Pacaran, Dosa Besar yang Dianggap Kecil

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Bagaimana kabar hati Anda sahabat? Semoga selalu ada dalam keadaan bersih nan bercahaya. Lalu, bagaimana kabar cintamu sahabat? Aku berharap semoga selalu berpeluh rindu kepada Allah dengan rasa tak terkira.

Bagaima juga kabar imanmu sahabat? Aku doakan semoga iman itu selalu tumbuh menjulang, naik dan naik hingga tergapai ridho Ilahi. Semoga rahmat dan kasih sayang Allah selalu menyertai kita.

Sahabat, pernahkah dirimu jatuh cinta dan terjebak, lalu terlena dalam dunia yang bernama PACARAN? Bagaimanakah indahnya jatuh cinta dalam pacaran itu?

Sahabat, tahuka dirimu? Bahwa ternyata di balik keindahan itu terdapat banyak duri, walau jasadmu tak pernah tersentuh olehnya. Tapi, yakinkah selama ini matamu, lisanmu, telingamu tak berzina? Masih yakinkah hatimu juga tak berzina?

Bukahkah kau ingat, bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan.” (Qs. Al Isra/17: 32).

Dalam sebuah hadis, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Sahabat, jika engkau masih menganggap pacaran hanya dosa kecil, maka ketahuilah itu dengan mudah akan berubah menjadi dosa besar! Mari merenung sejenak. Lalu hayati sedikit penjelasan di bawah ini, mengapa dosa kecil bisa menjadi dosa besar.

Dosa itu terbagi menjadi dua; dosa besar dan dosa kecil. Tapi, perlu diwaspadai, dosa kecil sebenarnya bisa menjadi dosa besar karena melakukan beberapa hal berikut ini. Bagi sahabat yang masih senang pacaran, semoga penjelasan berikut ini bisa menjadi bahan muhasabah (introspeksi).

Pertama, dosa kecil tersebut sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan terus menerus. Terdapat sebuah hadis yang maknanya shahih (benar), namun didhoifkan (dilemahkan) oleh para ulama pakar hadis, “Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.” [Dhoiful Jaami’ no. 6308. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan sanad lainnya dari Ibnu ‘Abbas namun mauquf (perkataan Ibnu ‘Abbas].

Kedua, dosa bisa dianggap besar di sisi Allah jika seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut. Karena itu, jika seorang hamba menganggap besar suatu dosa, maka dosa itu akan kecil di sisi Allah. Sebaliknya, jika seorang hamba menggaggap kecil (remeh) suatu dosa, maka dosa itu akan dianggap besar di sisi Allah. Dari sini jika seseorang mengganggap besar suatu dosa, maka ia akan segera lari dari dosa dan betul-betul membencinya.

Ibnu Mas’ud ra mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.”[Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308].

Anas bin Malik ra mengatakan, “Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.” [Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6492].

Bilal bin Sa’ad rh mengatakan, “Janganlah engkau melihat kecilnya suatu dosa, namun hendaklah engkau melihat siapa yang engkau durhakai.”

Ketiga, memamerkan suatu dosa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi – ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan.” [HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990, dari Abu Hurairah].

Keempat, dosa tersebut dilakukan oleh seorang alim yang menjadi panutan bagi yang lain. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” [ HR. Muslim no. 1017].

Oleh karena itu bagi seorang alim yang menjadi panutan lainnya, hendaknya ia: [1] meninggalkan dosa dan [2] menyembunyikan dosa jika ia terlanjur melakukannya.

Sebagaimana dosa seorang alim bisa berlipat-lipat jika ada yang mengikuti melakukan dosa tersebut, maka begitu pula dengan kebaikan yang ia lakukan. Jika kebaikan tersebut diikuti orang lain, maka pahalamu akan semakin berlipat untuknya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh.” [HR. Muslim no. 1017].

Kita adalah manusia-manusia lemah yang masih tersisa di akhir zaman ini, sehingga dosa akan selalu mengitari kita. Tapi, orang yang baik di antara kita adalah orang yang segera sadar dan tobat serta berjanji untuk tidak terjerumus dalam lubang dosa untuk kedua kali.

Karena itu, tidak perlu merasa sedih dan cemas. Tidak perlu ragu akan janji Allah. Pasti Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari sekedar pacaran itu. Ingatlah, yang namanya hidup, mati, jodoh, dan rezeki setiap insan sudah ditentukan.

Jadi, jangan pernah merasa bangga berlama-lama pacaran. Karena itu sama artinya dengan bangga mengumpulkan dosa dengan melampiaskan syahwat. Jika seorang muslim membangun rumah tangganya diawali dengan cara yang Allah benci, maka bagaimana mungkin Allah akan meridhoi.

Sebaliknya, karena membangun rumah tangga itu bagian dari ibadah kepada Allah Ta’ala, maka sejatinya seseorang mengawalinya dengan balutan kasih sayang yang Allah ridhoi. Cinta dan kasih sayang di antara dua insan berlainan jenis, sejatinya dibangun dan tumbuh subur saat keduanya sudah halal.

Yakinlah pada janji Allah. Bersabarlah, sebab saat-saat bahagia itu akan tiba. Jangan kau habiskan kebahagiaan itu untuk berpacaran. Jangan pula kau bagi cintamu dengan cara yang tidak halal. Andai kadar cinta itu 100 persen, tapi sudah dibagi dan dinikmati sebelum menikah, maka saat masa bahagia (menikah) itu datang, kadar cinta itu bisa jadi tinggal 50 persen.

Maka tak sedikit, orang yang sudah menikah lalu bercerai. Bisa jadi karena cintanya yang 50 persen itu sudah tidak mampu sepenuhnya menerangi biduk rumah tangganya.

Mari renungkan sebuah hadis dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini, “Jika seorang hamba menikah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan setengah dari agamanya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan setengah yang lain.” (HR. Baihaqi).

Tak ada manusia yang sempurna. Salah dan dosa, seolah selalu menyertai. Tapi bersyukurlah, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menjadikan kalimat “istighfar” sebagai sarana untuk memohon ampun atas segala khilaf dan dosa.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Tidak ada satupun  dari seorang hamba yang berbuat suatu dosa, lalu ia berdiri untuk bersuci, lalu melakukan sholat dan beristighfar untuk meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuni dosanya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat Ali Imran , ayat : 135, yang artinya: “ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.“ ( Hadis Hasan Riwayat at-Tirmidzi no : 3009, Abu Daud, no ; 1521).(RS3/RS1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)