Normalisasi Hubungan dengan Israel, UEA Bisa Beli Senjata AS

Abu Dhabi, MINA – Para ahli mengungkapkan, kesepakatan untuk normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) membuka jalan bagi kesepakatan Amerika Serikat (AS) untuk menjual senjata ke UEA.

Dengan perjanjian ini, UEA akan menjadi negara Arab ketiga setelah Mesir dan Yordania yang menyelesaikan perjanjian tersebut dengan Israel, yang memiliki status khusus untuk mendapatkan penjualan senjata AS, menurut laporan media Arab 48 yang dikutip MINA, Sabtu (15/8).

Duta Besar AS untuk Israel, David Friedman, mengatakan dalam sebuah wawancara radio, bahwa setelah UEA normalisasi hubungan dengan Israel maka UEA menjadi teman Israel dan menjadi mitra Israel serta menjadi sekutu regional Amerika Serikat.

“Saya jelas berpikir bahwa ini akan mengubah penilaian ancaman dan mungkin berhasil untuk kepentingan UEA dalam hal pembelian senjata di masa depan,” katanya.

Amerika Serikat menjamin, Israel akan memperoleh senjata Amerika yang lebih canggih daripada negara-negara Arab, memberikan apa yang digambarkan sebagai “superioritas militer kualitatif” atas tetangganya.

Contohnya adalah F-35, diproduksi oleh Lockheed Martin, yang digunakan oleh Israel dalam pertempuran tetapi saat ini UEA tidak dapat membelinya.

David Makovsky, Direktur Proyek Hubungan Arab-Israel di Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat, mengatakan kepada media, bahwa perjanjian ini adalah kemenangan bagi UEA.

Tidak diragukan pula, akan memenuhi syarat untuk penjualan peralatan militer yang tidak dapat diperolehnya selama ini di bawah pembatasan ‘superioritas militer kualitatif’ karena khawatir akan kemungkinan menggunakan teknologi tertentu untuk melawan Israel.

Pada Mei lalu, Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan hingga 4.569 kendaraan lapis baja tahan ranjau (MRAP) ke UEA seharga $ 556 juta.

Anggota parlemen AS mencoba menghentikan rencana pemerintah Trump untuk penjualan senjata, terutama ke Arab Saudi dan UEA, untuk menekan mereka agar meningkatkan catatan hak asasi manusia mereka dan berbuat lebih banyak untuk menghindari korban sipil dalam serangan udara melawan Houthi, yang didukung oleh Iran dalam perang di Yaman.

“Departemen Luar Negeri AS tidak sepenuhnya menilai risiko korban sipil di Yaman ketika mengesahkan penjualan senjata besar-besaran ke Arab Saudi dan UEA pada 2019,” kata laporan pengawasan pemerintah AS yang diterbitkan pada Selasa lalu.

Pada hari Kamis (13/8), Israel dan Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa mereka akan menormalisasi hubungan diplomatik dengan mediasi AS dan membangun hubungan luas baru antara ketiga negara. (T/B04/P1))

Mi’raj News Agency (MINA)