kami harap bisa segera dilanjutkan dengan pembangunan bangunan utama rumah sakit,” imbuhnya.

Misi tim teknis dijadwalkan berlangsung selama 5 hari hingga Jumat (27/10) mendatang.

Dia menekankan, meski situasi di Myanmar masih belum kondusif pasca memanasnya situasi di Myanmar khususnya Rakhine State, namun proses pembangunan RS Indonesia di wilayah ini akan terus berjalan.

Pembangunan RS Indonesia di Myanmar akan menempuh empat tahap, yakni tahap pertama penilaian ke lokasi lahan RS Indonesia dan finalisasi kontrak dengan para kontraktor lokal; tahap dua berupa pembangunan asrama dokter dan perawat; tahap ketiga pembangunan gedung utama; dan tahap keempat penyediaan alat dan instalansi rumah sakit serta sistem air.

Diplomasi Kemanusiaan

Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C, Ir. Luly Larissa Agiel mengharapkan, program kerja sama MER-C, PMI dan Walubi yang turut didukung oleh pemerintah Indonesia ini bisa tersosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat Indonesia dengan dukungan media, sehingga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berpartisipasi memberikan dukungan dan bantuannya.

Dia menegaskan, saat ini pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar akan memasuki tahap pembangunan gedung utama rumah sakit. Perkiraan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan hingga pengadaan alat kesehatan rumah sakit mencapai Rp25 miliar.

Luly mengatakan, pembangunan ditargetkan bisa selesai pada pertengahan tahun depan. Tidak hanya bangunan rumah sakit, masalah air bersih yang sulit di wilayah ini juga turut menjadi perhatian yang akan ditangani.

Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina.

Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke negara itu pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan penilaian ke lokasi lahan RS Indonesia pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State.

Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Wapres RI M. Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan.

Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui; Mandiri 124.000.8111.982, atau, BSM 700.1306.833, atau BCA 686.028.0009, atas nama Medical Emergency Rescue Committee. (L/R01/ri-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)