Muslim Wajib Tahu, Asal Mula Nama Palestina

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Sebagian umat Islam mungkin belum tahu asal mula nama Palestina. Yahudi dan para orientalis membuat teori Bangsa Laut. Mereka menisbatkan Bangsa Laut adalah Bangsa Palestina yang datang dari laut, yaitu dari Pulau Kreta yang ada di Yunani, lalu mereka tinggal di pesisir Palestina sehingga negeri tersebut dikenal dengan nama mereka.

Meskipun teori Bangsa Laut ini lemah dan penuh kebohongan, tetapi ia telah memenuhi buku-buku di banyak perpustakaan. Bantahan yang paling sederhana dari teori itu adalah sebuah pertanyaan: “Apakah masuk akal sekiranya datang satu kabilah yang hijrah dari laut ke sebuah negeri yang besar, telah dihuni oleh kabilah-kabilah besar yang berubah tua dan kuat, lalu kabilah yang kecil itu memaksakan namanya atas seluruh negeri, sedangkan nama asli negei tersebut menjadi hilang?” Hal ini mustahil dalam ilmu politik, sejarah dan sosial.

Sebenarnya, nama Palestina sudah dikenal dan populer sejak tahun 2100 SM, yaitu melalui berbagai prasasti dan surat-menyurat dengan bangsa-bangsa lain. Bahkan sebenarnya nama Palestina sudah dikenal sebelum 400 tahun SM. Sedangkan bangsa laut yang mereka ceritakan itu datang ke Palestina pada tahun 1200 SM. Lalu, bagaimana mungkin nama Palestina dihubungkan kepada mereka sedangkan nama ini sudah dikenal sejak 1.000 tahun sebelum kedatangan mereka, bahkan 2.800 tahun sebelumnya.

Intinya, Bangsa Laut itu tidaklah ada, dan tidak ada pula imigrasi yang dilakukan kabilah-kabilah Falastia. Tidak terjadi apa pun di antara perkataan-perkataan yang bohong itu. Informasi tersebut hanya bersumber dari teks Taurat yang sudah diselewengkan serta perkataan para orientalis yang menjadi kaki tangan Yahudi.

Baca Juga:  MINA Selenggarakan Training Jurnalistik untuk Mahasiswa Magang STAI Al-Fatah

Palestina adalah nama Arab

Banyak pendapat tentang asal usul nama Palestina hingga mencapai 30 pendapat. Perbedaan yang besar dan pendapat-pendapat yang sangat beragam ini menjadi bukti mengenai terjadinya kebohongan. Ini juga menjadi bukti yang sangat jelas tentang kegagalan para peneliti yang terpengaruh dengan cerita-cerita Yahudi dan Zionisme.

Semua kebohongan yang mereka lakukan itu untuk menimbulkan keragauan seputar sejarah Palestina dan bangsa Palestina. Apakah dapat diterima secara ilmiah bahwa ada 30 pendapat mengenai asal usul nama Palestina dan dari mana bangsa Palestina datang. Hal ini sangat menggelikan sekaligus menunjukkan bahwa penulis tersebut tidak memiliki sifat amanah ilmiah dan metologi ilmiah.

Yang benar dari beberapa sumber terpercaya, nama Palestina merupakan nama Arab lama. Pendapat yang paling benar adalah nama ini dihubungkan kepada kabilah yang bernama Falastia atau Falastu dari Kan’an, karena kabilah Falastu merupakan cabang dari kabilah-kabilah Kan’an. Asalnya adalah Falastia atau Falastu kemudian berubah menjadi Filistin.

Bangsa Kan’an Arab memang terdiri dari banyak dan cabangnya. Di antara mereka adalah Yebus, Amoria, Filistin dan Finisia. Nama kabilah Kan’an tersebut terbentuk dari kata yang ada dalam bahasa Kan’an, yaitu terbentuk dari kata filis dan tin. Kata Filis berarti ladang pertanian, sedangkan kata tin berarti pohon buah tin. Dengan demikian, nama Filistin berarti ladang pertanian buah tin atau para petani buah tin.

Tin merupakan sebagian dari jenis tanaman yang ada di Palestina. Di sana ada tanah yang bernama Falasta. Adapun alasan dibalik popularitas nama Filistin bersama Kan’an adalah karena bangsa Palestina Kan’an dan Filisia Kan’an merupakan bangsa yang bermata pencaharian pertanian, perdagangan dan industri.

Baca Juga:  12 Tentara Israel Terluka dalam 24 Jam Terakhir di Gaza

Itulah mengapa nama Filistin lebih dominan atas seluruh wilayah tersebut sebagai ganti nama Kan’an lama karena nama Filistin juga sudah dikenal 4.000 tahun SM. Kemudian nama ini kian populer pada tahun 2100 SM. Yaitu dalam tulisan-tulisan bangsa Mesir, Asyira dan Yunani.

Palestina menjadi nama resmi

Lalu datanglah masa Romawi di Palestina pada tahun 70 sampai 60 SM, sehingga nama Palestina menjadi nama resmi untuk imperium Romawi karena mereka juga ingin untuk tujuan politik menghapus nama lama yaitu negeri Kan’an.

Sementara itu bangsa Finisia merupakan cabang dari bangsa Kan’an juga. Mereka tinggal di pesisir Palestina dan Lebanon, serta ahli dalam bidang industri. Karena bangsa Yunani menyebut mereka finix yang berarti warna merah karena mereka dikenal dengan keahlian mewarnai kain dan membuat pakaian serta membuat kapal-kapal. Kata finix ini merupakan sifat bagi mereka, bukan sebagai nama karena ia merupakan gambaran mengenai profesi dan keahlian sehingga nama tersebut melekat pada mereka.

Para orientalis melakukan penekanan terhadap nama Finisia untuk membedakan antara bangsa Kan’an dan Finisia. Tujuannya agar orang-orang mengira bahwa mereka adalah kabilah-kabilah yang berbeda, seperti yang dikatakan para orientalis mengenai bangsa Palestina bahwa mereka bukan bangsa Kan’an. Namun, yang terbukti dalam sejarah dan berbagai peradaban bahwa bangsa Finisia, Palestina, Yebus dan Amuria itu seluruhnya merupakan satu bangsa dan satu kabilah, yaitu Kan’an.

Baca Juga:  Musim Panas Hidupkan Kembali Pantai-Pantai Gaza

Bangsa Palestina berprofesi sebagai pedagang dan industri, maka mereka pergi untuk melakukan perdagangan ke banyak negeri yaitu Mesir, Maroko, Yunani dan Spanyol. Sudah tentu di tempat-tempat tersebut ditemukan komunitas-komunitas Palestina, bahkan orang-orang Palestina itu menyebarkan peradaban negeri Kan’an (Palestina) di negara-negara yang menjadi tujuan mereka. Mereka memiliki banyak jejak di negara-negara itu.

Sebagian kabilah Palestina melakukan imigrasi ke Jazirah Arab (di arah utara). Di sana juga terjadi imigrasi-imigrasi lawan arah dari Yaman dan Jazirah Arab yang datang ke Palestina setelah berabad-abad lamanya sejak keberadaan bangsa Kan’an. Imigrasi yang dilakukan berbagai kabilah dan bangsa dari satu negara ke negara lain sudah dikenal dan masyhur.

Jadi, manipulasi dan pemalsuan yang dilakukan secara sengaja terhadap sejarah Palestina dan penduduknya ini merupakan perkara yang perlu diantisipasi sebab itu merupakan kebohongan yang dilakukan oleh Zionis Yahudi dan antek-anteknya.

Tidak bisa dipungkiri, orang-orang Yahudi dan Zionis serta para pengikut setianya di berbagai negara di dunia telah berhasil menanamkan keraguan terhadap sejarah Palestina, identitas Arab mereka dan identitas Islam mereka melalui tulisan-tulisan, buku-buku dan propaganda-propaganda palsu dalam dunia informasi, penyiaran dan jurnalistik, bahkan dalam bentuk gambar dan film.

Hanya saja orang-orang yang ikhlas di antara anak bangsa Palestina, Arab dan Islam di dunia telah menjadi benteng tangguh dalam menghadang Yahudi dan kaki tangannya untuk menjelaskan fakta-fakta, sekaligus menggugurkan klaim-klaim dusta dan membantah setiap kerancuan yang mereka sebarkan.[]

Sumber: Sejarah & Keutamaan Masjid Al-Aqsha dan Al-Quds

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Wartawan: Bahron Ansori

Editor: Rudi Hendrik