OXFAM : REKONSTRUKSI JALUR GAZA LEBIH SATU ABAD

Oxfam yang berbasis di Landon (Foto : MEMO)
Oxfam yang berbasis di Landon (Foto : MEMO)

Gaza, 8 Jumadil Awwal 1436/27 Februari 2015 (MINA) – Badan Amal yang berbasis di London, Oxfam, memperingatkan, rekonstruksi Jalur Gaza akan memakan waktu lebih dari satu abad jika blokade Israel tidak diangkat.

“Pada saat ini, bisa memakan waktu lebih dari 100 tahun untuk menyelesaikan pembangunan di Gaza seperti, rumah, sekolah dan fasilitas kesehatan kecuali blokade Israel diangkat,” kata Oxfam dalam pernyataannya, demikian laporan Middle East Monitor (MEMO) dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Jumat.

Angka terbaru menunjukkan, minimnya jumlah bahan bangunan yang sangat penting, memasuki Gaza pada bulan lalu. “Hanya kurang dari 0,25 persen dari truk bahan bangunan penting yang diperlukan, yang dapat  memasuki Gaza dalam tiga bulan terakhir ini,” demikian pernyataan , itu.

“Enam bulan sejak berakhirnya konflik, situasi di Gaza semakin hancur,” kata Oxfam, dan menyerukan Israel untuk mengakhiri blokade yang kini telah berlangsung selama hampir delapan tahun.

Oxfam mengatakan, Gaza membutuhkan lebih dari 800.000 truk bahan bangunan rumah, sekolah, fasilitas kesehatan dan infrastruktur lain yang diperlukan setelah konflik paska serangan Israel masa blokade.

“Namun, pada Januari hanya 579 truk tersebut masuk Gaza,” katanya, “ini bahkan kurang dari 795 truk yang masuk bulan sebelumnya”.

Oxfam menjelaskan, “Sekitar 100.000 orang lebih dari setengah dari mereka anak-anak yang masih tinggal di tempat penampungan, sementara bersama keluarga besar setelah rumah mereka hancur, puluhan ribu lebih keluarga yang tinggal di rumah rusak parah”.

“Mengakhiri blokade Gaza akan memastikan bahwa orang dapat membangun kembali kehidupan mereka. Keluarga Palestina telah meninggalkan rumah tanpa atap, dinding dan jendela selama enam bulan terakhir ini,” kata Direktur Regional Oxfam, Catherine Essoyan.

Ia menambahkan, banyak di antaranya  hanya dapat aliran listrik selama enam jam per hari dan tanpa air setiap hari.

Hal ini benar-benar menyedihkan,  masyarakat internasional sekali lagi gagal rakyat Gaza ketika mereka membutuhkannya. Tidak ada kemajuan dalam perundingan, katanya.

Oxfam menilai, belum ada kemajuan dalam solusi pembicaraan jangka panjang untuk mengatasi krisis di Gaza, yang seharusnya terjadi setelah gencatan senjata.

“Oxfam menyerukan kedua belah pihak secara proaktif mencari resolusi damai, termasuk mengakhiri blokade Israel yang masih menguat dan terus memiliki dampak buruk pada orang di Gaza.”

“Di bawah blokade, ekspor hasil pertanian dari Gaza telah jatuh pada tahun lalu menjadi hanya 2,7 persen dari tingkat sebelum blokade diberlakukan.

Nelayan masih dibatasi untuk memancing diberlakukan dari enam mil laut jauh dari dimana sebagian besar ikan petani dilarang mengakses banyak lahan pertanian yang paling subur”.

“Gaza terus terlepas dari Tepi Barat, dan sebagian besar orang masih dicegah meninggalkan. Perbatasan dengan Mesir juga telah ditutup untuk sebagian besar dari dua bulan terakhir ini, mencegah ribuan orang dari bepergian.”

Badan amal itu juga menyalahkan Pemerintah Persatuan Palestina. “Tumbuhnya ketegangan dalam Pemerintah Persatuan Palestina juga memperburuk situasi di Gaza,” kata pernyataan itu. (T/P002/P2)

 Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

 

Comments: 0