Nickolay Mladenov: Langkah Sepihak Tidak Selesaikan Konflik

New York, MINA – Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah Nickolay Mladenov mengatakan, langkah-langkah sepihak tidak akan menyelesaikan konflik Palestina-Israel, juga mereka yang menolak proposal tidak boleh beralih ke kekerasan. Itu akan menjadi respons terburuk yang mungkin terjadi pada saat sensitif ini.

Mladenov menyampaikan pandangannya pada pertemuan DK PBB di markas besarnya di New York, Selasa (11/2) waktu setempat, seperti diberitakan Reliefweb.

“Memang, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan politik dan refleksi serius tentang apa yang perlu dilakukan untuk membawa para pihak kembali ke meja perundingan,” katanya.

“Saya berharap bahwa Dewan ini akan bergabung dengan seruan Sekretaris Jenderal untuk solusi negosiasi konflik dan keterlibatan konstruktif antara para pihak. PBB telah lama mendukung solusi dua negara untuk konflik Palestina-Israel berdasarkan resolusi PBB, hukum internasional dan perjanjian sebelumnya,” lanjutnya.

“Hari ini adalah waktu untuk mendengar pandangan-pandangan tentang bagaimana memajukan proses dan untuk menemukan jalan kembali ke kerangka mediasi yang disepakati bersama,” lanjutnya.

Menurutnya, walaupun sulit untuk membayangkan perjanjian yang komprehensif antara para pihak dalam keadaan saat ini, tapi itu harus untuk menghindari keadaan status quo.

Melanjutkan pernyataan sebelumnya yang dijelaskan dalam Laporan Kuartet Timur Tengah 2016, kondisi saat ini jika dibiarkan hanya akan membuat Palestina dan Israel semakin memanas, memperdalam pendudukan, dan membahayakan kelangsungan hidup masa depan dari solusi dua negara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sepanjang ini tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Israel dan Palestina dan dengan mitra internasional untuk mewujudkan tujuan perdamaian abadi dan adil.

“Seperti dikatakan Sekretaris Jenderal, tujuan ini hanya dapat dicapai dengan mewujudkan visi dua negara, Israel dan Palestina, yang hidup berdampingan secara damai dan aman berdasarkan garis pra-1967, dengan Yerusalem sebagai ibukota kedua negara,” ujarnya.

“Tidak ada jalan lain untuk mencapai tujuan ini, kecuali melalui negosiasi,” tegasnya. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)