NEGERI MESIR DALAM AL-QURAN

mesir amazineOleh: Ali Farkhan Tsani*

Mesir dalam bahasa Arab  (مصر) adalah sebuah negara saat ini yang mencakup Semenanjung Sinai  yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libiya  di sebelah barat,  Sudan di selatan, Jalur Gaza dan Palestina di utara-timur, serta Laut Tengah di utara dan  Laut Merah di timur.

Mesir adalah negeri dengan segudang sejarah kuno, piramidnya, dan khazanah dunia Islam sejak jaman para Nabi. Karena itu, negeri ini acapkali disebut juga dengan negeri para Nabi, karena banyaknya Nabi utusan Allah yang menetap, atau melintas dan berdakwah di negeri ini.

Mesir dikatakan juga sebagai Negeri para ulama, karena banyaknya ulama mumpuni yang datang dari di negeri ini. Terutama puluhan ribu alumni Universitas Al-Azhar di Kairo, yang menjadi salah satu gudang para ulama dunia hingga saat ini.

Tapi tahukah kita? Atau masih sedikit di antara umat Islam yang mengetahuinya. Bahwa ternyata keberadaan Mesir telah disebutkan di dalam Al-Quranul Karim.

Perkataan Mesir

Perkataan “Mesir” (مصر) di dalam Al-Quran sedikitnya disebut empat kali, yaitu :

وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوۡمِكُمَا بِمِصۡرَ بُيُوتً۬ا وَٱجۡعَلُواْ بُيُوتَڪُمۡ قِبۡلَةً۬ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Artinya: “Dan kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (Q.S. Yunus [10]: 87).

Ayat ini menyebutkan kata “Mesir”, berbicara ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam dan saudaranya untuk menjadikan rumah-rumah mereka di Mesir sebagai tempat tinggal, sekaligus tempat shalat dengan menghadap kiblat.

Ahli tafsir terkemuka Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya “Jami’ li Ahkam Al-Quran”, menyebutkan bahwa Mesir terletak antara laut dan kota Aswan, dan Iskandariah merupakan bagian dari bumi Mesir.

Sejarah mencatat, setelah membebaskan kaum Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun, Nabi Musa ‘Alaihis Salam diperintahkan untuk membenahi masyarakat Bani Israil. Mereka kemudian ditempatkan di suatu kawasan dan menyiapkan rumah-rumah mereka.

Rumah-rumah mereka dibangun secara berhadap-hadapan, bukan berpencar, dengan tujuan mereka tetap berdekatan satu sama lainnya dan memutuskan masalahnya secara bersama-sama.

Sebagian mufasir dengan memperhatikan perintah menegakkan shalat dalam ayat ini, maka maksud dari kalimat kiblat adalah rumah mereka dibuat menghadap ke arah kiblat. Dengan demikian, sekalipun berada di dalam rumah, mereka masih tetap bisa melakukan ibadahnya. Akan tetapi ini pemaknaan seperti ini diambil dari istilah, sementara kata kiblah sendiri dalam arti bahasanya adalah saling berhadapan.

Pada ayat lain disebutkan juga:

وَقَالَ ٱلَّذِى ٱشۡتَرَٮٰهُ مِن مِّصۡرَ لِٱمۡرَأَتِهِۦۤ أَڪۡرِمِى مَثۡوَٮٰهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوۡ نَتَّخِذَهُ ۥ وَلَدً۬ا‌ۚ وَڪَذَٲلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلِنُعَلِّمَهُ ۥ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ‌ۚ وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمۡرِهِۦ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Artinya: “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak”. Dan demikian pula kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Q.S. Yusuf [12]: 21).

Ayat ini merupakan kelanjutan ayat sebelumnya, yang menjelaskan bahwa sekelompok musafir menemukan seorang pemuda (yaitu Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam) di sebuah sumur. Para musafir itu kemudian hendak menjadikan Yusuf sebagai barang dagangan, dengan menggadaikannya di pasar di wilayah Mesir.

Pada ayat ini tertera kata “Mesir”, dan disebutkan bahwa orang yang akan membeli Yusuf tersebut memang berasal dari Mesir. Menurut penuturan para ahli tafsir, orang itu pengusa setempat bernama Qifthir, suami Zulaikha.

Ayat selanjutnya menyebutkan:

فَلَمَّا دَخَلُواْ عَلَىٰ يُوسُفَ ءَاوَىٰٓ إِلَيۡهِ أَبَوَيۡهِ وَقَالَ ٱدۡخُلُواْ مِصۡرَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ

Artinya: “Maka tatkala mereka masuk (bertemu) Yusuf; Yusuf merangkul dua ibu bapanya dan dia berkata: “masuklah engkau ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman” (Q.S. Yusuf [12]: 99).

Ayat ini pun menyebut kata “Mesir”, yang merupakan lanjutan kisah mengenai keberangkatan keluarga Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam menuju Mesir, setelah bertahun-tahun mereka terpisah. Keluarga Nabi Ya’qub di bumi Palestina, sementara Yusuf di Mesir, negeri tetangganya.

Maka takkala Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam bertemu dengan puteranya (NabiYusuf ‘Alaihis Salam). Kemudian Yusuf ‘Alaihis Salam pun memeluk ayahnya itu dan berkata, “Masuklah engkau ke Mesir insya-Allah dalam keadaan aman”.

Kalimat “Masuklah engkau ke negeri Mesir insya Allah dalam keadaan aman,” menurut Imam Al-Thabari terdapat dua konteks. Konteks pertama, adalah ketika Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam bertemu anaknya Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam, kemudian berpeluka, sebagai bentuk bakti dan penghormatan Yusuf kepada orang tuanya, konteks kisah ini adalah sebelum memasuki Mesir. Setelah berpelukan Yusuf pun seperti itu.

Konteks kedua, adalah ketika rombongan Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam sampai di Mesir, Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam pun berbicara kepada rajanya.

Lantas Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam  pun berkata, “Masuklah engkau ke negeri Mesir insya Allah dalam keadaan aman”.

Kata “udkhulu” (masuklah engkau) dalam ayat ini oleh Ibnu Yusuf al-Andalusi dalam “At-Tafsir al-Kabir” atau “al-Bahr al-Muhith” ditafsirkan dengan “menetap dan tinggal di Mesir”.

Ayat berikutnya yang menyebut kata “Mesir” adalah:

وَنَادَىٰ فِرۡعَوۡنُ فِى قَوۡمِهِۦ قَالَ يَـٰقَوۡمِ أَلَيۡسَ لِى مُلۡكُ مِصۡرَ وَهَـٰذِهِ ٱلۡأَنۡهَـٰرُ تَجۡرِى مِن تَحۡتِىٓ‌ۖ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ

Artinya: “Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak melihat-(nya)?” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 51).

Ayat ini mengisahkan mengenai kesombongan Fira’un yang mengklaim dirinya sebagai raja (pemilik) bumi Mesir. Kesombongan itu jelas terlihat dalam statemennya, “Bukankah kerajaan (bumi) Mesir ini kepunyaanku”. Sementara itu Nabi Musa ‘Alaihis Salam beserta pengikutnya ia anggap sebagai orang yang lemah lagi fakir, karena tidak memiliki atribut istana dan singgasana.

Kesombongan Fir’aun juga terlihat dari klaimnya bahwa sungai-sungai yang mengalir berada di bawah kendalinya.

Menurut Ibn Asyur dalam tafsirnya “at-Tahrir wa at-Tanwir”, sungai-sungai (al-anhar) yang dimaksud dalam ayat ini adalah sungai Nil yang memiliki banyak cabang aliran, di antaranya ke Dimyath dan Delta.

Harapan Mesir Sekarang

Demikianlah beberapa kata “Mesir” dalam beberapa kutipan ayat yang mulia Al-Quran dengan konteksnya masing-masing.

Masih ada beberapa ayat lagi di dalam Al-Quran yang menyebutkan atau sekurang-kurangnya mengisyaratkan daerah (wilayah) Mesir. Hal tersebut tentu menunjukkan keistimewaan sekaligus perhatian Allah terhadap terhadap negeri Mesir. Sehingga Allah menyebutnya di dalam Al-Quranul Karim.

Penyebutan secara khusus di dalam Al-Quran ini juga mengindikasikan peran Mesir dan posisinya dalam konteks dunia Islam.

Kita semua tentu berharap agar Mesir, penguasa dan rakyatnya, ulama dan umatnya, serta semua komponen bangsa di sana untuk tumbuh mandiri, bersatu, dapat mengatasi konflik berdasarkan tuntunan Al-Quran. (P4/R02)

Ali Farkhan Tsani

Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I., Penulis Redaktur Tausiyah Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Mahasiswa Sekolah Tinggi Shuffah Al-Quran (STSQ) Abdullah bin Mas’ud Online, Peserta Diklat Ulumul Quran wl Fiqh Muqarranah Kerjasama Ma’had Al-Fatah Indonesia dan Universitas Islam Gaza, Majelis Dakwah Pondok Pesantren Al-Fatah Bogor, Jawa Barat.

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0