Ngaji Diri

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Seringkali kita lupa sudah berapa lama kita hidup di alam fana ini. Tanyakan pula dalam diri kita, selama ini sudah berapa banyak amal ibadah yang kita lakukan?

Kadangkala, ada di antara kita yang bertambah usia bertambah pula kerinduan kepada amal ibadah sebagai bekal alhirat. Tapi, tak sedikit diantara kita yang diberi usia panjang, kosong atau sedikit sekali dalam beramal dan beribadah.

Sejatinya kita malu jika sejauh perjalanan usia kita hingga saat ini kita masih disibukkan dengan dunia. Seharusnya kita malu pada Allah dengan segala limpahan nikmat dari-Nya.

Mengapa seringkali kita lebih bahagia menghabiskan waktu-waktu malam hanya untuk menanti dan menyaksikan hal yang sia-sia? Tapi sudah berapa banyak amal ibadah yang kita lakuka di waktu-waktu sepertiga malam?

Seharusnya, sebagai Muslim, kita harus ‘Ngaji Diri’ agar kita selalu melihat sudah seberapa besar kontribusi kita kepada Islam dan kaum Muslimin. Atau sebaliknya, selama sayap usia kita terkembang, kita malah terlena dengan nikmat usia itu. Kita masih tak sadar betapa setiap desah nafas kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kuatkan zikir kita, kuatkan fikir kita, kuatkan hati kita, kuatkan ilmu kita, benahi akhlak kita. Kitalah yang perlu Allah. Kita yang lemah inilah semestinya yang menangis, merengek kepada Allah dalam setiap keadaan.

Kita ini hanya kumpulan makhluk teramat lemah.

Jangan pernah kita merasa aman dari ancaman Allah. Jangan pernah kita merasa sudah jadi orang baik (takwa) sementara di mata Allah kita banyak aib. Jangan pernah merasa bangga dengan apa pun yang Allah titipkan pada kita sebab semuanya pasti akan Allah ambil jika saatnya tiba.

Bangkitlah untuk berbenah, mumpung Allah masih beri kita kekuatan. Kuatkan azzam (tekad) untuk meraih ridha Allah dengan mujahadah dan istikomah di jalanNya.

Ingat, tanpa Allah, kita hanyalah debu yang pasti akan terombang ambing diterpa peradaban masa.

Ingat, tanpa Allah, kita ibarat ‘mayat’ hidup yang tak akan pernah berarti apa-apa apalagi memberi arti kepada yang lain. Ingat, tanpa Allah, kita hanyalah makhluk yang hina dina

Saudaraku,

Mari kita Ngaji Diri sebelum masa itu terlambat. Masa di mana dada kita menjadi sesak, nafas kita tersengal, badan mulai dingin dan kaku. Jika masa menakutkan itu tiba, apa yang bisa kita lakukan?

Masihkah kita mampu menyogok Malaikat Maut dengan harta melimpah kita agar nyawa diundur masa mencabutnya walau satu detik? Atau bisakah kita minta bantuan anak-anak dan isteri agar membantu menahan datangnya maut itu?

Tidak, maut itu datang tanpa diundang. Maut itu datang tanpa salam. Saat maut itu datang, tak satupun dari makhluk di muka bumi ini mampu menahannya. Takutlah kita, takutlah pada suatu hari dimana segala yang kita miliki tak lagi bermakna. Jika masa itu tiba, maka semua tinggal kenangan.

Sadarilah, setiap kita adalah petarung dalam mengarungi kehidupan fana ini. Karena kita petarung, maka diantara kita pun bersaing. Kita berkompetisi walau itu antara ayah dan anak, anak dan ibu, atau bahkan antara suami dan isteri pun bersaing.

Tahukah apa yang kita perebutkan satu sama lain dalam hidup ini? Disadari atau tidak, sesungguhnya kita sedang memperebutkan kematian. Ya, kematian. Lihat, betapun kita melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tetap saja pada akhirnya kematianlah yang akan kita temui.

Pertanyaannya? Saat kereta kematian itu datang menjemput, maka dengan cara apa kita menghadapinya? Lalu, mau mati dalam keadaan apakah kita sahabat?

Karena hidup ini pilihan, maka pilihlah akhir kematian kita sebagai Husnul Khatimah (akhir kematian yang baik), dan jangan pilih kematian kita dalam keadaan Su’ul Khatimah (akhir kematian yang buruk), nauzubillah.

Disinilah, di dunia ini, Allah telah menjadikan lahan agar kita mampu memilih cara kita kembali kepadaNya. Di dunia ini pula Allah beri kita kebebasan untuk memilih dengan cara apa kita hidup dan mati kelak. Jika kita memilih hidup dengan mentaatiNya, maka kebahagiaanlah yang kelak akan kita petik. Begitu juga sebaliknya.  Jika kita ingin mati dalam keadaan husnul khatimah, maka tarbiyah ruhiyah kita dengan taqarrub ilallah.

Rubah mindset berfikir kita bahwa Allah adalah penentu yang mengikuti sesuai apa yang kita pikirkan. Rubah cara merasa kita tentang apa pun yang Allah takdirkan. Berbaiksangkalah kepada Allah sebab Allah maha lembut kepada setiap hamba-Nya. Jadilah kita orang yang “Bisa Merasa dan bukan Merasa Bisa”.

Yang perlu jadi catatan bagi seorang Muslim, siapa dan apa pun profesinya di dunia ini, maka perjuangan terberat adalah bagaimana ia bisa mati dalam keadaan Husnul Khatimah, wallahua’lam. (A/RS3/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)