Musibah, Penambah Pahala Pelebur Dosa

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA

 

Berbicara tentang musibah, kata “musibah” itu sendiri mengandung makna setiap kejadian yang tidak disukai (bagi orang beriman).

Di dalam Al-Qur’an, kata “musibah” disebut beberapa kali, di antaranya :

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

Artinya: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali). (QS Al-Baqarah [2]: 156).

Melalui ayat ini, Allah seperti hendak menghibur kita bahwa agar jika kita tertimpa musibah, kita jangan terlalu sedih berlebihan, berlarut-larut, menyesali nasib. lalu berputus asa. Sebab semuanya memang hanya milik Allah, terjadi atas kekuasaaan Allah. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Termasuk kalau ada kematian memanggil keluarga atau saudara kita atau tetangga dan rekan kita, bahkan menimpa orang yang sangat kita cintai sekalipun. Itu adalah atas kehendak Allah, dan kita tidak bisa menghadangnya.

Semua sudah tercatat di langit pada catatan Allah, ‘lauhul mahfudz’. Allah menegaskan di dalam firman-Nya:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬

Artinya: “Tiada suatu musibahun yang menimpa di bumi dan [tidak pula] pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauh Mahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS Al-Hadid [57]: 22).

Justru dengan adanya musibah itulah, Allah hendak menambahkan pahala buat hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.

Pahala buat mereka yang jika musibah datang, lalu mereka menyerahkannya kepada Allah, seraya mengharap pahala atas musibah yang menimpa, serta meminta ganti yang lebih baik hanya kepada-Nya. Diiringi doa,

اَللَّهُمَ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيَبِتِيْ وَاخْلُفْ لِيْ خَيْرًا مِّنْهَا

Artinya : “Ya Allah berilah pahala atas musibah yang menimpaku ini, dan berilah ganti yang lebih baik daripanaya”. (HR Muslim).

Dia yang terkena musibah juga akan merasa lapang, jika menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini adalah memang tempatnya ujian, bencana, petaka dan musibah. Tempat kenikmatan hanyalah di surga kelak. Jadi kalau pun mendapat ujian, ya wajar-wajar saja. Namanya juga hidup. Karenanya, ujian tidak untuk diratapi dan ditinggal, tapi untuk dihadapi dengan mohon keteguhan dari Allah.

Kita yang tetimpa musibah pun dapat berkaca pada lingkungan kita, bahwa ternyata masih banyak musibah lain yang jauh lebih besar menimpa orang lain daripada musibah yang menimpa diri kita. Sehingga hati kita merasa terhibur bahwa yang ditimpa musibah seperti musibahnya bukan hanya dirinya saja.

Jangan  lupa juga bahwa cobaan dan musibah yang kita rasakan, bagi orang-orang beriman adalah sebagai pelebur dari dosa-dosanya yang telah lalu.

Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menyebutkan di dalam haditsnya:

alam haditsnya bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

Artinya : “Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin dan mukminah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Sangat pantas dan sudah sepatutnyalah, jika kita mengiringi setiap musibah dan bencana yang menimpa kita dengan memperbanyak kalimat “Astaghfirullaahal ‘adzim” (aku mohon ampun ya Allah Yang Maha Agung).

Sebuah kalimat tanda kita menyerah kepada-Nya, bukti kita mengakui kelemahan diri kita dan ketidaktahuan kita akan apa rencana-Nya dan hikmah di balik semuanya, serta upaya pelebur dosa-dosa kita.

Sekali lagi “Astaghfirullaahal ‘adzim. Astaghfirullaahal ‘adzim. Astaghfirullaahal ‘adzim”. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)