Meretas Dakwah di Sungai Tengah Kalbar

Oleh Widi Kusnadi, wartawan MINA

Tulisan ini adalah cacatan perjalanan tim safari dakwah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Kalimantan Barat beberapa waktu lalu. Berikut tulisannya.

Pagi itu, cuaca Kota Pontianak cukup cerah. Dedaunan melambai-lambai diterpa semilir angin seolah mengajak manusia mengingat dan menikmati anugerah Ilahi akan indahnya dunia.  Hari itu, dua utusan Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor yaitu Ustaz Wahyudi KS dan Muhammad Ridwan Thalib mendapat amanah melakukan safari dakwah, menyantuni masyarakat, menguatkan akidah dan membangun karakter agar menjadi khaira ummah (ummat yang terbaik) sehingga bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Tepat pukul delapan pagi, setelah menunaikan zikir pagi, tim safari dakwah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dengan mendapat dukungan penuh dari wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) segera berkemas menuju Dusun Sungai Tengah, Kecamatan Paloh, Kab. Sambas untuk mengemban tugas mulia, berdakwah menyebarkan Islam yang Rahmatan lil Alamin.

Kabupaten Sambas merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia. Memang dakwah di wilayah perbatasan memerlukan perhatian serius. Selain hal itu selaras dengan program pemerintah yang memberi prioritas pembangunan untuk mereka, program dakwah ini juga sangat mendukung program pemerintah dalam rangka penyantunan untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM)nya.

Jika masyarakat di wilayah perbatasan memiliki aqidah, akhlaq dan karakter yang bagus, maka pembangunan akan berjalan lancar dan optimal. Itu semua membuat pertahanan dan ketahanan nasional semakin kuat sehingga infiltrasi kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kepribadian kita bisa dicegah.

Medan berat

Meski harus menempuh jalan terjal dan berliku, namun demi rasa cinta dan tanggung jawab mulia yang dipikul, tim ini sepakat untuk tetap istiqomah menempuh jalan itu hingga sampai di Sungai Tengah. Setidaknya untuk perjalanan darat harus ditempuh selama sembilan jam dari Pontianak menuju daerah itu. Dengan tekad yang kuat semata-mata berharap pertolongan Allah saja, tim itu terus bergerak melintasi medan yang cukup berat.

Tim Safari Dakwah yang dipimpin oleh Urai Salam mulai bergerak menuju Sungai Tengah. Karena perjalanan cukup jauh, maka di pertengahan, tim mampir sejenak untuk melaksanakan shalat Dhuha. Masjid Babun Na’im, Dusun Duta, Kecamatan Sui Kunyit menjadi pilihan mereka dalam sejenak beristirahat melepas penat.

Di masjid itu, tim berkesempatan berbincang dan berdiskusi dengan Imaam masjid, H. Jamani. Ia adalah Imam shalat Rhawatib di Masjid Babun Na’im. Ketika tim menyampaikan tentang persatuan umat, Jamani menyambut sangat antusias. Sejujurnya, ia juga menginginkan agar umat Islam di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya untuk bersatu dalam sebuah kepemimpinan Islam sehingga memiliki kekuatan yang disegani kawan dan ditakuti lawan sebagaimana pada massa Rasulullah dan para sahabatnya.

Tepat waktu zhuhur, tim menyempatkan mampir shalat berjamaah di Ponpes Al-Fatah, Singkawang. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sejangkung dan shalat Ashar di Masjid Nurul Jannah, Tanjung Bakau, Pemangkat, Sambas. Bakda shalat, Ustaz Wahyudi KS, menyampaikan taushiyah di hadapan Jamaah.  Lebih dari 200 jamaah sangat antusias menyimak paparan materi tentang Tiga Syarat Mendapat Rahmat Allah.

Syarat mendapat rahmat Allah

Ustaz Wahyudi KS menjelaskan, tiga hal itu yakni Iman, hijrah dan Jihad fii Sabiilillah. Iman sudah tentu menjadi syarat utama, karena tanpa iman, apapun yang kita lakukan akan sia-sia di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Keimanan bukan hanya diyakini di dalam hati dan diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam amal shaleh dan perbuatan mulia.

Adapun hijrah, memang sudah menjadi jalan para nabi dan rasul untuk meraih kemenangan, kesuksesan dan rahmat Allah dunia dan akhirat. Dengan niat hijrah yang benar, yaitu untuk berdakwah, melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, disertai dengan ketekunan dan istiqomah, Allah pasti akan memberikan rahmat-Nya berupa kemenangan dan kesuksesan.

Sedangkan jihad merupakan bentuk kesungguhan dalam melaksanakan hijrah dan membuktikan keimanan. Jihad di sini bukan diartikan perang, tetapi kesungguhan dalam menjalani perintah Allah hingga mendapatkan apa yang telah dicita-citakan.

Saat dibuka forum tanya jawab, ada sedikitnya 28 pertanyaan disampaikan kepada Ustaz Wahyudi KS. Pertanyaan cukup beragam, mulai dari masalah kesatuan umat, fiqih, ekonomi, dan masalah sehari-hari yang dihadapi masyarakat di sana. Tak terasa, waktu sudah tengah malam. Tim harus beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan esok hari.

Hari Jumat pagi, setelah kajian shubuh dan sarapan pagi, tim melanjutkan perjalanan menuju Sungai Tengah. Subhanallah, perjalanan yang terjal, berliku dan licin. Bukit batu, hutan dan lembah pun harus dilalui. Beberapa kendaraan berat yang terdiri atas bulldozer dan truk tanah berpapasan sepanjang perjalanan itu.

Satu ketika, menurut Ustaz Wahyudi, timnya menyaksikan sebuah truk tanah yang tak kuat naik, sehingga didorong oleh bulldozer sampai dapat melanjutkan perjalanan. Pembuatan jalan baru menuju Sungai Tengah, Kec. Paloh itu dilakukan dengan membelah beberapa bukit dan hutan, sehingga kiri kanan, banyak pohon tumbang, seolah bencana tsunami baru saja terjadi. Hingga menjelang shalat Jumat, tim sudah sampai di tujuan.

Allah bertanya empat hal

Dalam khutbah Jumat, Ustad Wahyudi, mengajak jamaah melakukan muhasabah (introspeksi) di akhir tahun Hijriyyah 1440 dan akan memasuki tahun baru 1441. Ada empat hal yang akan ditanya oleh Allah pada hari Kiamat nanti; umurnya dihabiskan untuk apa, ilmunya pada apa diamalkan, hartanya dari mana didapatkan, dan kemana dibelanjakan, serta jasadnya, digunakan untuk apa seluruh anggota tubuh ini.

Bertambahnya hitungan angka usia manusia pada hakikatnya berkurangnya jatah umurnya di sisi Allah. Sedangkan setiap detik dan menit, kita sedang berjalan menuju kematian, meninggalkan dunia dan menuju kehidupan abadi. Kecepatan waktu kita menuju maut adalah 60 detik per menit dan 60 menit per jam.

Setelah mengisi di beberapa masjid sekitar kecamatan Paloh, sebagai puncak acara adalah Tabligh Akbar sekaligus walimah pernikahan antara Messy binti Aswani dengan Said Ramadhan Al Fikri bin Said Salim. Acara itu dihadiri oleh lebih dari 400 tamu undangan termasuk para tokoh masyarakat setempat.

Ustaz Wahyudi dalam taushiyahnya menyampaikan hadits yang artinya, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan Al-Quran, dan akan menghinakan kaum yang lain juga dengan Al-Quran.” (HR. Muslim). Oleh karena sedemikian penting Al-Quran itu, maka sebagai follow-up dakwah, ponpes Al-Fatah berkomitmen memperkuat pondok di Sungai Tengah dengan mengirimkan para guru tahfiz yang akan mengajar Al-Quran kepada masyarakat, khususnya generasi muda di wilayah itu.

Semoga dengan adanya podok tahfiz di Sungai Tengah, masyarakat dapat menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk, panduan menuju masyarakat yang adil makmur sejahtera, baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur. (A/P2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)