Misi Kemanusiaan, Sabar Terhadap Ketidakpastian

Oleh: Nurhadis, Wartawan MINA

Armada Freedom Flotilla Coalition (FFC) semula akan berlayar pada 14 April 2024 dari Istanbul, Turkiye. Namun, dikarenakan masalah teknis di kapal yang belum selesai diperbaiki, keberangkatan akhirnya ditunda hingga Ahad, 21 April.

Pada Sabtu (20/4) sore, panitia kembali mengumumkan terpaksa harus menunda keberangkatan hingga Rabu (24/4) karena pemerintah Turkiye belum memberikan lampu hijau kepada tiga kapal yaitu Akdeniz, Anadolu, dan Vicdan (kapal kargo) untuk berlayar membawa 5.500 Ton bantuan bersama 1.200 relawan dari 40 negara untuk menembus blokade Gaza.

Selasa (23/4) malam waktu Istanbul, panitia kembali mengumumkan hasil pertemuannya dengan pemerintah Turkiye pada sore harinya. Panitia akan menunda kembali pelayaran melintasi laut Mediterania hingga dua hari ke depan, pada Jumat (26/4).

Sesaat sebelum mengumumkan keputusan panitia mengenai jadwal keberangkatan, suasana di meeting room tegang saat seorang relawan asal Inggris, Aaron berteriak sembari menggebrak-gerbak meja meminta panitia segera mengumumkan keputusan apakah FFC ini akan berangkat atau ditunda lagi.

Pertemuan memang diawali dengan menyanyikan yel-yel. Niat teman-teman relawan sebenarnya memantik yang lain untuk tetap semangat, apalagi ada di antara mereka yang telah berada lebih dari dua pekan di Istanbul. Namun, hal ini diartikan lain oleh Aaron.

Baca Juga:  Dua Drone Irak Targetkan Komplek Zionis di Palestina

Dia menggebrak-gebrak meja sambil berteriak, “Kita harus segera berangkat ke Gaza, kita enggak perlu nyanyi-nyanyi seperti ini!” teriaknya. Beberapa teman memegangi Aaron agar tetap tenang, tetapi dia kemudian memilih keluar dari ruang pertemuan.

Suasana kembali tenang saat beberapa alumni Mavi Marmara bercerita bahwa misi seperti ini memang sulit diprediksi perubahannya. Pada 2010, jadwal keberangkatan juga harus tertunda hingga dua pekan.

Memang, beberapa relawan sejak dua hari ini mengeluhkan penundaan ini dalam obrolan dengan relawan lainnya. Tidak bisa disalahkan juga, karena mereka punya berbagai program lain yang harus dijalankan. Ada juga yang harus kembali ke tanah airnya karena mendapatkan tekanan dari pemerintahnya untuk tidak ikut dalam misi ini.

Satu-satunya relawan asal Brunei Darussalam yang ikut dalam misi Freedom Flotilla dari lembaga kemanusiaan Wecare, Muhammad Samira Razin pun harus kembali ke Brunei Senin (22/4). Samira telah berada di Istanbul sejak 12 April dan dia mengatakan bahwa masa cutinya telah habis. Ada beberapa program yang telah direncanakannya di Tanah Air.

Teringat misi menembus Gaza pada 2022 melalui jalur penyeberangan Rafah, saya juga harus tertahan selama 46 hari di Mesir karena tidak diizinkan masuk. Belakangan diketahui, Mesir memang sedang memperketat relawan untuk masuk saat itu. Relawan dari negara lain pun tidak bisa masuk ke Gaza.

Baca Juga:  Di Tengah Konflik, Muslim Rohingya Diusir, Rumah pun Dibakar

Kemarin, mengobrol santai sambil makan siang bareng alumni Mavi Marmara 2010, Usama Qasoo asal Inggris, usai panitia mengumumkan penundaan kembali keberangkatan FFC. Dia berkata, “Beginilah perjalanan dalam misi kemanusian Palestina, tidak ada kepastian. Kapan kamu akan berangkat, kapan pulang, kapan ditangkap, atau kapan mati.”

Itu sama seperti yang saya rasakan saat 2022 belum berhasil masuk ke Gaza melalui Rafah.

Berbagai macam pertanyaan bergelayut di pikiran, apakah misi ini akan berjalan sesuai rencana, diundurkah, atau bahkan tidak jadi berlayar sama sekali? Apakah nanti akan berhasil menembus blokade Gaza? Adapun kemungkinan armada ini akan dihadang oleh Israel sudah barang tentu dapat terjadi. Al-Jazeera mengutip dari media Israel mengatakan, militer zionis telah bersiap dan melakukan simulasi penghadangan terhadap kapal yang akan memulai pelayarannya dari Istanbul ini.

Tidak ada yang pasti memang, sebagaimana tidak pastinya kehidupan saudara kita di Gaza yang sudah memasuki hari ke-200 sejak aksi perlawanan pejuangnya pada 7 Oktober 2023, yang kemudian diikuti serangan membabi buta zionis Israel terhadap warga sipil Gaza yang telah mengakibatkan 34.151 orang syahid, dan 77.084 luka-luka.

Tidak ada jaminan buat mereka apakah besok bisa makan, karena Israel menutup semua pintu bantuan untuk masuk mencapai warga Gaza. Namun dengan situasi seperti itu, warga Gaza tetap teguh dalam menjaga marwahnya dan dalam setiap ucapannya, selalu bergantung kepada Allah dalam setiap langkah.

Baca Juga:  Alasan Manusia Wajib Beribadah

Lelah menunggu kepastian keberangkatan, sudah diundur tiga kali dan tidak juga ada jaminan dua hari lagi kapal akan benar-benar berlayar, sementara sudah dua pekan meninggalkan keluarga di rumah, belum lagi biaya akomodasi yang semakin bertambah, sementara dana operasional dari kantor Jakarta terbatas hingga harus masak sendiri di penginapan untuk menghemat biaya makan.

Semua pengorbanan di atas, mulai dari waktu, tenaga, pikiran, dana, keluarga yang ditinggalkan, belum sebanding dengan apa yang secara teguh dikorbankan oleh saudara kita di Palestina untuk menjaga kiblat pertama umat Islam, Al-Aqsha di negeri para Nabi, Palestina.

Kami memang selalu diingatkan oleh Imaam Yakhsyallah Mansur, untuk tetap istiqomah dan terus berdoa. “Tugas kita berusaha maksimal, adapun hasil ada di tangan Allah dan sudah tercatat di Lauhul Mahfudz,” pesannya.

Sabar, ikhlas, tawakkal kepada Allah. Bismillah, semoga Freedom Flotilla ini segera berlayar, dan kami ber-enam dari Indonesia bisa ikut serta bersama 1.000 lebih aktivis dalam misi membuka blokade berkepanjangan terhadap Gaza Palestina yang warganya saat ini mengalami kelaparan. Al-Aqsha Haqqunaa…!

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: hadist

Editor: Rudi Hendrik