Meraih Kemuliaan dengan Mengendalikan Hawa Nafsu (Oleh: Widi Kusnadi)

Oleh: Widi Kusnadi, Dai Pondok Pesantren Al-Fatah, Bogor

Manusia diciptakan Allah dengan lengkap segala kelebihan yang dimiliki. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling mulia di antara makhluk lainnya karena dilengkapi dengan kelebihan fisik, akal dan nafsu. Namun yang perlu diingat, dari semua anugerah yang Ia berikan itu, kita akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah pada hari kiamat kelak tentang apa yang telah kita kerjakan.

Oleh karenanya, mengenali diri sendiri sebagai manusia ciptaan Allah sangatlah penting agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan, sikap dan tindakan. Ibarat seseorang jika ingin mengetahui seluk-beluk sebuah mobil, pasti akan bertanya kepada si pembuat mobil. Maka, cara mengenal diri kita yang paling tepat adalah dengan mempelajari kitab suci dari Allah, Zat yang telah menciptakan manusia, yaitu Al-Quran.

Pada tulisan ini, penulis akan menguraikan tentang sifat-sifat yang Allah ilhamkan kepada manusia. Dalam Al-Quran Surah As-Syams ayat 7-10, Allah berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. al-Syams[91]: 7-10).

Dalam ayat di atas, Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia dua sifat yang berbeda yaitu fujur (fasik) dan taqwa. Keduanya memiliki sifat saling berlawanan (kontradiktif). Sebagai contoh, fujur memiliki ragam seperti marah, sedangkan lawannya (sifat taqwanya) adalah sabar. Dusta lawannya adalah jujur, rendah hati lawannya adalah sombong dan sifat lainnya yang akan selalu memiliki lawannya.

Perlu diketahui oleh kita semua, bahwa Allah mengilhamkan kepada manusia sifat buruk (fujur) bukanlah bermaksud ingin mencelakakan manusia. Justru sifat fujur itu diciptakan untuk memaksimalkan sifat taqwa manusia sehingga ia bisa menjadi pribadi yang mulia dengan taqwanya.

Bagaimana mungkin kita akan tahu bahwa seseorang memahami manfaat sifat sabar jika tidak ada orang yang marah. Tidak mungkin seseorang bisa menjadi pribadi yang jujur kalau tidak ada dusta dan kebohongan di antara manusia. Seseorang juga tidak akan dapat merasakan nikmatnya memiliki sifat rendah hati jika tidak ada kesombongan yang terjadi pada manusia.

Jika seorang suami/istri melihat pasangannya sedang marah, maka itu tanda Allah ingin membangkitkan sifat sabar dalam dirinya. Jadi jangan benci pada pasangan yang marah, tapi sikapilah kemarahannya dengan dengan sifat sabar kita. Lawanlah kemarahan itu dengan kesabaran, niscaya marah itu akan reda atas izin dan pertolongan Allah. Maka marah diciptakan untuk melatih sifat sabar manusia.

Jika ada rekan kerja kita berdusta dan berbohong, maka sebenarnya Allah ingin menampakkan sifat jujur pada diri kita. Maka janganlah kita hardik dan caci orang yang bohong dan dusta, tetapi kita tunjukkan kejujuran itu kepadanya. Kita doakan semoga Allah membukakan tabir hikmah kepada mereka yang berdusta sehingga ia bisa bertaubat kepada-Nya. Jadi, bohong diciptakan untuk menunjukkan keunggulan sifat jujur manusia.

Demikian juga jika ada orang yang menyombongkan diri, meremehkan manusia dan menolak nasihat, maka sebenarnya Allah ingin menguji sifat rendah hati kita. Maka, jangan cela dan hinakan ia, tapi tunjukkan kepada mereka kelembutan, kesantunan dan kerendahan hati kepadanya, sambil berdoa semoga Allah sadarkan mereka dengan kasih sayang-Nya. Maka sombong diciptakan untuk melatih sifat rendah hati manusia.

Ibarat pakaian yang kotor, maka yang harus dihilangkan adalah kotorannya, bukan pakaiannya. Atau jika ada bagian dari anggota tubuh kita yang sakit, maka yang dihilangkan adalah penyakitnya, bukan anggota tubuhnya. Demikianlah kita bersikap kepada orang yang berbuat fasik. Kita nasihatkan agar hilang sifat buruknya, jangan membenci orangnya.

Setiap aktifitas manusia akan selalu dihadapkan pada kedua hal itu, yaitu antara nafsu (fujur) dan takwa. Dai yang terkenal dengan hafalan Al-Quran dan kitab-kitab ulama, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, arti kata “Aflaha” (أَفْلَحَ) merupakan gabungan dari rasa nyaman, tenang, damai, bahagia dan sukses. Oleh karenanya, jika seseorang mampu memaksimalkan potensi takwanya dengan sifat-sifat mulia di atas, maka hatinya akan bersih dan pasti akan menjadi orang yang beruntung.  Hatinya akan merasa tenang, perasaannya akan nyaman, hidupnya akan damai dan bahagia dan pastinya sukses dunia dan akhirat.

Sebaliknya, kata “khaba” (خَابَ) mengandung arti bukan hanya sekadar rugi dan sengsara, tetapi nestapa.  Nestapa itu tingkat penderitaannya melebihi orang yang rugi dan sengsara. Ibaratnya seseorang yang sudah jatuh tertimpa tangga dan genteng pula, maka kerugiannya bertubi-tubi dan kesengsaraannya berlipat ganda. Maka ia akan tersiksa dengan masalahnya hingga berlarut-larut tanpa ada harapan penyelesaian.

Jadi dalam mengelola nafsu itu haruslah mengetahui sifat dan cara kerjanya sehingga kita bisa mengendalikannya. Tidaklah Allah menjadikan sifat fasik itu melainkan untuk menumbuhkan sifat taqwa dalam diri kita.

Maka untuk mengendalikan sifat fujur itu adalah dengan mengetahui sifat lawannya dan kita praktekkan, kita tampakkan hal itu sehingga sifat buruk itu hilang dan sifat taqwa itu tumbuh berkembang. (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)