Mereka Tetap Salat di Masjidil Aqsa di Tengah Wabah Corona

Oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA

Dengan berjalan kaki, laki-laki lanjut lansia warga Yerusalem, Abdul Latif Sayyid tetap pergi ke Masjidil Al Aqsa setiap hari dari rumahnya di lingkungan Ras Al Amud di Yerusalem. Ia dan beberapa tetangganya tetap memakmurkan Masjidil Aqsa di tengah keputusan resmi pemerintah Otoritas Palestina di Ramallah untuk menutup masjid-masjid termasuk Masjidil Aqsa, sebagai tindakan pencegahan wabah virus Corona.

Ia sangat meyakini ayat-ayat Al-Quran, terutama Surat Al-Maidah ayat 51, yang menyebutkan, “(Katakanlah,) kepada mereka (“Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami) yaitu bencana. (Dialah pelindung kami) yang menolong dan yang mengatur urusan-urusan kami (dan hanya kepada Allahlah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Dengan keyakinannya yang mendalam akan perlunya terus memakmurkan Masjidil Aqsa, seperti ditekankan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Abdul Latif pergi ke tempat di mana ia selalu berada di sana selama empat dekade.

Mengenai hal itu, dia mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa Al-Aqsa tidak boleh ditinggalkan dan dievakuasi dari kaum Muslimin. Karena itu mungkin akan menjadi alasan bagi para ekstrimis Yahudi yang justru akan menyerbunya dan menodai kesucian masjid jika tanpa adanya jamaah.

Pasukan pendudukan pun bergerak untuk menutup beberapa pintu Al-Aqsa bagi jamaah. Pengumuman mengatakan, “Hanya ada satu pintu tetap bagi jamaah untuk masuk, mereka harus pergi melaluinya jika hendak ke dalam.”

Pengurus Masjidil Aqsa pun memuji kesadaran tinggi para jamaah untuk tetap datang ke masjid, walau harus shalat di luar ruangan utama. Para jamaah dengan kesadaran tinggi dalam upaya pencegahan virus corona, membawa sajadah dari rumah masing-masing dan alat sterilisasi mereka.

Sebagian lainnya menjadi sukarelawan kesehatan di gerbang masuk kompleks dengan mendistribusi sarung tangan dan mensterilkan tangan para jamaah. Sementara pengurus masjid mensterilkan seluruh ruangan masjid.

“Shalatlah di tempat masing-masing,” seruan azan di menara-menara masjid dinyatakan di semua gubernuran Tepi Barat, tak lama setelah keputusan Kementerian Wakaf Palestina dan Urusan Agama  menutup masjid untuk pencegahan penyebaran virus Corona.

Namun Kementerian Wakaf Yordania yang melindungi Masjidil Aqsa memutuskan khusus Masjidil Aqsa tetap dibuka bagi para jamaah untuk melakukan salat di luar masjid utama, untuk tetap mempertahankan kesinambungan salat di Al-Aqsa, dengan menjaga kesehatan dan keselamatan jamaah.

Najih Bakirat, Wakil Direktur Jenderal Wakaf Yerusalem mengatakan, langkah untuk menutup ruangan dalam Masjidil Aqsa datang untuk menjaga keselamatan para jamaah. Ia mengatakan, area 14,4 hektar dapat digunakan untuk salat dan berdoa, dengan pahala yang tidak berkurang dari salat di dalam ruang tertutup.

Eksploitasi Corona

Mengomentari polisi pendudukan Israel yang menutup beberapa pintu Masjidil Aqsa, Bakirat mengatakan bahwa pendudukan mencoba mengeksploitasi masalah virus corona untuk memperketat prosedur salat berjamaah.

“Lebih baik tetap membiarkan pintu terbuka bagi umat Islam yang sangat berhati-hati dan melindungi masjid mereka dan diri mereka sendiri dari penyebaran epidemi,” ujarnya.

Sejak awal krisis penyebaran epidemi corona di Palestina, Israel telah mencoba menggunakannya dalam berbagai bentuk menutup Al-Aqsa. Pada pertengahan Februari, kelompok-kelompok ekstremis Yahudi menyerukan larangan salat Subuh yang besar (al-Fajr al-‘Adzim) dengan alasan rentan untuk penyebaran epidemi.

Hal itu diperkuat pengumuman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyatakan laranganberkumpul lebih dari 100 orang.

Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Gilad Ardan juga meminta Dewan Keamanan Nasional untuk mencegah warga Palestina di Tepi Barat memasuki Al-Aqsa sehingga mereka tidak menularkan virus, setelah menemukan kasus pertama di Betlehem.

Ini terjadi beberapa jam setelah panggilan dari kelompok-kelompok Kuil untuk melakukan shalat Talmud di masjid untuk memerangi virus Corona.

Ratusan jamaah pun duduk di depan pintu gerbang yang ditutup, menuntut agar segera dibuka. Menghadapi pertemuan massal ini dan ketakutan lanjutan, polisi pendudukan pun menanggapi kondisi para penjaga dan membuka kembali semua pintu.

“Ini membawa kita kembali ke realitas sentral baru bahwa Yahudisasi dan pemisahan Masjid Al-Aqsa yang diberkati telah menjadi pusat tujuan pemerintah pendudukan Israel sejak kelompok kuil Yahudi ekstremis mencapai tingkat pengaruh tinggi pada pemerintah tahun 2013 di bawah naungan dan dukungan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” ujar warga.

Para jamaah pun, walau relatif berkurang signifikan, yang biasanya salat Jumat bisa mencapai 40 ribu hingga 50 ribu, sejak mewabahnya virus corona dan kampanye penutupan, tinggal 10 ribu jamaah.

Jamaah yang setia, dengan tetap memperhatikan fatwa dan keputusan untuk mencegah penyebaran epidemi, bagi mereka Masjid Al-Aqsa merupakan lambang perjuangan yang jauh lebih penting menghadapi pekerjaan pendudukan untuk membaginya.

“Ke depan, warga tentu tidak boleh mengosongkan Al-Aqsa, dengan tetap memperhatikan standar pencegahan,” sambut warga.

“Kami tentu menghadapi tantangan besar di mana tidak mungkin membiarkan Al-Aqsa berubah menjadi sarang infeksi. Namun kami juga tidak bisa meninggalkannya,” lanjut warga. Sumber : Al Jazeera. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)