MUI Diskusikan Strategi Kecerdasan Buatan untuk Dakwah

Jakarta, MINA – Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar diskusi kelompok terarah (FGD) tentang ‘Kaitan Artificial Intelligence (kecerdasan artifisial -AI) dengan Dakwah Islam’ yang dilakukan secaa virtual.

“AI adalah kecerdasan buatan yang didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah, saatnya para dai mengetahui dan dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan modern termasuk AI,” demikian Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis mengatakan dalam keterangan persnya, Sabtu (6/3).

“Juga supaya para dai dapat menanggulangi dampak negatif AI, sekaligus memanfaatkan AI untuk membuat strategi dakwah yang efektif,” tambahnya.

FGD ini mengundang pakar AI dari ITB Prof Bambang Riyanto Trilaksono, Dr Anto Satrio Nugroho dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan praktisi dakwah KH Wahfiudin Sakam. Dipandu oleh Dr Hayu Prabowo dari MUI sebagai inisiator FGD tersebut.

“Karena itu, FGD sangat penting dipahami para dai. Kita harus membentengi diri kita dari pencurian data melalui AI,” katanya

Ia juga menegaskan, dai harus memperhatikan perubahan masyarakat akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Ahmad Zubaidi mengatakan, umat Islam harus memanfaatkan AI untuk kepentingan dakwah dan mempermudah mencari solusi keagamaan.

“Umat Islam jangan hanya menjadi sasaran kecerdasan buatan atau AI, terlebih lagi jangan sampai AI digunakan untuk kepentingan yang merugikan umat Islam,” kata Ahmad.

Ia menyampaikan, diskusi ini bertujuan untuk memberi pengetahuan para dai tentang perkembangan kecerdasan buatan sebab AI juga memiliki kaitan erat dengan dunia dakwah.

“Mengingat AI sebagai teknologi maka kecerdasan buatan ini bebas nilai, artinya tergantung siapa yang memanfaatkannya,” kata Ahmad Zubaidi.

Ia menjelaskan, AI atau kecerdasan buatan adalah mesin yang sangat canggih buatan manusia berdasar kepada kumpulan data besar yang dikumpulkan. Dari kumpulan-kumpulan data tersebut, mesin AI dapat mengambil keputusan sebagaimana manusia mengambil keputusan. Bahkan saat ini mesin dengan basis AI sudah dapat mengalahkan manusia dalam suatu hal.

“Untuk itu kegiatan dakwah Islam harus mulai memperhatikan AI. Dengan AI seorang dai dapat mengenali karakter mad’unya atau objek dakwahnya,” ujarnya memberi misal.

Ia mengingatkan, dunia bisnis bisa memanfaatkan AI untuk mengenali konsumennya. Maka demikian juga dalam dunia dakwah, dai harus mengenali objek dakwahnya. (R/R4/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)