Muslim Hungaria Khawatir Dengan Referendum Anti Imigran

Budapest, 1 Muharram 1438/2 Oktober 2016 (MINA) – Hungaria memulai referendum aturan Uni Eropa mengenai kuota penerimaan imigran,  Ahad (2/10). Cara ini dikhawatirkan Muslim yang tinggal di negara itu sebagai upaya menghilangkan keberadaan mereka karena minoritas.

Salah satu kekhawatiran muncul dengan adanya reklame besar yang dipasang pemerintah baru-baru ini sebelum referendum dimulai. Reklame yang bertuliskan “Apakah Kalian Tahu Serangan Paris dilakukan oleh Imigran?” menunjukkan nada rasial karena pada kenyataannya mayoritas imigran adalah Muslim.

Hal tersebut membuat Muslim di negara itu gelisah, sehingga salah seorang Imam Masjid di Budapest mengatakan, “Kami bisa mengatakan reklame itu jelas anti-imigran. Namun dalam kenyataannya, kampanye itu mengarah jelas kepada anti-Islam, karena begitulah kebanyakan warga memahami iklan itu. Sejak para imigran kebanyakan adalah Muslim, secara tidak langsung reklame itu melawan Islam. Muslim di Hungaria telah merasakan kerugian dari ini. ”

Terlebih, menurut Imam yang tidak disebutkan namanya itu, baru-baru ini Perdana Menteri Hungaria mengatakan para pencari suaka Muslim bisa menghancurkan identitas dan tradisi kekristenan warganya.

Menanggapi pernyataan itu, seorang warga Muslimah mengatakan kepada Euronews, “Saya mulai merasa tanah air sendiri menolak saya. Saya menganggap diri sebagai seorang warga Hungaria yang baik dan saya ingin menjadi bagian negara ini. Tetapi jika orang dikelilingi oleh propaganda semacam ini dan mereka begitu mudah dipengaruhi, jadi membuat saya bertanya-tanya.”

Sebelumnya, Viktor Orban telah menolak rencana pembagian total 160 ribu imigran ke seluruh negara anggota Uni Eropa.

Di bawah aturan Uni Eropa yang diumumkan setelah terjadinya krisis keimigrasian tahun lalu, maka Hungaria diwajibkan menerima 1.294 imigran dan pencari suaka.

Untuk menahan gelombang imigran, Hungaria menutup perbatasannya dengan Serbia dan Kroasia. Langkah tersebut menjadi kontroversi karena dikritik sejumlah kelompok hak asasi manusia.

Dalam referendum, warga Hungaria ditanya: “Apakah kalian ingin Uni Eropa mewajibkan kedatangan orang-orang yang bukan warga Hungaria tanpa terlebih dahulu melalui Dewan Nasional Negara?”

Pada Desember, Hungaria menggugat rencana Uni Eropa melalui jalur hukum. Dalam sebuah wawancara pekan lalu, Orban mengatakan jika warga lebih memilih “tidak” daripada “iya,” maka artinya warga Hungaria tidak akan menerima perintah Uni Eropa.

Uni Eropa membuat aturan kuota untuk menurunkan tekanan yang diemban Yunani dan Italia, dua negara yang menjadi titik masuknya pengungsi serta pencari suaka.

Pada sensus 2011 menunjukkan jumlah Muslim di Hungaria mencapai 5.600 jiwa. (T /R04/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)