Nabil Shaath: Boikot Produk Israel Bagian Perlawanan Rakyat Palestina

Betlehem, 25 Muharram 1438/ 26 Oktober 2016 (MINA) – Komisaris Hubungan Internasional Gerakan Fatah, Nabil Shaath menyerukan Rakyat Palestina untuk mulai memboikot secara total produk-produk yang dihasilkan Otoritas Pendudukan Israel.

“Memboikot produk harus menjadi senjata Rakyat Palestina melawan (pendudukan) Israel,” kata Shaath kepada Ma’an News yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Rabu (26/10).

Pernyataan Shaath mengacu pada proses perdamaian Israel-Palestina selama beberapa dekade, yang telah gagal dan berkali-kali telah dihidupkan kembali. Shaath menegaskan bahwa Rakyat Palestina harus “bangun dari impian damai mereka,” menambahkan bahwa proses perdamaian telah dinyatakan mati.

“Hak-hak tidak diberikan, tetapi diambil dengan paksa,” tegas Shaath, mengatakan kekuatan terbesar yang dimiliki Rakyat Palestina dalam melawan militer Israel adalah aksi massa.

“Jika ada, pengalaman masa lalu serta perubahan di dunia dan sekitar kita di wilayah ini memberitahukan bahwa kita harus mulai memiliki ketergantungan pada diri kita sendiri, tidak menunggu orang lain untuk memberikan hak-hak kita,” ujarnya.

Shaath mengkritik mediator perdamaian seperti Amerika Serikat dan Perancis – yang mengumumkan upaya untuk memperbaharui inisiatif perdamaian multilateral awal tahun ini – tak bisa realistis menekan Israel.

“Israel tidak memberikan apa-apa kepada siapa pun secara gratis,” kata Shaath. “(Pembicaraan damai) ini tidak akan memberikan tanah kami jika biaya menempati tanah ini tidak jauh lebih tinggi daripada meninggalkannya,” tambahnya.

Dia menekankan seruannya pada sesama Rakyat Palestina untuk “lebih tergantung pada diri mereka sendiri” melalui boikot ekonomi Israel.

Gerakan global Boikot, Penghentian Saham, dan Sanksi (BDS) untuk melawan Israel diluncurkan 10 tahun lalu oleh masyarakat sipil Palestina, dan terus mendapatkan dukungan internasional selama beberapa tahun terakhir.

Keberhasilan internasional dari gerakan BDS telah menyebabkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebutnya “ancaman strategis” bagi Israel dan mengalokasikan sumber daya negara untuk melawannya.

Gerakan, yang menyerukan untuk isolasi akademik, ekonomi, dan budaya Israel, mendapatkan momentum baru dalam wilayah Palestina yang diduduki setelah perang di Gaza 2014 lalu.

Seruan boikot yang diperbarui lagi pada awal tahun ini setelah Otoritas Pendudukan Israel menolak untuk membayar pendapatan pajak terutang kepada Otoritas Palestina, dalam sebuah langkah yang dirancang untuk menghukum Palestina setelah mengajukan keanggotaan ke Mahkamah Pidana Internasional.

“Boikot Rakyat Palestina dari produk-produk Israel menyebar dan menjadi lebih mengakar, terutama di kalangan pemuda Palestina,” Omar Barghouti, aktivis hak asasi manusia Palestina dan pendiri gerakan BDS, mengatakan pada saat itu.

Sebuah jajak pendapat oleh Pusat Palestina untuk Kebijakan dan Riset Survei yang dilakukan Juni 2015 melaporkan bahwa mayoritas dari mereka yang diwawancarai di Tepi Barat dan Jalur Gaza – 86 persen – mengatakan mereka mendukung kampanye untuk memboikot produk-produk Israel.

Namun, karena kontrol pendudukan Israel atas ekonomi Palestina, konsumen di wilayah Palestina yang diduduki telah membatasi pilihan dan pasar terikat untuk perusahaan Israel. (T/anj/M013/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)