“Netralitas” PBB adalah Melindungi Israel dengan Segala Cara

Lebih dari 1.000 pemukim Yahudi Israel menuju ke kompleks Masjid Al-Aqsa Yerusalem Timur yang dilindungi oleh petugas polisi Israel, di Kompleks Al-Aqsa di Yerusalem pada tanggal 22 Juli 2018. [Mostafa Alkharouf / Anadolu Agency]

Oleh: Motasem A Dalloul

 

Pemukim Israel telah meningkatkan pelecehan mereka terhadap jamaah Palestina selama bulan puasa Ramadhan. Para ekstremis Israel biasanya melakukan serangannya dengan perlindungan penuh dari pasukan keamanan pendudukan Israel, setelah warga Palestina melaksanakan shalatn tarawih di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki.

Kekerasan semacam itu sedang berlangsung tidak hanya dalam konteks pendudukan, tetapi juga pernyataan pejabat Israel yang menghasut untuk melawan penduduk asli.

Pekan lalu, misalnya, Wakil Walikota Yerusalem, Aryeh King, meminta polisi Israel untuk mengeksekusi pengunjuk rasa Palestina yang turun ke jalan Kota Suci pada malam hari. TV Israel Channel 7 melaporkan, King mengatakan bahwa penembakan terhadap pengunjuk rasa Palestina “adalah satu-satunya cara yang dapat mengakhiri fenomena protes malam.”

Pusat Informasi Palestina (PIC) melaporkan pekan lalu bahwa kelompok sayap kanan Kahanis Yahudi, Lehava, berencana mengorganisir pawai pemukim Yahudi di Kota Tua Yerusalem “untuk membela kehormatan Yahudi.”

Menurut Haaretz, ekstremis Yahudi berpatroli di jalan-jalan di kota yang diduduki dan menyerang pejalan kaki Palestina secara fisik dan verbal. Yedioth Ahronoth juga dilaporkan oleh PIC yang mengatakan, sekelompok pemukim Yahudi bersenjata berencana menyerbu ke Alun-Alun Safra Yerusalem dan Jalan Jaffa dengan mengenakan pakaian tempur dan membawa senjata untuk menyerang warga Palestina.

Ini benar-benar terjadi. Ratusan ekstremis – dan ilegal – pemukim berbaris ke Gerbang Damaskus Kota Tua Yerusalem. Mereka meneriakkan “Matilah orang Arab … Matilah teroris”.

Mereka menyerang warga Palestina, yang sebagian besar telah beribadah di Al-Aqsa, dan melukai lebih dari 100 darinya, kata Bulan Sabit Merah Palestina. Hal ini mendorong Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mendesak masyarakat internasional untuk melindungi warga Palestina dari serangan pemukim Yahudi.

Abbas menunjukkan bahwa pelecehan dan serangan semacam itu didorong oleh pemerintah Israel, tetapi tidak berhasil.

Komunitas internasional tetap diam dan tidak melakukan apa pun untuk menghentikan atau menekan otoritas pendudukan Israel, agar menghentikan pelanggaran pemukim harian terhadap orang-orang Palestina di Yerusalem. Negara-negara tertentu hanya mengungkapkan “keprihatinan”, yang hampir tidak berarti. Mereka jelas tidak ingin mengganggu lobi pro-Israel mereka yang berpengaruh, sehingga insiden-insiden tersebut tidak disebut sebagai kekerasan atau agresi pemukim, tetapi “bentrokan” antara pemukim dan Palestina, yang secara efektif menyalahkan kedua belah pihak.

Karena penderitaan orang-orang Palestina di Yerusalem terus berlanjut, faksi-faksi Palestina di Jalur Gaza memutuskan untuk mengambil sikap atas nama mereka dan untuk melindungi Masjid Al-Aqsa dan orang-orang Yerusalem. Peringatan dikeluarkan untuk Israel tentang agresi para pemukim. Ketika ini diabaikan, mereka meluncurkan beberapa roket yang menargetkan area terbuka di dekat permukiman ilegal, mengirimkan pesan kepada Israel bahwa Yerusalem adalah “garis merah”.

Tiba-tiba komunitas internasional terbangun, dengan Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah Tor Wennesland berkata, “Saya khawatir dengan peningkatan baru-baru ini di Yerusalem dan sekitar Gaza.”

Dia menggambarkan peluncuran roket ke area terbuka di Israel sebagai “kejahatan perang”, tetapi tidak mengatakan apa-apa tentang upaya tak beralasan untuk membakar rumah-rumah warga Palestina, melecehkan para jamaah yang mencoba mencapai Masjid Al-Aqsa, dan serangan terhadap orang-orang Yerusalem yang telah melukai lebih dari 100 orang.

Dia juga tidak menunjukkan bahwa pemukim Yahudi Israel dan permukiman mereka ilegal menurut hukum internasional dan merupakan kejahatan perang. Sebaliknya, pejabat PBB itu memainkan permainan menyalahkan “kedua belah pihak”.

“Selama 48 jam terakhir ada lonjakan bentrokan kekerasan antara warga Israel dan Palestina di Yerusalem dan peluncuran roket oleh militan di Gaza,” kata Wennesland. “Tindakan provokatif di seluruh Yerusalem harus dihentikan. Peluncuran roket tanpa pandang bulu ke pusat-pusat populasi Israel melanggar hukum internasional dan harus segera dihentikan.”

Pada saat yang sama, semua pihak yang berkepentingan dengan konflik Israel-Palestina direkrut untuk mencegah potensi eskalasi perlawanan Palestina di Gaza, dengan satu-satunya tujuan untuk memastikan bahwa tidak ada yang akan terjadi dan merugikan pemukim Israel.

“PBB sedang bekerja dengan semua pihak terkait untuk meredakan situasi,” kata Wennesland, yang telah “tertidur” sejak 13 April, ketika awal Ramadhan dimulainya putaran kekerasan pemukim Yahudi terhadap jamaah Palestina.

Sebagai utusan PBB di kawasan itu, Wennesland mewakili komunitas internasional. Dia buta terhadap hampir dua pekan agresi pemukim yang didukung negara terus-menerus terhadap warga Palestina, hanya membuka matanya ketika roket ditembakkan dari Gaza ke daerah terbuka. Ini memberi tahu kita banyak hal tentang netralitas organisasi internasional yang seharusnya.

Memang, Wennesland menunjukkan kepada dunia wajah jelek PBB, dengan dukungan tanpa syaratnya untuk pemerintah pendudukan Israel dan para pemukim Yahudi sayap kanan yang ekstrim. “Netralitas” PBB berarti melindungi para penjahat Israel dengan segala cara, sementara tidak melakukan apa pun terhadap penderitaan penduduk asli Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun. (AT/RI-1/P2)

 

Sumber: MEMO

 

Mi’raj News Agency (MINA)