Mewaspadai Pemutus Segala Kenikmatan

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Kematian selalu datang tanpa diundang. kematian selalu datang tanpa diketahui. Bisa jadi kematian itu mendatangi orang-orang yang kita kenal, keluarga kita, sahabat kita, guru kita atau bahkan kematian itu sedang mengintai kita. Maka sebagai seorang yang bertauhid, wajib bagi kita untuk selalu mewaspadai kematian itu dengan menyibukkan setiap amal kita dalam bingkai ibadah lillah.

Kematian adalah pemutus segala kenikmatan duniawi. Tak satupun dari kenikmatan dunia akan dirasakan bagi orang yang sudah mati. Karena kematian itu adalah pemutus segala kenikmatan, maka betapa banyak orang yang takut menghadapi kematian. Terlebih jika ia tahu dirinya belumlah siap untuk menghadapi kematian itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Nasehat diri

Wahai diri, kematian pasti akan datang menghampirimu, cepat atau lambat. Lalu, selama ini apa saja amal ibadah yang sudah kau persiapkan untuk menanti kematianmu?

Wahai diri, jangan buat dirimu terlena dengan segala kemegahan semu dunia. Berhati-hatilah sebab jebakan dunia itu pasti akan membuatmu diperdaya dan lelah. Dunia ini bukan tempat tinggal tapi ia tempat meninggal.

Wahai diri, ingatlah setiap perkataan, perbuatanmu di dunia ini kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Hakim yang Maha Adil. Dia kelak akan membongkar semua aib yang dulu kau sembunyikan di dunia. Maka berhati-hatilah.

Wahai diri yang selalu lalai dari kematian, perbanyaklah bergaul dengan orang-orang sholeh, beramal sholeh, dan senantiasa menuntut ilmu agar kelak saat kematian itu menghampirimu, maka kau akan mati dalam keadaan husnul khatimah.

Wahai diri yang selalu mengikuti hawa nafsu, segeralah bertaubat kepada Allah atas segala kebakhilanmu, kejahilan dalam agamamu, kebusukan sifatmu pada sesama. Perbanyaklah istighfar. Membaca sholawat Nabi SAW. Dan selalulah berbuat kebaikan setiap saat, setiap momen, kapan dan di manapun kau berada.

Wahai diri, perbanyaklah sedekah walau hanya sebutir kurma, seutas senyum di bibir. Jangan simpan hartamu karena kelak ia akan menjadi pemberatmu saat hari perhitungan itu datang. Segeralah buat tabungan akhiratmu melebih tabungan uangmu yang ada di dunia.

Perhatikanlah nasehat para sahabat dan ulama tentang kematian ini. Abu Darda pernah berkata, “Jika mengingat mati, maka anggaplah dirimu akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmu.”

Lalu perhatikan bagaimana nasehat seorang ulama bernama Ar Robi’ bin Khutsaim saat mengingat kematian. Dia pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,

رَبِّ ارْجِعُونِ  لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada dirinya, “Wahai Robi’, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati)! Beramallah …”

Ya Rabbi, betapa indah nasehat para ulama di atas dalam mengingat kematian. Mereka bukan hanya membaca nasehat dari al Qur’an dan al Hadits. Ada di antara mereka yang menasehati dirinya tentang kematian dengan sengaja menggali kubur di dalam rumahnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Hampir setiap waktu ada saja kabar kematian yang kita dengar, tapi sudahkah kematian demi kematian itu menjadi nasehat berharga bagi kita?

Ataukah hati kita sudah beku sebeku es batu? Sehingga setiap kali ada kematian, di sekitar kita, bahkan kita sendiri ikut mengantar jenazahnya kepemakaman, tapi tak mampu membuat hati kita sadar dan takut kalau-kalau kelak kematian itu akan menghampiri kita?

Inilah hikmah ingat mati

Setidaknya dengan banyak mengingat kematian, ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik untuk dijadikan pelajaran berharga.

Pertama, mengingat kematian termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

Ketiga, mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena  mengetahui bahwa ia akan menjadi mayat kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya di dunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban sebaik mungkin.

Keempat, mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

Kelima, mengingat kematian membuat kita tidak akan berlaku zhalim. llah Ta’ala berfirman,

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.”  (Qs. Al Muthaffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zhalim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zhalim seperti itu.

Mari cerdaskan akal kita dengan cerdas sebenarnya, yakni memperbanyak mengingat kematian. Persiapkan bekal sebaik dan sebanyak mungkin. Perbanyaklah muhasabah dengan cara menghisab segala aib diri. Dengan begitu, semoga kelak saat kematian itu datang Allah wafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)