Muslim Myanmar Kutuk Serangan Tewaskan Polisi

Yangon, 15 Muharram 1438/16 Oktober 2016 (MINA) – Warga Muslim di Myanmar mengutuk serangan mematikan yang baru-baru ini terjadi di pos-pos polisi di Negara Rakhine barat. Anadolu Agency yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA) melaporkan pemerintah menuduh dalang serangan itu adalah kelompok ekstremis.

Sekitar 40 orang tewas, termasuk sembilan polisi, empat tentara dan 26 diduga penyerang – di tiga pos polisi di Maungdaw dan wilayah Yathay Taung pada Ahad pagi.

Daerah yang sebagian besar ditempati oleh penduduk berkewarganegaraan Muslim Rohingya – yang dijelaskan oleh PBB sebagai salah satu kelompok minoritas paling teraniaya di dunia – tidak satu pun dari para penyerang teridentifikasi.

Pemerintah Myanmar mengatakan pada Jumat malam bahwa serangan yang menewaskan sembilan polisi dilakukan oleh organisasi Aqa Mul Mujahidin, yang digambarkan berafiliasi dengan Organisasi Solidaritas Rohingya(RSO), sebuah kelompok ekstrimis bayangan yang mengambil namanya dari Rohingya.

“Serangan di Kota Maungdaw secara sistematis direncanakan dalam jangka waktu yang panjang, dibantu oleh dana asing dan dukungan dari anggota organisasi oposisi asing,” kata sebuah pernyataan dari Kantor Presiden Myanmar.

Kelompok Mitos

Meskipun sebagian besar ahli percaya keberadaan RSO adalah mitos, pemerintah mengklasifikasikan mereka sebagai kelompok ekstremis dan pejabat menyalahkan serangan baru itu yang terjadi di daerah perbatasan.

Seorang mantan anggota parlemen majelis rendah dari Rohingya mengatakan pada Jumat bahwa RSO sudah tidak ada sejak lama.

“Pemerintah Bangladesh menindak RSO dua dekade lalu atas permintaan pemerintah Myanmar,” kata Shwe Maung, yang mewakili Maungdaw sejak 2011-2016.

Dia menambahkan pemerintah telah lama menyalahkan RSO atas berbagai permasalahan di daerah itu, dalam upaya untuk menggelapkan nama Rohingya sehingga mereka lebih leluasa menganiaya dan menindas mereka.

“Sejak itu, RSO telah berhenti berfungsi dan tidak ada kegiatan itu,” kata Shwe Maung dalam email resminya.

Menurut pemerintah, pemimpin Aqa Mul Mujahidin ini, diidentifikasi bernama Havistoohar, sebelumnya menghadiri enam bulan pelatihan kelompok Taliban di Pakistan serta memiliki empat saudara perempuan dan satu saudara yang tinggal di Arab Saudi.

Kantor Presiden Myanmar mengatakan kelompok dimaksudkan untuk menyebarkan propaganda dengan menyebarkan file video di Internet dan melalui jaringan sosial, sejalan dengan metode organisasi teroris seperti Taliban, al-Qaeda dan Daesh, dalam rangka untuk menarik dukungan asing yang lebih besar dan pendanaan dari ekstrimis dalam dan luar negeri.

Polisi menegaskan Havistoohar (45) muncul di video yang disebarkan di media sosial.

Kelompok ini menerima secara “signifikan” dukungan finansial dari “individu ekstremis di beberapa negara Timur Tengah”, kata pernyataan itu, menambahkan dana yang diberikan “diam-diam” melalui kontak antara individu.

“Saya belum pernah mendengar kelompok ini,” mantan anggota parlemen Shwe Maung mengatakan di email Sabtu lalu.

“Saya juga tidak pernah mendengar nama pemimpin kelompok itu,” tambahnya.

Kecaman

Organisasi Muslim di Myanmar telah mengecam serangan mematikan terhadap polisi di Rakhine.

Wunna Shwe, Sekretaris Dewan Departemen Agama Islam Myanmar berbasis di Yangon, mengatakan serangan kekerasan tersebut benar-benar tidak dapat diterima tidak peduli siapa dibalik itu semua.

“Kami, Muslim Myanmar, sangat mengutuk penyerang,” katanya pada Sabtu.

Pihanya juga menegaskan bahwa mereka tidak akan mendukung upaya terorisme yang tidak pernah memecahkan masalah,” tegasnya.

Pada 2012, kekerasan antara Buddha lokal dan komunitas Muslim di Rakhine – salah satu daerah termiskin di Myanmar – mengakibatkan sekitar 57 Muslim dan 31 Buddha tewas, sekitar 100.000 orang mengungsi di kamp-kamp dan lebih dari 2.500 rumah dibakar – yang sebagian besar milik Rohingya.

Negara ini adalah rumah bagi sekitar 1,2 juta Muslim Rohingya, yang secara resmi bertahn-tahun tinggal yang diberi label sebagai “Bengali” – sebuah istilah yang menunjukkan mereka adalah imigran ilegal dari negara tetangga Bangladesh – dan ditolak kewarganegaraan. (T/P004/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)