Muslim Christchurch Satukan Keberagaman Lewat Olahraga

Turnamen Canterbury Resilience Foundation Netball pada 2019. Foto: Supplied / Canterbury Resilience Foundation

Christchurch, MINA – Komunitas Muslim Christchurch di Selandia Baru yang tergabung dalam Canterbury Resilience Foundation membentuk program “Game Plane“, untuk menyatukan setiap orang dari berbagai latar belakang melalui olahraga.

“Olahraga tampaknya menjadi salah satu faktor yang menyatukan seluruh komunitas,” Ali, salah satu pendiri Canterbury Resilience Foundation, mengatakan kepada Radio Selandia Baru.

Dikutip dari AboutIslam pada Rabu (9/9), usahanya untuk membuat komunitas olahraga di Christchurch menyambut umat Islam itu dimulai pada 2019.

Setelah serangan teror di Christchurch, Ali bertemu dengan Julyan Falloon, Kepala Eksekutif Sport Canterbury.

“Saya duduk di samping [Ali] dan saya segera melihat bahwa dia memiliki pandangan strategis, dan dia bersemangat melakukan sesuatu dalam konteks yang lebih luas untuk kebaikan komunitas Muslim,” kata Falloon.

Ali, bersama dengan calon anggota parlemen dari Partai Buruh, Zahra Hussaini, pergi ke klub Canterbury Muslim Liaison sebagai titik awal untuk menemukan orang untuk diajak bicara dan menemukan penghalang yang mencegah Muslim berpartisipasi dalam olahraga.

Bagi Ali, dalam diskusi komunitasnya, poin kunci yang harus diungkapkan adalah pentingnya keberagaman.

“Jika Anda berbicara tentang komunitas Muslim, kami memiliki lebih dari 33 etnis dan budaya dalam komunitas Muslim, bahkan lebih banyak lagi di Christchurch,” katanya.

Seragam olahraga sendiri menjadi salah satu penghalang karena banyak seragam olahraga tidak sesuai secara budaya atau agama. Seragam juga tidak memperbolehkan hijab dalam banyak kasus.

Untuk mengatasi hambatan ini, Game Plan menentukan tiga fase utama:

1- Pertama, tetapkan sumber daya dan komitmen untuk membuat perubahan jangka panjang yang berkelanjutan.

2- Kedua, buat dan kelola dana untuk membantu biaya individu seperti seragam dan biaya.

3- Ketiga, buat dua program olahraga inklusif, satu di tingkat komunitas dan satu di tingkat klub.

“Kami perlu melakukan sesuatu yang akan memiliki perubahan sistemik dan menggunakan olahraga sebagai kendaraan untuk menjadi lebih inklusif, mengakui bahwa beberapa komunitas olahraga kami perlu menjadi lebih baik,” kata Falloon.

Christchurch adalah kota terbesar di Pulau Selatan Selandia Baru dan pusat Wilayah Canterbury.

Wilayah ini berpenduduk sekitar 404.500 jiwa, menjadikannya kota terpadat ketiga di Selandia Baru setelah Auckland dan Wellington. (T/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)