
Khaled Meshaal. (Foto: alquds)
Doha, 3 Dzulqa’dah 1435/29 Agustus, 2014 (MINA) – Kepala Biro Politik Hamas Khaled Meshaal mengatakan, gencatan senjata Palestina-Israel bukan hanya kemenangan perjuangan Gaza, namun merupakan kemenangan bangsa Arab dan Islam secara keseluruhan.
Akhbar Filistin seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA) menyebutkan, Meshaal menegaskan, kemenangan berkat perlawanan terus-menerus para pejuang Al-Qassam dan dukungan seluruh rakyat Palestina, katanya pada konferensi pers di Doha, Qatar, Kamis (28/8) malam.
“Ini kemenangan untuk Palestina dan bangsa Arab, serta kemenangan Islam keseluruhan,” tegas Meshaal.
Menurutnya, perlawanan yang dipimpin Al-Qassam, berjuang sepanjang waktu untuk mendapatkan kemenangan.
Baca Juga: Hari Paling Mematikan Dalam Dua Pekan, Israel Bunuh 77 Warga Gaza
Untuk itu, ia meminta negara-negara Arab berpartisipasi mengrimkan bantuan langsung dalam perbaikan pembangunan kembali Jalur Gaza.
Meshaal menekankan, secara moral perlawanan Gaza telah mencapai kemenangan dalam menghadapi kejahatan Israel, walau pun ribuan warga Gaza tak berdosa menjadi korban serangan.
Selanjutnya, pihaknya tetap mengawal kesepakatan gencatan senjata, terutama beberapa hal tersisa yang masih dipersoalkan pihak Israel dan belum dipublikasikan, seperti dibukanya blokade atas bandar udara, pelabuhan laut, dan pertukaran tahanan.
Menurut pihak Hamas di Jalur Gaza, masih ada satu tuntutan tersisa lainnya dalam gencatan senjata, yaitu diperbolehkannya warga Gaza untuk shalat berjama’ah di Masjid Al-Aqsha. Jarak dari perbatasan Gaza ke Masjid Al-Aqsha sekitar 50 km.
Baca Juga: Arab Saudi Kecam Serbuan ke Al-Aqsa oleh Ben-Gvir
Poin-Poin Gencatan Senjata
Ada pun poin-poin kesepakatan gencatan senjata Gaza, yang dimediasi Mesir dan berlaku sejak Selasa pukul 19.00 waktu Gaza (sekitar 23.00 WIB), seperti disebutkan At-Taqrir, secara garis besar ada tujuh butir.
Pertama, Hamas dan faksi-faksi perlawanan lainnya di Jalur Gaza menghentikan penembakan roket ke kawasan Israel.
Kedua, Israel setuju untuk menghentikan semua operasi militer, termasuk serangan udara dan operasi darat ke Jalur Gaza.
Baca Juga: Israel Perluas Operasi Militer di Jalur Gaza
Ketiga, Israel sepakat membuka lintas perbatasan dengan Gaza secara permanen untuk memungkinkan distribusi barang, termasuk bantuan kemanusiaan dan peralatan sektor rekonstruksi, termasuk semen dan bahan bangunan lainnya.
Keempat, Israel setuju mengurangi daerah terlarang atau zona penyangga keamanan ke dalam batas-batas Jalur Gaza dari 300 meter menjadi 100 meter, sebulan setelah gencatan senjata, dan memungkinkan warga Palestina mencapai lebih luas lahan pertanian di dekat perbatasan, di mana Israel mencegah akses karena telah menciptakan suatu daerah penyangga untuk alasan keamanan.
Kelima, Mesir sepakat untuk membuka perbatasan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir di bawah tanggung jawab Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas.
Keenam, Pimpinan Otoritas Palestina untuk mengkoordinasikan upaya rekonstruksi di Gaza dengan donor internasional, termasuk Uni Eropa, dan menyelenggarakan konferensi donor internasional.
Baca Juga: Brigade Al-Quds Tembakkan Roket ke Permukiman Israel
Ketujuh, Israel setuju untuk memperluas wilayah pencarian ikan di lepas pantai Gaza 6 mil, dari sebelumnya 3 mil, dan secara bertahap diperluas jika gencatan senjata berjalan lancar, hingga skala internasional, sejauh 12 mil. (T/P4/R05).
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: Jurnalis Radio Suara Al-Aqsa di Gaza Syahid Bersama Keluarganya