Oposisi Menentang PM Australia Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

Canberra, MINA – PM Australia Scott Marrison mengatakan akan mempertimbangkan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaannya ke sana dari Tel Aviv, tapi Kubu oposisi mengkritik langkah itu sebagai tipu muslihat sarat kepentingan politik menghadapi pemilihan umum meraih suara dari pemilih Yahudi dan membahayakan bangsa.

Morrison mengatakan pada wartawan, Selasa (16/10), Australia tetap berkomitmen pada solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina.

Ia  mengatakan dia akan berkonsultasi dengan kabinetnya dan negara-negara lain sebelum membuat keputusan.

“Kami berkomitmen untuk solusi dua negara, tetapi terus terang, itu belum berjalan dengan baik – tidak banyak kemajuan telah dibuat,” ujarnya kepada wartawan pada Selasa (16/10) seperti dilansir BBC.

Perdana Menteri mengatakan satu skenario masa depan bisa melibatkan Australia mengakui ibu kota Palestina di Yerusalem Timur dan ibukota Israel di Yerusalem Barat.

“Australia harus berpikiran terbuka untuk ini,” kata Mr Morrison.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan persetujuannya pada sikap Morrison pada Senin (15/10).

Pendahulu Morrison, Malcolm Turnbull, telah menolak untuk mengikuti AS untuk memindahkan kedutaan Australia ke Yerusalem.

Pada hari Selasa, Morrison mengatakan pemikirannya memindahkan Kedubes ke Jerusalem juga setelah mendengar saran mantan Duta Besar Australia untuk Israel, Dave Sharma.

Morisson sedang berjuang memenangkan pemilu. Jika ia gagal mempertahankan pemilih Sydney, Wentworth, ia akan dipaksa menjadi pemerintah minoritas. Dia membantah bahwa komentarnya pada hari Selasa ditujukan untuk mendapatkan suara pemilih komunitas Yahudi yang besar di Wentworth.

Namun pemimpin Senat oposisi Partai Buruh, Penny Wong, menyebut Morrison bermain “permainan kata-kata yang berbahaya dan menipu dengan kebijakan luar negeri Australia”.

“(Scott Morrison) siap untuk mengatakan apa pun jika dia berpikir itu akan memenangkan dia beberapa suara lagi – bahkan dengan mengorbankan kepentingan nasional Australia,” tandasnya. (T/R11/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)