Meraih Taqwa dengan Puasa

Oleh : Widi Kusnadi, Wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Fajar Ramadhan menyingsing menembus cakrawala. Pancaran cahaya Sang Surya menyeruak, menerangi mayapada. Pagi ini, semua Muslim bergembira, menyambut hadirnya tamu mulia, tamu istimewa, Ramdhan Karim, Ramadhan Mubarak.

Berpuasa di Bulan Ramadhan menjadi kewajiban yang harus ditunaikan. Bukan untuk Tuhan yang telah menciptakan, tetapi semata-mata, manfaat dan kebaikannya kembali 100 persen kepada manusia. Makhuk lemah, yang perlu pertolongan, bimbingan dan ampunan dari segala khilaf dan dosa.

Sebagaimana firman-Nya, tujuan puasa adalah membentuk manusia menjadi pribadi bertaqwa. Tentu taqwa itu tidak hanya pada saat puasa saja, tetapi juga berlaku di bulan-bulan berikutnya. Karenanya dalam surah Al-Baqarah 183 disebutkan dengan kalimat “la’allakum tattaqun” menggunakan present continius tense, bermakna dilakukan terus-menerus, berkesinambungan.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (البقرة : ١٨٣)

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa adalah predikat yang paling mulia bagi seorang hamba. Taqwa juga merupakan bekal hidup paling baik yang diperlukan oleh setiap manusia agar dapat menggapai hidup bahagia. وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ  “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa“, demikian kutipan arti surah al-Baqarah ayat 197.

Kebahagiaan sejati hanya bisa diraih dengan taqwa. Kebahagiaan hakiki, manakala seseorang dekat dan diridhai Sang Pencipta. Karena Dialah sumber kebahagiaan, sumber kasih sayang, tempat mengadu dan berlindung dari segala gundah, susah, resah dan gelisah.

Ketika seorang sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam meminta wejangan kepada beliau tentang bekal terbaik agar mampu selamat hidup di dunia dan akhirat, Rasulullah bersabda dengan pesan, اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَBertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada.”

Dengan bekal takwa, segala urusan yang kita hadapi akan dapat teratasi. Begitulah janji Allah dalam Surah At-Thalaq ayat kedua: وَمَنْ يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًاBarangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Dengan bekal takwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan rezeki seorang hamba.  Segala beban hidup dan kesulitan yang dihadapi, akan mendapat solusi dari jalan yang tidak disangka-sangka. Begitulah kemurahan Allah bagi hambanya yang berbekal taqwa.

Krisis multidimensi dialami bangsa ini, yang membuat seluruh pakar kesulitan dan bingung mengatasinya, sebenarnya kuncinya bisa diselesaikan melalui jalan takwa. Bagaimana bisa tahu? Allah sendiri yang berfirman, dalam surah Al-A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (الاعراف:٩٦)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Sahabat Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang takwa. Maka Ubay balik bertanya, “bagaimana sikap Anda, jika berjalan di sebuah tempat yang penuh onak dan duri?” Maka Umar menjawab, akan selalu berhati-hati dan waspada. Begitulah taqwa dalam hidup ini.

Taqwa adalah sikap waspada, hati-hati yang penuh dengan kesungguhan dalam meniti kehidupan, tak ubahnya seperti orang yang ingin selamat ke tempat tujuan dalam melintasi jalan yang penuh onak dan duri, jalan yang penuh rintangan.

Taqwa, menurut sebagian ulama, adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagian ulama yang lain mengatakan, takwa adalah sikap yang tidak pernah absen dalam setiap perintah Allah dan tidak pernah hadir dalam setiap larangan-Nya.

Sebagian lagi mengatakan, taqwa adalah melindungi diri dari siksa neraka dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ali bin Abi Thalib menjelaskan, takwa adalah takut kepada Allah, mengamalkan Al-Quran, bersyukur atas setiap rizkiyang Allah berikan dan bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Orang yang taqwa menyadari dan meyakini bahwa dirinya senantiasa dilihat, didengar, dan disaksikan oleh Allah yang Maha melihat, Maha-Mendengar dan Maha-Mengetahui, sehingga segala tingkah, perbuatan dan pemikirannya selalu sejalan dengan perintah-Nya.

Dengan melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, membiasakan diri melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintah Allah baik yang wajib ataupun yang sunnah, dan meningkatkan interaksi dengan Al-Quran, dengan banyak membacanya dan berupaya memahaminya.

Semoga kita semua bisa meraih derajat taqwa yang sebenar-benarnya sebagai bentuk ketaatan dan kecintaan kita kepada Allah, Rabb yang memelihara dan mencipta manusia dan alam semesta. (A/P2/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

=====
Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram "Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.