Mimpi Naik Haji (Oleh: Arief Rahman)

Dari sekian banyak kata bijak (quotes), Stephen R. Covey di dalam buku PeoThe Seven Habits of Highly Succesful  people,  ada sebuah quotes  yang cukup menarik dan dapat menjadi salah satu motivasi perubahan dalam diri setiap pembacanya yaitu; Live out your imagination, not your history. Terjemahan bebasnya adalah hidupkanlah imajinasimu, bukan sejarahmu.

Hal yang mendasari quotes tersebut adalah karena sering kali setiap kita berfikiran bahwa hidup ini ditentukan berdasarkan sejarah yang telah dibuat sebelumnya. Bila kita memiliki kegagalan pada masa lampau maka masa depan tidak akan dapat kita capai.

Inilah yang sering terjadi pada sebagian dari masyarakat kita, mereka tidak memiliki impian. Mereka tidak mampu untuk bermimpi tentang hidup dan kehidupan. Bahkan ada yang takut untuk bermimpi. Padahal memiliki mimpi yang baik akan memberikan vitamin dalam diri  dan mendorong terwujudnya sebuah cita cita.

Memulai Mimpi

Coba kita  membayangkan/bermimpi/berimajinasi sejenak. Sejenak saja dalam keseharian aktifitas dunia kita yang sangat melelahkan. Pun bila sedikit waktu yang kita luangkan ini anggaplah tidak bermanfaat setidaknya kerugian materil maupun imateril tidak akan kita hadapi. Bagaimana? Siap?

Lalu apa yang akan kita bayangkan? Pertanyaan selanjutnya. Sebentar, ada proses yang harus kita lalui. Coba kita tutup mata kita, namun sebelumnya tarik nafas dalam-dalam. Hirup udara lewat hidung dan keluarkan lewat mulut dalam tempo yang normal. Lakukan tiga kali. Tarik nafas dalam dalam kemudian lepaskan…….Sudah siap.

Mari kita tutup mata kita. Yah gelap, itu biasa. Mencoba untuk tenang.  Nikmati kegelapan tersebut dengan perasaan yang tenang. Setelah kita menikmati ketenangan dalam kegelapan, kita mulai perjalanan bayangan kita.

Hadirkan dalam gelap kita, sebuah fragmen di mana kita membuka mata dan di hadapan kita saat ini adalah sebuah bangunan besar berbentuk kubus (kotak) yang berwarna hitam. Hitam terbungkus selimut yang tebal, di mana di bagian atasnya terdapat tulisan rajutan emas. Tulisan tersebut tidak terlalu jelas, namun kita tahu itu adalah tulisan bahasa Arab.

Sementara itu sayup-sayup terdengar suara. Yah itu suara orang berdoa. Doa orang-orang yang mengelilingi bangunan hitam tersebut. Mereka ada yang menggunakan baju biasa. Namun yang paling banyak adalah mereka yang menggunakan pakaian serba putih. Laki-laki maupun perempuan. Laki-laki menggunakan pakaian putih tersebut dengan bagian atas terbuka dibagian lengan kanan sementara peremuan menggunakan pakaian putih saja menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali muka dan tangannya. Mereka bergerak teratur mengelilingi bangunan hitam tersebut sambil menggumamkan suara. Suara doa yang terpanjatkan seiring dengan perputaran mereka. Oh ya kita mendengar lantunan doa yang familiar, Rabbana Aatina Fiddunnya Hasanah Wa Fil Aakhiroti Hasanah Wakina ‘azabannaar.

Apa Reaksi Setelah Bermimpi

Sampai di sini sudahkan kita tersadar… kita berada di mana? Yah betul….kita berada di dalam Masjidil Haram. Kita sudah berada di depan Ka’bah. Bagaimana reaksi kita? Biasa saja? Sedih dan hampir menangis? Atau kita belum tersadar? Tersadar atas gambaran bayangan yang kita hadirkan berada di dalam Masjidil Haram.

Bagi kita yang merasakan biasa saja, ada baiknya cek ke dalam diri, mengapa respon kita sedemikian biasa. Sementara di hadapan bayangan kita, sebuah bangunan yang menjadi saksi sejarah sebuah pengorbanan cinta seorang makhluk Tuhan bernama Ibrahim alaihi salam yang juga sangat mencintai keluarganya. Namun kecintaan terhadap keluarganya tidak menjadikan dirinya lupa akan sebuah dzat yang paling dicintainya yaitu Sang Pencipta. Itulah cinta Ibrahim. Nabi yang memiliki derajat khusus bersama beberapa nabi yang lain dengan gelar Ulul Azmi.

Kembali kepada reaksi yang lainnya. Bagi yang sedih dan menangis, artinya kita sudah sadar akan keberadaan kita. Kita berada dalam sebuah bangunan yang memiliki banyak keutamaan. Keutamaan dalam kabulnya doa-doa yang dipanjatkan di area tersebut. Sebuah tempat yang menjadi dambaan bagi sebagian besar umat Islam. Tempat yang kita menjadi tenang di dalamnya maupun tempat yang menjadikan dada ini berguncang karena haru diiringi mengalirnya air mata dan  tidak sengaja kita bergumam memanjatkan doa….. Ya Allah…Tuhan penguasa alam dan seisinya sampaikanlah kami ke dalamnya….sampaikanlah kedua orang tua kami  dan juga anak cucu kami…untuk beribadah di dalamnya..Amin.

Cukup..sekarang kita buka mata kita. Sudah sadarkah kita? Sadar akan sedemikian rindunya kita dengan bangunan tersebut. Bangunan yang menjadi fokus arah di saat kita shalat. Bangunan yang menjadikan berkumpulnya umat muslim dari seluruh penjuru dunia. Bangunan yang menjadi simbol dalam prosesi ritual haji dan umroh di mana mengelilingi Ka’bah menjadi salah satu rukun di dalamnya.

Pertanyaannya, seberapa seringkah kita menghadirkan gambaran tersebut dalam mimpi dan bayangan kita. Sekedar untuk memberikan semangat akan kesungguhan kita agar bisa hadir secara nyata di tempat tersebut? Bagaimana bisa, kita rindu namun kita tidak mampu sekadar membayangkannya? Apakah sedemikian mahalnya membayangkan hadir di Tanah Suci? Sedemikian tidak sempatnya kita membayangkan sebuah mimpi besar untuk menemui Nya di muka bumi..karena keagungan dan mukzizat ada di dalamnya, sementara berbagai manfaat besar baik dunia maupun akhirat akan kita dapatkan dengan kehadiran kita di tempat tersebut.

Yah memang,  sesungguhnya Allah SWT akan memampukan yang memanggilNya, bukan memanggil mereka yang terlihat mampu namun tidak pernah memanggilNya.

Labbaik allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik……

Wallahua’lam bishawab….

(A/AR/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)