MUI Selenggarakan Webinar Internasional

Jakarta, MINA – Dalam upaya mendiseminasikan lebih luas dan mempromosikan konsep “Islam Wasathiyyah” Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Dewan Pusat MUI menyelenggarakan Webinar Internasional dengan tema “Konsep Islam Wastahiyyah: Nilai, Prinsip, Indikator dan penjelasannya”  Sabtu (26/6), dengan mengundang para pakar dan ulama baik dari dalam negeri, maupun dari luar negeri.

Webinar ini dibuka oleh Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim (Ketua MUI yang membidangi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional), dan menghadirkan para narasumber Prof. Dr. Fazal Ghani Kakar (Founder NUA and member of the Shura Committee of NUA and Head of NEDCO Afghanisan), Syaikh Dr. Aziz Al-Kubaity al-Idrisi al-Hasani (Maroko), Prof. Dr. Sekar Ayu Aryani (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Prof. Masykuri Abdillah (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Baca Juga:  IRI-BRGM Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalisme untuk Komunitas Agama

Prof. Sudarnoto mengatakan, program wasathiyah Islam sangat penting dalam upaya mencegah radikalisme dan intoleran di tengah berkembangnya ekstremisme dalam memahami ajaran agama (al-tatharruf fi al-tadayyun), demikian keterangan yang diterima MINA.

Menurutnya, sikap ekstrim dalam beragama ini telah dirasakan semakin mengkhawatirkan terutama karena telah mengoyak ukhuwah dan persatuan baik antar umat beragama, maupun di internal umat Islam.

“Peristiwa pembunuhan yang terjadi di kota London, Kanada, yang menewaskan keluarga muslim adalah contoh nyata bentuk Islamofobia yang sangat mengkhawatirkan. Kita semua mengutuk keras cara-cara ekstrem seperti itu,” ungkap Prof. Sudarnoto.

Menurutnya, Dewan Pusat Majelis Ulama Indonesia memiliki peran, tugas dan tanggungjawab yang cukup besar untuk menghadang berkembangnya ekstremisme beragama ini termasuk di dalamnya adalah sikap Islamofobia tersebut, dengan mengarusutamakan pandangan dan nilai-nilai moderasi beragama, khususnya yang terdapat dalam ajaran Islam Moderat (Wasathiyyah al-Islam).

Baca Juga:  Ponpes Al-Fatah Ciamis Wisuda 51 Santri

Sementara, Prof. Fazal menyatakan, tujuan agama semuanya menolak logika radikalisme, karakteristik utama moderasi tidak memihak melainkan bersikap secara adil dengan tidak ekstrim dalam bersikap. (R/R8/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)