Namanya Masjid Muhammad Cheng Hoo, Banyak yang Menyangka Klenteng

Umat muslim sedang melaksanakan ibadah shalat di masjid Muhammad Cheng Hoo di Mrebet Purbalingga, Jawa Tengah (Foto: Humas Purbalingga)

Sekilas bentuk tampilan bangunannya seperti Kelenteng, ternyata itu bangunan . Itulah masjid Muhammad yang ada di Kabupaten Jawa Tengah.

Maka tak heran, jika banyak orang mengira bangunan itu bukan masjid. Tapi itulah keunikannya. Nama asli Masjid Cheng Hoo ini adalah Masjid Jami’ Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Muhammad Cheng Hoo.

Lokasinya ada di Desa Selanggeng, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Bangunan Masjid Cheng Hoo ada di pinggir jalan raya Purbalingga-Bobotsari, atau tak jauh dari lokasi rest area atau tempat istirahat wilayah Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.

Bagi masyarakat yang belum tahu, tak sedikit yang mengira itu bukanlah bangunan masjid. Bagaimana tidak, bangunan mirip , tempat upacara keagamaan bagi penganut Konghucu.

Menurut Ketua Takmir Masjid Jami’ PITI Muhammad Cheng Hoo, Mochamad Nur Faizin, warga yang jarang melintasi jalan tersebut dan mampir, sering kali tidak mengetahui jika bangunan itu adalah bangunan masjid.

“Orang yang jarang ke sini tahunya bukan masjid, tapi setelah melihat di atas itu ada tulisan lafadz Allah, baru orang berpikir, ini berarti masjid,” katanya kepada awak media, Senin (18/3).

Bangunan masjid Cgheng Hoo didominasi warna merah, warna dominan yang kerap ditemui di bangunan Klenteng. Faizin menjelaskan, filosofi dari warna merah pada masjid adalah keberanian.

“Kita harus berani berkorban. Harus berani berbuat, tapi dengan catatan, berbuat baik,” ucapnya.

Menurutnya, setelah masyarakat tahu ini masjid, banyak yang datang terutama untuk menunaikan shalat. Mereka yang semula penasaran, kini menjadikan tempat tersebut sebagai lokasi berhenti, terutama para pengguna jalan.

“Masjid ini terbuka untuk umum bagi umat Islam,” ujar Faizin.

Dia menuturkan sekilas tentang bangunan masjid. Masjid diresmikan pada 2011 silam. Setelah dibangun pada 2005 silam.

Inisiator pembangunan masjid adalah seorang mualaf asli dari Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, bernama Hery Susetyo yang merupakan anggota PITI.

Pengerjaan masjid yang sebelumnya sempat mandek, berhasil dilanjutkan setelah adanya peran serta dari pihak swasta, yaitu Koperasi Simpan Pinjam Jasa (Kospin Jasa). Hingga saat ini masjid telah berdiri kokoh dan megah.

“Masjid kan yang didirikan mualaf jadi ingin mendirikan masjid yang beda dengan yang lain. Uniklah. Mungkin yang lain bentuknya biasa. Kalau di sini satu-satunya masjid di Purbalingga yang bisa dibilang paling unik,” tuturnya.

Dari catatan takmir, masjid semula bernama Masjid PITI An-Naba. Bangunan seluas 750 meter persegi yang berasal dari tanah wakaf seluas 560 meter persegi, dan tanah milik PITI seluas 190 meter persegi.

Belakangan masjid pun berubah nama guna mengenang jasa seorang pelaut Tiongkok yang beragama Islam, Cheng Hoo.

Masjid Cheng Hoo ini sering dipenuhi oleh para pengguna jalan yang tengah memanfaatkan waktu istirahatnya untuk shalat. Terutama, ketika sudah masuk waktu shalat. Tidak sedikit dari mereka yang senang dengan desain bangunan masjid ini.

Seorang warga yang ditemui tengah singgah, Ali Roidul Maknun mengaku terkesan dengan Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini. Ia yang sering menempuh perjalanan dari Kabupaten Cilacap ke Kabupaten Batang, kerap menyempatkan diri mampir ke masjid.

“Kalau saya sering lewat sini, kebetulan tempatnya strategis. Tempatnya bisa untuk shalat, bisa untuk (mampir) makan, bisa untuk istirahat. Tempatnya enak dan unik. Keunikannya dari segi bangunan yang beda dengan yang lain yang biasanya bergaya timur tengah. Kalau ini kan lebih ke Tionghoa ya,” tuturnya. (L/B04/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)