Muslim Bosnia Peringati 25 Tahun Setelah Pembantaian Sebrenica

Photo: Anadolu Agency (AA)

Srebrenica, MINA – Muslim Bosnia mengadakan sebuah upacara pada Sabtu (11/7) untuk menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica, di mana lebih dari 8.000 pria dewasa dan anak laki-laki Muslim Bosnia dibunuh.

Jumlah orang yang menghadiri upacara di Srebrenica biasanya mencapai puluhan ribu pelayat, tetapi acara tahun ini lebih kecil karena kebijakan karantina wilayah akibat angka Covid-19 yang masih meningkat di Bosnia dan Herzegovina, demikian dikutip dari BBC.

Pada peringatan tersebut, akan ada layanan pemakaman untuk tujuh korban pembantaian yang baru-baru ini diidentifikasi.

Pada tanggal 11 Juli 1995, unit-unit pasukan Serbia Bosnia merebut kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina. Dalam waktu kurang dari dua pekan, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 umat Muslim Bosnia, dan merupakan pembunuhan massal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua.

Mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan menyatakan, “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.”

Pembantaian itu adalah bagian dari genosida yang dilakukan terhadap umat Muslim oleh pasukan Serbia Bosnia selama Perang Bosnia, salah satu dari beberapa konflik yang terjadi pada 1990-an ketika Yugoslavia bubar.

Republik Sosialis Bosnia dan Herzegovina yang ketika itu adalah bagian dari Yugoslavia adalah wilayah multi-etnis Bosniak Muslim, Serbia Ortodoks dan Kroasia Katolik.

Bosnia-Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1992 setelah referendum, dan diakui tidak lama kemudian oleh pemerintah AS dan Eropa.

Tetapi kelompok Serbia Bosnia memboikot referendum. Segera setelah itu pasukan Serbia Bosnia didukung oleh pemerintah Serbia menyerang negara yang baru terbentuk.

Mereka mulai mengeluarkan Bosniaks Muslim dari wilayah itu untuk menciptakan “Serbia Raya”, kebijakan yang dikenal sebagai pembersihan etnis.

Orang-orang Bosniak, yang sebagian besar adalah Muslim, adalah keturunan dari Slavia Bosnia yang menganut Islam di bawah pemerintahan Turki Ottoman pada Abad Pertengahan.

Efek dari pembantaian itu masih bergema sampai hari ini. Kuburan massal baru dan tubuh korban masih ditemukan, 25 tahun setelah genosida.

Pada akhirnya, wilayah Srebrenica dikuasai pasukan Serbia. Lalu sekitar 25 ribu Muslim Bosnia harus pergi dari rumahnya sendiri agar bisa selamat.

Serbia sudah meminta maaf atas kejahatan tersebut tetapi masih menolak untuk menerima bahwa itu adalah genosida.

Sementara pengadilan kejahatan perang di Hague, Belanda memutuskan peristiwa itu masuk kategori genosida. (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)