Munafiq dalam Kegelapan Hidayah, Kajian Al-Baqarah 17-20

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Da’i Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jabar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَثَلُهُمۡ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسۡتَوۡقَدَ نَارً۬ا فَلَمَّآ أَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَهُ ۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِى ظُلُمَـٰتٍ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ (١٧) صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ۬ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ (١٨) أَوۡ كَصَيِّبٍ۬ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَـٰتٌ۬ وَرَعۡدٌ۬ وَبَرۡقٌ۬ يَجۡعَلُونَ أَصَـٰبِعَهُمۡ فِىٓ ءَاذَانِہِم مِّنَ ٱلصَّوَٲعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِ‌ۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَـٰفِرِينَ (١٩) يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَـٰرَهُمۡ‌ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡہِمۡ قَامُواْ‌ۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَـٰرِهِمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ (٢٠)

Artinya: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya [yang menyinari] mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (17) Mereka tuli, bisu dan buta maka tidaklah mereka akan kembali [ke jalan yang benar]. (18) atau seperti [orang-orang yang ditimpa] hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena [mendengar suara] petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (19) Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (20). (Q.S. Al-Baqarah [2]: 17-20).

Surat Al-Baqarah ayat 17 sampai 20 masih berbicara tentang sifat-sifat orang munafiq. Mufassir As Sa’di menjelaskan, bahwa perumpamaan mereka yang sesuai dengan kondisi mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. Ketika itu ia berada dalam kegelapan yang pekat, dan sangat membutuhkan api. Lalu menyalalah dari selain dirinya, tapi ia sendiri tidak memiliki persiapan ketika api itu telah menerangi sekitarnya,

Ia kemudian menenangkan diri dan segera memanfaatkan api tersebut, lalu tenanglah pandangannya. Ia mengira bahwa ia menguasai kondisi itu. Lalu, ketika ia berada dalam kondisi seperti itu, Allah memadamkan cahaya-Nya, hingga hilanglah cahaya api itu dan lenyaplah kebahagiaannya.

Ia pun berada kembali dalam kegelapan yang pekat, sedangkan api itu masih menyala-nyala. Namun herannya hilanglah cahaya darinya dan tertinggallah padanya api yang menyala-nyala itu, dan ia berada dalam kegelapan yang bermacam-macam. Kegelapan malam, kegelapan awan, kegelapan hujan, dan kegelapan yang terjadi setelah adanya cahaya, maka bagaimanakah kondisi orang yang seperti ini?

Demikianlah juga orang-orang munafiq yang menyalakan api keimanan dari kaum mukminin. Namun tidak menjadi ciri bagi mereka, mereka menjadikannya penerangan untuk sementara waktu dan memanfaatkannya. Hingga terjagalah darah mereka dan selamatlah harta mereka, serta mereka mendapatkan suatu keamanan di muka bumi ini dalam naungan Islam.

Lalu ketika mereka dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba kematian menyergap mereka, dan menghentikan pemanfaatan mereka terhadap cahaya tersebut. Hingga terjadilah kegundahan, kebimbangan dan siksaan, dan mereka mendapatkan kegelapan kubur, kegelapan kekufuran, kegelapan kemunaqikan dan kegelapan kemaksiatan dengan segala perbedaan coraknya. Kemudian setelah itu kegelapan api neraka; dan itulah seburuk-buruk kediaman.

…..ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمۡ وَتَرَكَهُمۡ فِى ظُلُمَـٰتٍ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ

Artinya: “…..hilangkan cahaya [yang menyinari] mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”.

Allah pun menyatakan, mereka “tuli” maksudnya tuli dari mendengarkan kebaikan, mereka juga “bisu” maksudnya bisu dari membicarakan kebaikan, dan mereka juga “buta” dari melihat kebenaran.

“Maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar” karena mereka meninggalkan kebenaran setelah mereka mengetahuinya. Lalu mereka tidak kembali kepadanya, berbeda dengan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan, karena sesungguhnya ia tidak berfikir dan ia lebih dekat untuk kembali daripada mereka.

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya Al-Quranul ‘Adzim menjelaskan bahwa ayat ini berbicara mengenai sifat kemunafikan dan kekufuran mereka. Ini memastikan bahwa mereka itu sebelumnya pernah beriman lalu keimanan itu hilang dari mereka kemudian, lalu hati mereka dikunci mati.

Ini sebagaimana dikatakan oleh firman Allah Ta’ala:

ذَٲلِكَ بِأَنَّہُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِہِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ

Artinya: “Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir [lagi] lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti”. (Q.S. Al-Munafiqun [63]: 3).

Karena itu, mereka itu tuli, bisu, dan buta, yakni mereka tidak dapat mendengar petunjuk, tidak dapat melihat petunjuk dan tidak pula memikirkan petunjuk itu.

Maka, Allah pun menyebutnya:

صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ۬ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ

Artinya: “Mereka tuli, bisu dan buta maka tidaklah mereka akan kembali [ke jalan yang benar]”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 18).

Mereka orang-orang munafiq itu tuli dari mendengar yang haq, bisu dari berbicara yang haq, buta dari melihat kepada yang haq. Dan herannya, banyak di antara orang-orang yang seperti itu pada akhir jaman menjadi pejabat, pimpinan, dan orang yang dipandang di suatu masyarakat atau negara.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan di dalam haditsnya, yang artinya:

وَإِذَا رَأَيْتَ الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الصُّمَّ الْبُكْمَ مُلُوكَ الْأَرْضِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا

Artinya: “Dan apabila kamu melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, tuli dan bisu menjadi penguasa-penguasa di muka bumi, maka itu merupakan tanda-tandanya (hari kiamat).” (H.R. Muslim).

Dalam Kegelapan

Terhadap orang-orang munafiq itu, Allah pun menggambarkan di dalam ayat berikutnya:

أَوۡ كَصَيِّبٍ۬ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَـٰتٌ۬ وَرَعۡدٌ۬ وَبَرۡقٌ۬ يَجۡعَلُونَ أَصَـٰبِعَهُمۡ فِىٓ ءَاذَانِہِم مِّنَ ٱلصَّوَٲعِقِ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِ‌ۚ وَٱللَّهُ مُحِيطُۢ بِٱلۡكَـٰفِرِينَ

Artinya: “Atau seperti [orang-orang yang ditimpa] hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena [mendengar suara] petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 19).

Ayat ini memberikan ilustrasi bahwa setiap kali ada kilat dalam kegelapan hujan yang dikelilingi dengan awan gelap, yang kilat itu menyinari mereka. Mereka pun dapat berjalan di bawah sinar itu. Namun bila kilat itu selesai, dan gelap kembali menimpa, mereka pun berhenti, terdiam.

Seperti itulah kondisi orang-orang munafiq, ketika mereka mendengarkan Al-Qur’an, perintah-perintahnya, larangan-larangannya, janjinya dan ancamannya. Mereka meletakkan jari-jemari mereka pada telinga-telinga mereka, tidak mau mendengarkannya, tidak memperhatikan, masa bodoh. Mereka pun akhirnya berpaling dari perintahnya, larangannya, janjinya dan ancamannya, lalu tak peduli dengan ancaman yang menggetarkan mereka. Mereka justru berpaling darinya dengan sekuat apa pun, hingga membuat mereka lebih kokoh, mereka membencinya seperti seorang yang terkena hujan dan ia mendengar guruh lalu meletakkan jari jemarinya pada kedua telinganya karena takut dari kematian.

Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. Mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu. Hingga mereka diliputi rasa takut atas kematian.

Banyak ulama ahli tafsir yang mengartikan hujan tersebut adalah sebagai Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an dapat berfungsi seperti hujan yang dapat menumbuhkan hal-hal yang baik. Sehingga karena orang-orang munafik itu berada di sekitar orang-orang yang beriman, maka Al-Qur’an selalu berada di sekitar mereka.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, Al-Qur’an yang seharusnya dapat menjadi penerang dan penyejuk, membawa rahmat dan hidayah, ternyata seakan-akan menjadi hujan lebat yang menyebabkan keadaan menjadi gelap gulita, diliputi guruh dan juga kilat. Bukannya mendapat kedamaian dan ketentraman hati, justru malah hati mereka yang menjadi sakit.

Perumpamaan orang-orang munafiq Allah sebutkan pada ayat selanjutnya:

يَكَادُ ٱلۡبَرۡقُ يَخۡطَفُ أَبۡصَـٰرَهُمۡ‌ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوۡاْ فِيهِ وَإِذَآ أَظۡلَمَ عَلَيۡہِمۡ قَامُواْ‌ۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمۡعِهِمۡ وَأَبۡصَـٰرِهِمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ (٢٠)

Artinya:Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 20).

Perumpamaan ini adalah dengan adanya kilat yang menyambar-nyambar hingga sampai kepada pelupuk mata mereka. Maka jika saja mereka berada pada cahaya iman dan Islam, mereka juga akan mendapat cahaya tersebut, mereka juga ikut dalam cahaya itu. Namun saat mereka kembali pada kesesatannya, maka mereka juga kembali kepada kegelapan.

Meskipun orang-orang munafiq itu bisa saja berada di sekitar orang-orang beriman, selalu mendengarkan ayat-ayat Al-qur’an berkumandang, kajian-kajian ta’lim mereka dengat juga, tapi mereka tidak bisa mendapat manfaat darinya kecuali sangat sedikit. Mengapa demikian? Karena Allah melenyapkan pendengaran jiwa dan penglihatan hati mereka.

Semoga kita terhidar dari sifat-sifat munafiq yang seperti itu. Aamiin. (P4/R03)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)