MISKIN BUKAN HALANGAN UNTUK BERHAJI

Oleh: Illa Kartila – Redaktur Mi’raj Islamic News Agency/MINA

Calon jemaah Haji. (FOTO ANTARA/Septianda Perdana)
Calon jemaah Haji. (FOTO ANTARA/Septianda Perdana)

Menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci ternyata tidak selalu karena memiliki uang banyak – jika ada niat, tekad kuat, doa serta usaha yang sungguh-sungguh dan tentunya atas izin Allah SWT – seperti yang dilakukan beberapa orang kecil ini – pastilah ada jalan menuju Mekkah.

Sunaryo misalnya, kuli Panggul di Pasar Bendungan, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta itu menyisihkan penghasilannya yang tidak seberapa dan tekun menabung selama 15 tahun agar dia bisa menunaikan ibadah haji.

Sebagai buruh, dia hanya mendapat upah Rp1.000 hingga Rp2.000 untuk mengangkut barang seberat 25 hingga 50 kilogram. Namun dalam sehari, dia mampu menabung Rp10 ribu.
Pria yang akrab disapa Sunar ini akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci bersama rombongan jemaah haji Indonesia tahun 2015 ini.

Lelaki sederhana berusia 53 tahun ini berulang kali mengucapkan rasa syukur ketika ditanya soal perjuangannya untuk naik haji. Pada awalnya dia sadar betul adalah hal yang mustahil bagi kuli panggul seperti dirinya untuk pergi haji. “Dari mana uangnya?”.

Pertanyaan seperti itulah yang selalu berputar-putar dalam fikirannya. Namun, dukungan keluarga membuat Sunar bertekad bulat untuk menabung. “Setiap hari harus saya sisihkan Rp10 ribu untuk tabungan haji. Sisanya buat kebutuhan keluarga.”

Upaya luar biasa untuk dapat menunaikan ibadah haji dilakukan seorang wanita tua perajin tikar pandan, Rosna Sultan Ibrahim (85) dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Bermodalkan uang yang ditabungnya selama separoh dari usianya, wanita ini berhasil mewujudkan impiannya – berhaji ke Tanah Suci.

Rosna, warga belakang Pasar Lasi, Jorong Gobah Ateh ini merupakan calon jamaah haji tertua di Kabupaten Agam. Penghasilan dari usaha kerajinan yang ia tekuni memang tidak seberapa, namun perempuan baya ini tetap berusaha sekuat hati agar dapat menunaikan niat sucinya menjalankan rukun Islam yang kelima.

Dia mengaku sudah 45 tahun hidup berhemat dan menabung, tepatnya sejak tahun 1970 silam. Baru tahun ini ia bisa melunasi ongkos naik haji dan berkesempatan menunaikan ibadah haji. Awalnya, Rosna berniat menunaikan ibadah haji bersama suaminya, namun pasangan hidupnya itu meninggal dunia.

Ditinggal suami, tidak membuat niat Rosna surut. Dia terus berusaha bekerja mengayam tikar pandan termasuk untuk menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Walau hidupnya pas-pasan, dia tetap menyisihkan sebagian rezekinya dengan menitipkan uangnya kepada tukang kredit di kampungnya.

Uang yang terkumpul di tukang kredit itulah yang kemudian disetor ke bank untuk biaya naik haji. “Dulu saya menabung uang 10 ribu atau 5 ribu ke tukang kredit, kalau sudah terkumpul 100 atau hingga 300 ribu baru saya antar ke bank, tapi kadang uang yang ditabung itu juga dipakai untuk keperluan lain yang mendesak.”

Rosna yang terdaftar di Kloter 5 Embarkasi Padang, hari Rabu (26/8) bersama rombongannya berangkat ke Tanah Suci.

Tenda di Arafah, (Foto: berhaji.com)
Tenda di Arafah, (Foto: berhaji.com)

Hasil Kebun Tebu

Hasil panen dari kebun tebu, juga memberangkatkan perempuan baya, Martining (95 tahun) asal Desa Bakalan, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur ke Mekkah untuk menunaikan ibadah pada musim haji 2015.

Puluhan tahun wanita ini memendam keinginan untuk menunaikan ibadah haji dan baru terwujud setelah mengumpulkan uang hasil jerih payahnya dari pengelolaan kebun tebu, sejak tahun 2005. Lima tahun kemudian Martining memberanikan diri mendaftar sebagai nasabah tabungan haji.

“Saya senang. Setiap kali panen, uang dititipkan ke cucu saya,” kata nenek lima cucu ang terdaftar dalam Kloter 36 bersama 40 jamaah haji dari Kabupaten Malang. Dia dijadwalkan berangkat untuk menunaikan ibadah haji pada 5 September 2015 mendatang bersama keponakannya.

Perjuangan keras untuk menunaikan ibadah haji juga dilakukan pasangan suami-isteri (pasutri) pemulung – Miran (60 tahun) dan Dasih (55 tahun) – asal Desa Kedungsumber, Kecamatan Sugio, Lamongan.

Impian pasutri yang sehari-hari memungut rongsokan ini untuk pergi ke Tanah Suci akhirnya terkabul, setelah mereka menabung selama 20 tahun. Lima tahun lalu mereka memantapkan diri untuk mendaftar sebagai calon jemaah haji. Awal September 2015 mereka dijadwalkan ikut kelompok terbang ke Mekkah.

Pertengahan Agustus rumah berdinding papan milik Miran yang terletak jauh di pelosok desa, ramai didatangi tetangga. Di depan rumah telihat sepeda tua dengan gerobak anyaman bambu – kendaraan yang digunakan mereka berkeliling setiap hari untuk mencari rongsokan.

Berangkat pk.07.00, keduanya biasa menyusuri sejumlah desa di Lamongan untuk mencari rongsokan di rumah-rumah warga. Barang bekas tersebut tidak diminta, melainkan ditukar dengan bawang merah. Sayangnya, sejak dua tahun lalu Miran terkena penyakit sesak nafas, sehingga Dasih harus bekerja sendiri.

Panas terik matahari dan guyuran hujan tak menyurutkan langkah pasutri ini untuk bekerja lebih keras lagi. Keduanya biasa mendapatkan penghasilan Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per hari. “Alhamdulillah, akhirnya bulan depan kami bisa berangkat haji,” kata Dasih.

Lain lagi kisah Tukiyem (52) yang selama 37 tahun mengabdi sebagai pembantu rumahtangga pada keluarga Iriana. Di usia senjanya, di musim haji tahun lalu ia berkesempatan menunaikan ibadah haji dengan dibiayai oleh majikannya.

Hari itu Tukiyem terlihat sibuk memasukan beberapa baju dan perbekalannya selama di Tanah Suci ke dalam sebuah koper besar. Selesai dengan kegiatan tersebut, dia lantas dipanggil majikannya untuk membereskan beberapa pekerjaan rumah tangga.

Dengan cekatan, ia langsung menuju dapur kotor dan mencuci piring lalu melanjutkan menyapu halaman tengah. Pekerjaan itulah yang dilakoni permpuan asal Banyuwangi setiap hari.
Dia yang tetap hidup melajang mengaku senang bisa berhaji. “”Saya senang bisa sowan ke rumah Allah.”

Dia menganggap pekerjaannya sebagai pembantu rumahtangga sebagai pengabdian. Puluhan tahun ikut keluarga Iriana, Tukiyem sudah dianggap sebagai saudara dekat. Bahkan ketiga anak Iriana memanggil Tukiyem dengan sebutan mamak.

Perjalanan haji yang diberikan keluarga Iriana kepada pembantunya, dianggap sebagai balas budi. Selama puluhan tahun Tukiyem mengabdi, termasuk ikut membantu majikannya merawat ibundanya yang kini telah berpulang.

Puncak Haji Wukuf di Arafah

Pada 21 Agustus Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melepas secara serentak calon jemaah haji di 11 embarkasi. “Hari ini kami lepas 4.458 calon jemaah haji. Mereka serentak berangkat dari 11 embarkasi. Khusus di embarkasi Jakarta Pondok Gede ini kami memberangkatkan 39 kloter.”

Kuota normal jemaah haji Indonesia adalah 211 ribu orang, terdiri dari 194 ribu kuota jemaah haji reguler dan 17 ribu kuota jemaah haji khusus. Namun karena ada kebijakan pemotongan kuota sebesar 20% untuk seluruh negara pengirim jemaah haji, sejak tahun 2013 kuota jamaah haji Indonesia menjadi 168 ribu, terdiri dari 155.200 kuota haji reguler dan 13.600 kuota haji khusus.

Terkait dengan selesainya perluasan Masjidil Haram, kuota jamaah haji Indonesia akan normal kembali menjadi 211 ribu pada musim haji 2016. Pemerintah juga telah mendistribusikan jumlah kuota untuk tiap daerah atau embarkasi. Pemenuhan kuota bergantung pada pelunasan biaya haji oleh para calon jamaah.

Kepada para calon jemaah haji yang dilepasnya, Menag berpesan agar lebih mengutamakan menjaga kondisi tubuh. “Jangan sampai sebelum terbang sudah jatuh sakit. Juga setiba di sana, khususnya jemaah lanjut usia (lansia) tolong jangan memaksakan diri melaksanakan ibadah-ibadah sunnah di luar kemampuan.”

Puncak ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah. Kalau menjelang wukuf nanti kondisi calon jemaah haji tidak baik maka dapat mengganggu pelaksanaan wukuf di Arafah. Akibatnya, ibadah haji bisa saja tidak mabrur. (R01/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0