NILAI KEMANUSIAAN DI HADAPAN ALLAH

Ali Farkhan Tsani
Ali Farkhan Tsani

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. امابعد فَيَاآيُّهَا الْحأضِرُوْنَ الْكِرَامِ . اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin sidang Jum’ah rahimakumullah,…..

Setelah khatib menyampaikan tahmid, syahadah, shalawat dan wasiat taqwa, marilah kita simak kembali firman Allah Ta’ala tentang hakikat kemanusiaan, yang antara lain termaktub di dalam ayat :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ۬ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبً۬ا وَقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوٓاْ‌ۚ إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۬

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujurat [49] : 13).

Ayat ini ditujukan kepada seluruh umat manusia, tak hanya kepada kaum Muslimin saja. Manusia pada awalnya diturunkan dari sepasang suami-isteri, Adam dan Hawa. Selanjutnya, berkembang beranak-pinak, menjadi beberapa suku, ras dan bangsa. Ini semua sebenarnya hanyalah merupakan nama-nama saja untuk memudahkan. Sehingga dengan itu sesame manusia dapat saling mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu dari keluarga besar manusia di muka bumi ini.

Mereka semua di hadapan Allah pada dasarnya adalah satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa kepada-Nya.

Hadirin yang dirahmati Allah,…..

Sebab turunnya ayat tersebut, menurut Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim berhubungan dengan salah satu peristiwa pada waktu Pembebasan kKota Mekkah (Fathu Makkah).

Saat itu, naiklah Bilal bin Rabbah ke atas Ka‘bah dan mengumandangkan adzan. Sebagian orang berkata, “Budak hitam inikah yang adzan di atas punggung Ka‘bah?” Yang lain berkata, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.” Dengan adanya pertanyaan dan pandangan masyarakat waktu itu, lalu turunlah ayat ini.

Sebagian riwayat, seperti dari Abu Dawud dan al-Baihaqi menyebutkan dari az-Zuhri, bahwa ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyuruh kaum Bani Bayadhah untuk mengawinkan salah seorang wanita mereka dengan Abu Hindun, tukang bekam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sebagian warga mempertanyakan, “Wahai Rasulullah, pantaskah kami mengawinkan puteri-puteri kami dengan pembantu?” Lalu, turunlah ayat ini.

Menurut riwayat lain, dari Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan ucapan Tsabit bin Qays kepada seorang laki-laki yang tidak mau memberikan tempat duduk kepadanya di majelis bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ia berkata, “Wahai anak Fulanah.” Ia mencela orang itu dengan menyebut ibunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang berkata itu?” Orang tersebut menjawab, “Saya, wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Beliau bersabda, “Lihatlah wajah-wajah kaum itu.” Orang itu pun memperhatikannya. Beliau bertanya, “Apa yang kamu lihat?” “Saya melihat ada yang kulitnya putih, ada yang merah, dan ada yang hitam.” Lalu beliau bersabda, “Janganlah engkau melebihkan seseorang dengan yang lain, kecuali dalam hal agama dan ketakwaannya.” Kemudian turunlah ayat ini.

Adapun kepada orang enggan memberikan tempat duduk kepada yang lainnya, maka Allah menurunkan ayat :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِى ٱلۡمَجَـٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡ‌ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Mujadalah [58] : 11).

Begitulah saudara-saudaraku kaum muslimin yang Allah muliakan insya Allah,…..

Meskipun tampaknya berbeda-beda sebab turunnya ayat tersebut, namun semuanya mengisyaratkan bahwa ayat ini turun sebagai larangan memuliakan atau melecehkan manusia berdasarkan keturunan, kesukuan, maupun kebangsaan.

Inilah ajaran mulia Islam tentang peghargaan terhadap sesama manusia, sama-sama makhluk Tuhan.
Karena itu, berkaitan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan dalam pidato perpisahannya pada haji Wada’ :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلاَلِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

Artinya : “Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya..” (H.R. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

Pidato perpisahan singkat kala itu membuat para sahabat terharu, sehingga pakaian ihram mereka yang putih bersih itu bersimbah air mata, menandakan pesan itu amat berkesan dan sangat berpengaruh terhadap perilaku mereka.

Misi perdamaian dan persamaan hak inilah yang kemudian dikembangkan dan diperjuangkan para sahabat, sehingga menjadi umat yang besar dan berwibawa yang selalu dikagumi oleh semua bangsa di dunia.

Konsep kemanusiaan dalam Islam yang begitu luhur, yang menyebutkan bahwa semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Semuanya pada hakikatnya adalah bersaudara, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan lainnya, kecuali dengan iman dan taqwanya semata.

Oleh karena itu, saudara-saudaraku seiman se-aqidah,….

Sesama manusia, sesama hamba Allah, tidak pantas untuk saling mengejek, saling mengolok-olok, saling memanggil dengan gelar yang buruk dan saling mencela.

Allah mengingatkan pada ayat lain :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَ لاَ نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَ لاَ تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَ لاَ تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mencela kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang dicela) lebih baik dari mereka (yang mencela) dan jangan pula wanita-wanita (mencela) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang dicela itu) lebih baik dari wanita (yang mencela) dan jangalah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Q.S. Al-Hujarat [49] : 11).

Ayat tersebut, jelas sekali membimbing umat manusia agar menjalin persaudaraan terhadap sesamanya. Saling berpesan mengenai kebenaran, ketabahan dan kesabaran.

Ayat-ayat tersebut tidak berkaitan dengan nasionalisme menurut Islam. Sebab, nasionalisme itu membangkitkan sentimen dan fanatisme golongan kebangsaan. Namun, ayat-ayat justru justru menentang segala hal yang mengunggulkan kelompok manusia atas dasar kebangsaan, kesukuan, dan keturunan.

Jika nasionalisme menjadikan perbedaan bangsa sebagai alasan untuk memecah-belah manusia, ayat ini justru sebaliknya. Perbedaan bangsa itu harus digunakan untuk upaya saling mengenal.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menjadikan firman-firman Allah sebagai dalil untuk mencabut paham Jahiliyah dari kaum muslimin.

Hal itu tergambar ketika Fathu Makkah beliau berkhutbah, sebagaimana dituturkan Ibn Umar :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلاَنِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ

Artinya “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kalian kesombongan Jahiliyah dan saling berbangga karena nenek moyang. Manusia itu ada dua kelompok. Ada yang salih, bertakwa, dan mulia di hadapan Allah. Ada pula yang fasik, celaka, dan hina di hadapan Allah Swt. Manusia itu diciptakan Allah dari Adam dan Adam dari tanah. (H.R. at-Tirmidzi).

Apalagi jika itu sesama kaum muslimin, maka jalinan persaudaraan itu semakin erat karena ikatan aqidah seiman.
Untuk itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan, yang artinya, “Engkau jumpai orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, saling mencintai dan beriba hati antara mereka bagaikan tubuh yang satu…..”. (H.R. Muttafaq ‘Alaih).

Semoga semakin erat jalinan ukhuwah islamiyyah antar sesame kaum muslimin, serta saling menghormati dan mengenal antarsesama manusia, sebagai sesama makhluk-Nya. Aamin yaa robbal ‘aalamiin. (P4/R03).

بَارَكَ اللهُ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعْنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ البَيَانِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُوْلُ هَذَا القَوْلِ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0