Nasib Nelayan Gaza, antara Perjuangan dan Mata Pencaharian

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Setiap kali ketegangan militer meningkat, para nelayan Palestina di Jalur Gaza akan langsung merasakan dampaknya.

Segera blokade ketat pun kembali diterapkan, hingga akses mencari ikan di laut pun semakin sulit dilakukan.

Otoritas Israel melarang warga Gaza menangkap ikan, dan  menyalahkan pejuang Palestina yang menyerang permukiman Yahudi.

Menurut gencatan senjata yang ditengahi Mesir antara Hamas dan Israel, para nelayan sebenarnya telah diizinkan untuk beroperasi dalam jarak 15 mil laut dari pantai.

Namun kemudian, dengan alasan sepihak karena ketegangan meningkat, Israel memangkas jumlahnya menjadi 8 mil laut saja. Hingga kemudian menutup zona penangkapan ikan sepenuhnya.

Nizar Ayyash, ketua Asosiasi Nelayan Palestina di Gaza, mengatakan kepada Xinhua bahwa pasukan angkatan laut Israel terus mengejar para nelayan Palestina dari jarak 8 mil (12,8 km).

“Kami menjadi sandera situasi politik di daerah kantong pesisir,” kata Hussain Abu Ryala, seorang nelayan setempat, sambil menarik jala dari perahu.

Aksi pemerintah pendudukan Israel itu tentu saja sangat memukul para nelayan lokal, karena penangkapan ikan merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian mereka.

Mohammed Baker, nelayan lain dari Gaza, mengatakan dia khawatir dengan situasinya, terutama jika ketegangan militer berlanjut lebih lama.

Sebagai satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya, pria berusia 42 tahun itu mengatakan bahwa anak-anaknya “akan menderita kelaparan jika tidak ada yang mengulurkan tangan membantu.”

Ayah enam anak ini mengungkapkan harapannya untuk melihat berakhirnya ketegangan militer secepat mungkin untuk “memulihkan kehidupan normal mereka tanpa rasa khawatir.”

Sementara jika menyeberang ke tetangga, Mesir, akan berhadapan dengan pasukan Mesir. Seperti kejadian 26 September 2020, ketika pasukan Angkatan Laut Mesir menembak mati dua nelayan Palestina dari Gaza dan melukai satu lainnya karena diduga menyeberang ke perairan teritorial Mesir. Menurut laporan Middle East Eye.

Perdana Menteri Palestina Mohamed Shtayyeh menyampaikan duka cita mendalam atas kematian para nelayan, yang disebut sebagai ‘Martir pencari nafkah.’

Insiden itu sempat dikecam oleh pengguna media sosial Gaza yang membandingkannya dengan bagaimana warga Palestina menyelamatkan enam nelayan Mesir tahun lalu setelah badai menyeret perahu mereka ke perairan teritorial Palestina.

Begitulah, sejumlah besar warga di Jalur Gaza bergantung pada penangkapan ikan sebagai sumber pendapatan utama mereka. Namun masih terus menghadapi berbagai kesulitan yang menimpa mereka. Perlu terus diperjuangkan nasib mereka, hak hidup mereka, hak mendapatkan pencaharian mereka, sebagaimana layaknya manusia pada umumnya. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)