Nakbah 1948 Dikenang – Berulang 2024

Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM).(Foto: MINA)

Oleh Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM)

Nakbah 15 Mei 1948 akan dikenang lagi tahun ini pada 2024, pada hari ke-221 genosida Israel di Gaza sejak operasi Hamas pada 7 Oktober 2023.

Nakbah adalah titik hitam dalam sejarah penjajahan Palestina oleh Zionis, didukung oleh sekutu kuasa Barat. Perampasan tanah, pengusiran 800.000 rakyat Palestina, dan pemusnahan 500 desa dan kota menggambarkan bencana pada masa itu.

Menjelang akhir 1948, Nakbah mengakibatkan 78% dari keseluruhan kawasan tanah Palestina dirampas oleh Israel dan sekurang-kurangnya 15.000 rakyat Palestina Arab terbunuh. Dunia menerima berita ini, walaupun tidak dalam masa sebenar, diketahui oleh PBB.

Dari 1947 hingga 1949, lebih 80% rakyat Palestina di kawasan yang menjadi Israel diusir dan kira-kira 80% tanah Palestina dirampas oleh Zionis.

Kini, foto-foto jelas dalam dokumen yang menggambarkan perpindahan besar-besaran rakyat Palestina kini berulang, tetapi dalam operasi militer Zonis Israel (IOF) yang lebih brutal.

Nakbah kini tidak lagi dikenang sebagai bencana, tetapi dengan serangan Israel pada 2023 yang berterusan ke 2024, ia kini disebut sebagai genosida, ibu kepada segala kejahatan. Kekejaman serangan Zionis adalah berkali lipat dengan senjata pemusnah besar-besaran dari darat, laut dan udara.

Baca Juga:  Berqurban Mempererat Ukhuwah Islamiyah

Ini lebih buruk daripada Nakbah 1948. Pembunuhan wanita dan anak-anak tanpa pandang bulu. Lebih dari 15.000 anak-anak dan 10.000 wanita terbunuh dalam serangan udara dan darat dan jumlah korban meninggal terus meningkat. Hampir 1,7 juta penduduk telah dipindahkan. Lebih berat lagi, mereka telah terputus dari keperluan hidup dasar: makanan, air dan obat-obatan. Kelaparan dijadikan senjata untuk kematian perlahan di Gaza. Kini tiada zona aman di Gaza.

Nakbah 1948 adalah hasil dari perancangan yang disengajakan dan didukung oleh kuasa Barat yang kuat terutama Inggris dan Amerika Serikat. Bencana itu adalah hasil berbagai serangan oleh kelompok bersenjata Yahudi.

Semuanya bermula dengan peristiwa gerakan Zionis yang didirikan pada 1897.

Pendiri Organisasi Zionis Sedunia, Theodor Herzl menerbitkan “Der Judenstaat” yang menyeru pendirian negara Yahudi.

Ahli kabinet Zionis British, Herbert Samuel menulis “The Future of Palestine – A Secret Memorandum” menyeru rekan-rekan kabinetnya untuk mendukung penempatan Zionis di Palestina.

Baca Juga:  Di Tengah Konflik, Muslim Rohingya Diusir, Rumah pun Dibakar

Kemudian datang Deklarasi Balfour 1917. Inggris berjanji untuk membentuk “Rumah Nasional Yahudi di Tanah Arab, Palestina,” digambarkan sebagai “tanah tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah.”

Ini diluluskan oleh Liga Bangsa-Bangsa yang memanggil Mandat Inggris untuk tujuan membantu pembentukan tanah air Yahudi.

Rancangan Zionis tidak tanpa tentangan. Pemberontakan Al Buraq berlaku sebagai protes besar-besaran pertama terhadap peningkatan imigrasi Yahudi ke Palestina.

Pemimpin revolusi Palestin, Izz ad-Din al-Qassam terbunuh oleh pasukan Inggris.

Situasi semakin memuncak apabila militan Irgun mengebom Hotel King David di Jerusalem, membunuh 91 orang.

PBB meluluskan Resolusi 181 sebagai rancangan pembagian wilayah, walaupun ditolak oleh rakyat Palestina.

Kelompok bersenjata Zionis, Haganah mengebom Hotel Semiramis di Yerusalem membunuh 20 orang. Serangan berlkelanjutan saat pasukan Zionis menyerang kampung Qisarya dekat Haifa, satu contoh awal pembersihan etnis.

Kelompok Stern Gang dan pasukan Irgun yang terkenal kejam membunuh rakyat Palestina di kampung Dayr Yassin berdekatan dengan Yerusalem.

Negara Israel didirikan, mencetuskan konflik serantau. Amerika Serikat dan Uni Soviet segera mengakui berdirinya Israel.

Baca Juga:  Militan Irak Targetkan Serang Pelabuhan Israel dengan Drone

Hakikatnya, Nakbah tidak pernah berakhir. Bencana itu semakin buruk dalam waktu 76 tahun lalu. Walaupun perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaannya, menuntut kembali tanah mereka yang dicuri dan menuntut hak penentuan nasib sendiri adalah sah, namun PBB gagal total menguatkuasakan undang-undang antarabangsa terhadap Israel yang merupakan pelanggar prinsip hak asasi manusia yang paling terkenal.

Kekejaman manusia yang tidak dapat digambarkan di Gaza adalah lanjutan Nakbah 1948. Israel sepenuhnya dilindungi oleh AS dan sekutunya. Terlalu banyak penyalahgunaan kuasa veto oleh AS dalam menolak setiap resolusi di Dewan Kemanan PBB soal Israel.

Sebagai pos terdepan AS, Israel akan sentiasa menjadi kuasa pusat yang menentukan semua dasar luar negeri pendukung terbesar. AS telah menyalurkan sumbernya kepada Israel secara maksimum. Ia telah memberikan kekebalan kepada Israel sambil pada setiap masa menunjukkan keterlibatan dalam semua kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Israel.

Nakbah terjadi tanpa pertanggungjawaban. Mereka yang terbunuh dinafikan keadilannya. Perkara yang sama kini berulang di Gaza. Dunia kini akan menyaksikan, kali ini, dalam masa sebenar, apa sebenarnya maksud Nakbah. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Rudi Hendrik