Pengungsi-Pengungsi Gaza yang Ingin Pulang ke Rumah ….

Setelah terpaksa berlindung di sekolah Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA) akibat serangan Israel di Jalur Gaza, keluarga pengungsi berharap bisa kembali ke rumah mereka.

Akibat serangan Israel, ratusan keluarga meninggalkan rumah mereka dan berlindung di sekolah UNRWA. Salah satunya adalah keluarga Shadi Sabbag. Rumah mereka di kota Beit Lahia utara di Jalur Gaza rusak parah setelah tembakan artileri dan serangan udara oleh Israel.

Keluarganya berteduh di salah satu sekolah UNRWA, bernama “New Gaza“. Mencoba bertahan hidups di sana tanpa ada kebutuhan dasar. Sekarang satu-satunya impian mereka adalah pulang ke rumah.

Shadi Sabbag bermain-main dengan anak kecilnya di kelas yang penuh dengan pengungsi, Ia berusaha membuat anak kesayangannya melupakan suara bom dan gambar kehancuran.

Kepada Anadolu Agency, Sabbag mengatakan kehidupan di sekolah seperti bencana karena kekurangan kebutuhan dasar seperti pakaian bersih, tempat tidur, air, dan listrik. Dia mengatakan mereka harus berlindung di sekolah milik badan PBB, UNRWA, menghindarri pemboman Israel.

“Sebelumnya kami membangun rumah dengan menjual emas istri saya, tetapi pendudukan datang dan menjadikannya puing-puing tanpa alasan. Tidak ada belas kasihan atau kemanusiaan,” katanya, mengacu pada Israel.

Mengingat kondisi kehidupan yang parah di sekolah tersebut, dia berharap negara-negara Arab dan organisasi internasional akan mengulurkan tangan membantu.

Di ruang kelas tepat di sebelah tempat keluarga Sabbag, tinggal seorang wanita tua, Asma Al-Asgar (82), bersama dengan putrinya, yang juga terpaksa meninggalkan rumah mereka karena serangan Israel.

Asgar mengatakan kehidupan di sekolah itu sulit dan kebersihan adalah salah satu masalah utama. Dia bilang ingin pulang.

Sebelumnya dia berharap bisa melewatkan Idul Fitri di rumahnya, tapi ini tidak terjadi karena serangan Israel. Yang dia alami hanyalah perang dan kehancuran, alih-alih kegembiraan menandai akhir bulan suci Ramadhan.

Pemadaman listrik selama 

Sema Al-Basyouni, 9, dulunya tinggal di kota Beit Hanoun di Jalur Gaza utara, tetapi dia kemudian mengungsi di sekolah karena rumahnya rusak sebagian dan kerabatnya terluka.

Dia mengatakan tidak ada tim hiburan yang memberikan dukungan psikologis yang mengunjungi sekolah. Saudara kandungnya yang berusia 2 tahun menangis sepanjang malam dan keluarga gagal menghiburnya.

Ada pemadaman listrik selama berjam-jam dan cuaca terlalu panas, katanya, dengan menambahkan bahwa sejauh ini UNRWA kurang memenuhi kebutuhan dasar.

Gadis kecil itu berkata dia berharap bisa kembali ke kamar di rumahnya, dan bersekolah lagi bersama gurunya.

Pihak berwenang tidak memberikan bantuan mendesak

Mohammed al-Attar, 25, mengatakan Angkatan Udara Israel menargetkan salah satu rumah di wilayah tersebut dan pemboman besar-besaran menyebabkan kematian banyak warga Palestina.

“Kami terpaksa meninggalkan rumah kami dan berlindung di sekolah-sekolah karena pemboman hebat. Tetapi pihak berwenang tidak memberi kami bantuan dasar  yang mendesak,” katanya.

“Kami meninggalkan rumah, uang, dan tanah kami untuk menyelamatkan hidup kami,” katanya, seraya menambahkan bahwa sekolah kekurangan sarana keamanan dan kebutuhan dasar.

Sejak 13 April, bentrokan meletus di seluruh wilayah pendudukan karena serangan Israel dan pembatasan terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur, Masjid Al-Aqsa, dan perintah pengadilan Israel untuk mengusir 12 keluarga Palestina dari rumah mereka demi pemukim Israel.

Ketegangan menyebar ke Gaza pada 10 Mei, yang mengarah ke konfrontasi militer antara pasukan Israel dan kelompok perlawanan Palestina, dan pesawat tempur Israel yang menyebabkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya di rumah dan infrastruktur Palestina.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas, kelompok perlawanan Palestina, mulai berlaku pada pukul 2 pagi hari Jumat (2300GMT Kamis).

Gencatan senjata yang ditengahi Mesir terjadi setelah 11 hari serangan udara Israel di Jalur Gaza yang diblokade.

Sebanyak 243 warga Palestina, termasuk 39 wanita dan 66 anak-anak, tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak 10 Mei. (T/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)