Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nabi Muhammad SAW Diutus Membawa Rahmat Seluruh Alam

Insaf Muarif Gunawan - Ahad, 17 September 2023 - 07:37 WIB

Ahad, 17 September 2023 - 07:37 WIB

12 Views

Oleh: Insaf Muarif Gunawan, Wartawan Kantor Berita MINA

Rabiul Awwal adalah bulan ketiga dalam urutan kalender hijriah. Umat Islam di beberapa negara, termasuk Indonesia antusias memperingati kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan berbagai acara pada bulan Rabiul Awwal ini.

Ini merupakan keutamaan bulan Rabiul Awwal sekaligus dianggap menjadi bulan yang istimewa. Jika diartikan, bulan Rabiul Awwal terdiri dari dua kata, yaitu ‘Rabi’ (ربيع) yang berarti musim semi, dan Awwal yang artinya pertama.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam adalah nabi yang lahir di Makkah pada bulan Rabiul Awal, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 571 masehi.

Baca Juga: Bahaya Sifat Egois

Hampir seluruh perhatian pada Rabiul Awwal tersedot dengan peristiwa agung yaitu kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.

Di bulan ini banyak di antara umat Muslim memperingati kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam setiap tanggal 12 Rabiul Awal dengan peringatan Maulid Nabi.

Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal, bulan mulia di mana penutup para nabi dan rasul. Ya, beliaulah Baginda Besar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Nabi akhir zaman, tidak ada lagi nabi-nabi setelahnya.

Rabiul Awwal, seyogyanya bagi kita umat Islam untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang menjadi suri teladan bagi seluruh umat Manusia.

Baca Juga: Muharram 1446 Saatnya Resolusi Hijrah

Nabi diutus ke muka bumi ini tak lain adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Imam Ibnu ‘Abbas menyebutkan dalam tafsirnya, siapa yang menerima ajaran kasih sayang yang dibawa Nabi dan mensyukurinya, maka ia akan bahagia hidupnya. Sebaliknya, siapa yang menolak dan menentangnya, maka merugilah hidupnya.

Baca Juga: Memberantas Judi Online di Masyarakat

Imam Al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebab disebutnya pengutusan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sebagai rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam ialah karena diutusnya Nabi ke seluruh dunia di muka bumi ini menjadi sumber kebahagiaan dan kebaikan bagi kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat kelak.

Kasih sayang yang ditebarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bukanlah hanya ucapan semata, akan tetapi dalam hidup keseharian beliau praktikkan dan implementasikan dengan nyata. Kasih sayang ini bentuknya universal kepada seluruh makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan kepada orang musyrik pun Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berlaku santun dan mengasihi.

Tercatat dalam Al-Quran dan hadis, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam adalah teladan bagi seluruh umat manusia dan memiliki yang akhlak mulia. Sifat itu diantaranya: sidik, amanah, fathonah, dan tablig. Sidik artinya orang yang jujur, amanah adalah dapat dipercaya, fathonah berarti orang yang pandai atau cerdas, dan tablig artinya orang yang menyampaikan.”

Hal itu terlihat ketika Rasulullah tetap mendoakan orang yang memusuhinya, menghormati jenazah orang Yahudi, bahkan hendak menshalatkan jenazah orang munafik sebelum Al-Qur’an turun menjelaskan larangannya.

Baca Juga: Istiqamah dalam Da’wah dengan Memperkuat Ukhuwah Islamiyah

Kasih sayang Rasulullah juga terlihat ketika beliau berhijrah dengan berjalan kaki menuju Thaif. Di kota itu, Rasul tinggal bersama Zaid bin Haritsah selama 10 hari. Di sanalah muncul optimisme bahwa masyarakat setempat akan menerima dakwah Islam.

Nabi bertatap muka dengan pembesar Bani Tsaqif: Abdi Talel, Khubaib dan Mas’ud. Kepada mereka kekasih Allah ini mengenalkan tauhid. Begitu tragis, utusan Allah ini justru menjadi target pelecehan, penghinaan, umpatan, yang diluapkan dengan kata-kata kotor.

Peringatan Maulid Nabi ini umum diperingati oleh masyarakat Indonesia untuk menampakkan rasa gembira atas kelahiran Rasulullah Shallallahu Alahi Wassalam.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Rabiul Awal merupakan bulan yang paling istimewa di antara bulan-bulan dalam kalender Hijriah lainnya.

Baca Juga: 10 Kunci Meraih Sukses Menurut Petunjuk Al-Quran

Setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal, kita, umat Islam, memperingati satu peristiwa yang penting, yaitu kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alahi Wassalam. Kita memperingati Maulid Nabi tidak lain adalah untuk mengenang kembali jasa-jasa, pengorbanan, perjuangan dakwahnya.

Memperingati Maulid Nabi juga untuk menunjukkan kecintaan kita kepada beliau. Alangkah naifnya, jika Rasulullah Shallallahu Alahi Wassalam  begitu mencintai kita, telah berkurban jiwa raga untuk menyelamatkan kita dari kesesatan, namun kita justru tidak menghargai dan membalas cinta beliau itu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Baca Juga: Terima Kasih Palestina

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, serta amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At-Taubah [9]: 128)

Bertepatan dengan peringatan maulid Nabi ini, marilah kita banyak mengenang sosok dan jasa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam, mencontoh dan meneladani seluruh perkataan maupun perbuatannya, serta melaksanakan segala yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarangnya dalam misi kerasulannya, sebagai wujud cinta dan kasih kita kepada Allah dan Rasulullah, sekaligus agar kita mendapat ampunan dari Allah atas segala dosa yang pernah kita lakukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Surat Ali-Imran ayat 31 :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Baca Juga: Umur yang Barokah

Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Wallahu A’lam Bishshowwab. (A/R8/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Merindukan Surga

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Internasional
MINA Sport