Al-Quds, MINA – Anggota parlemen Palestina dari Hamas, Musyir al-Mishri, menegaskan kejahatan Israel di kawasan Syekh Jarrah Al-Quds, merupakan kebijakan terorganisir untuk menghapus identitas Palestina dan eksistensi mereka, lewat pengusiran warga, untuk mengosongkan kota Al-Quds dari penduduk asli, guna kepentingan koloni Yahudi.
“Kejahatan ini merupakan rangkaian Yahudisasi kota Al-Quds, dan penodaan terhadap tempat suci, utamanya terhadap Masjidil Aqsha, dengan menghapus persoalan Al-Quds, dan mengeluarkannya dari peta konflik,” kata Musyir al-Mishri dalam pernyataannya, demikian Palinfo melaporkan, Selasa (4/5).
Menurut al-Mishri, tantangan ini mengharuskan adanya visi nasional bersatu, untuk membela perjuangan warga Palestina di Al-Quds, dan menggagalkan semua rencana zionis, dan terus berupaya mengokohkan perjuangan warga dengan semua sarana yang memungkinkan di kota Al-Quds, untuk menghentikan arogansi Israel, dan mencabut eksistensi mereka sebagai pengawas keamanan kota Al-Quds.
Al-Mishri menyebutkan, kebijakan Israel mengusir paksa warga Palestina di kota Al-Quds, merupakan permainan berbahaya dan melampaui batas toleransi yang tidak mungkin dibiarkan bangsa Palestina.
Baca Juga: Tentara Israel Mundur dari Kota Lebanon Selatan
Sekitar 500 warga Al-Quds terancam pengusiran paksa, mereka tinggal di 28 rumah di kawasan, yang dilakukan asosiasi permukiman zionis bekerjasama dengan pengadilan Israel.
Baru-baru ini pihak pengadilan menerbitkan putusan final terhadap 7 keluarga Al-Quds, meski mereka memiliki dokumen kepemilikan tanah secara resmi di hadapan hukum.
Asosiasi permukiman zionis mengklaim pihak mereka memiliki dokumen kepemilikan tanah sebelum tahun 1948, klaim ini ditolak warga dan tak memiliki fakta.
Pekan lalu, sejumlah aktifis bersama warga Palestina dari kota Al-Quds, berkonsentrasi di kawasan Syekh Jarrah, untuk menetap di 4 rumah Palestina yang terancam dikosongkan untuk kepentingan koloni Yahudi. (T/R4/P1)
Baca Juga: PBB Adopsi Resolusi Dukung UNRWA dan Gencatan Senjata di Gaza
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menhan Israel: Ada Peluang Kesepakatan Baru Tahanan Israel