MUSLIM DI AS HADAPI LONJAKAN ANCAMAN DAN KEKERASAN

Sesorang yang dimotivasi sentimen anti-Islam mengecat dinding bagian luar sebuah masjid di Nebraska, AS, dengan gambar Menara Eiffel (Gambar: CBSNews)
Seseorang yang dimotivasi sentimen anti-Islam mengecat dinding bagian luar sebuah masjid di Nebraska, AS, dengan gambar Menara Eiffel (Foto: CBSNews)

Washington, 7 Shafar 1437/19 November 2015 (MINA) – Komunitas Muslim di seluruh Amerika Serikat (AS) menghadapi reaksi balasan pasca serangan mematikan di Paris, Perancis, termasuk vandalisme (aksi perusakan) terhadap masjid-masjid atau pusat Islam dan ancaman kekerasan.

Para pegiat advokasi di AS mengatakan telah memprediksi akan mencuat berbagai sentimen anti-Islam pascaserangan di Paris yang menewaskan 129 orang. Namun mereka sekarang melihat lonjakan kebencian terhadap kepentingan Islam semakin serius, diperparah oleh sentimen anti-Muslim di media.

“Gambarannya semakin suram,” kata Ibrahim Hooper, juru bicara Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) yang berbasis di Washington D.C, seperti dilaporkan CBSNews, Rabu (18/11) waktu setempat yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

“Ada akumulasi retorika anti-Islam dalam kehidupan kita dan yang saya pikir itu telah memicu tindakan-tindakan kekerasan dan vandalisme yang nyata seperti ini,” tambahnya.

Dia mengatakan kenaikan tingkat sentimen anti-Muslim di AS juga direpleksikan oleh beberapa kandidat calon presiden, gubernur, dan kalangan lain yang berbicara menentang ‘Negeri Paman Sam’ menerima lebih banyak pengungsi Suriah.

Hooper memgakui pihaknya melihat peningkatan insiden anti-Muslim pascaserangan Paris pada Jumat (13/11) lalu, yang menewaskan 129 orang dan melukai lebih dari 350 lainnya.

Di Connecticut, misalnya. Biro Investigasi Federal (FBI) dan polisi setempat sedang menyelidiki laporan kasus penembakan yang menyasar Masjid Baitul Aman, yang terjadi hanya beberapa jam pascaserangan di Kota Paris.

Di Universitas Connecticut, otoritas sedang menyelidiki kata-kata “killed Paris” yang ditulis di bagian bawah nama seorang mahasiswa Mesir di pintu kamar asramanya.

Para pemimpin Muslim juga telah melaporkan tindakan vandalisme, ancaman, dan kejahatan kebencian lainnya yang menargetkan masjid di Nebraska, Florida, Texas, Kentucky, Virginia, Tennessee, Ohio, New York, dan negara bagian lainnya.

Pihak Omaha Islamic Center di Nebraska melaporkan, seseorang yang dimotivasi sentimen anti-Islam telah mengecat dinding bagian luar bagunan masjid dengan gambar Menara Eiffel. Mereka mengatakan komunitas muslim di AS mengalami ketakutan akibat meningkatnya vandalisme.

“Ada pria, perempuan, dan anak-anak yang kerap datang ke masjid untuk shalat dan berdoa setiap hari, dan sejak serangan di Paris, mereka telah mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke masjid karena mengkhawatirkan keselamatan mereka,” kata Sekretaris Jenderal Omaha Islamic Center, Nasir Husain.

Di negara tetangga, Kanada, polisi di Toronto sedang menyelidiki kasus penyerangan dan perampokan yang dialami seorang perempuan Muslim. Aparat keamanan mengatakan insiden itu muncul ‘dimotivasi oleh kebencian’.

“Juga, seorang pria di Montreal ditangkap pada Selasa karena diduga menyebarkan ancaman dalam sebuah video daring yang menyerukan untuk membunuh satu orang Arab per minggu di Quebec,” lapor Canadian Broadcasting Corp.

Merespons kekerasan dan teror ini, Nihad Awad, Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), meminta aparat penegak hukum untuk meningkatkan patroli di masjid-masjid dan berbagai lembaga Islam lainnya. (P022/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

 

Comments: 0