Merkel Bela Kesepakatan Uni Eropa-Turki Tentang Pengungsi

Berlin, 14 Sya’ban 1437/22 Mei 2016 (MINA) – Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, kesepakatan pengungsi antara Turki dan Uni Eropa bertujuan utama untuk berbagi tanggung jawab dalam krisis migran.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Jerman Frankfurter Allgemeine Sonntagszeitung pada Ahad (22/5), Merkel membahas masalah pengungsi.

“Kesepakatan baru-baru ini antara Uni Eropa dan Turki bertujuan berbagi beban migran yang cukup serta melindungi perbatasan eksternal,” kata Merkel.

Menjawab pertanyaan, “Apakah Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan telah kecewa kepada Jerman terkait masalah pengungsi?”, Merkel menjawab “tidak”. Ia menegaskan bahwa ia telah mengenal Presiden Turki itu selama bertahun-tahun.

“Turki adalah mitra penting bagi Jerman,” katanya, demikian Anadolu Agency memberitakan yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Merkel juga mengatakan bahwa ia akan membahas masalah tersebut dengan Erdogan di KTT Kemanusiaan Dunia di Istanbul yang akan diselenggarakan pada Senin dan Selasa.

Sementara itu, krisis Suriah telah berkontribusi membuat lebih dari 850.000 pengungsi menyeberang dari Turki ke Uni Eropa pada tahun lalu. Kondisi itu mendorong pemerintah Ankara menyetujui kesepakatan untuk menerima migran yang dikembalikan dari negara-negara Eropa.

Kesepakatan tersebut termasuk Uni Eropa berjanji untuk menyumbangkan € 6 miliar ($ 6,8 miliar) untuk membantu pengungsi di Turki, mempermudah akses dan memberikan wisata bebas visa bagi warga negara Turki ke negara anggota Uni Eropa.

Sekitar 2,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negerinya sedang ditampung di kamp-kamp di Turki. Banyak pula pengungsi Suriah yang tinggal di kota-kota dan di tempat lain di Turki.

Konflik di Suriah telah memaksa lebih dari 4 juta warganya – seperenam dari penduduk negara itu – mengungsi mencari perlindungan di negara-negara tetangga. Menurut PBB, ini adalah krisis pengungsi terbesar dalam seperempat abad. (T/P001/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)