Padat Karya Tunai di Brebes untuk Cegah Kekerdilan Pada Anak

Asisten Deputi Pemberdayaan Desa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, DR Ir Herbert Siagian MSc (berkaos putih depan) lakukan monitoring program padat karya di Brebes (Foto: MINA/Zaenal)

 

Brebes, MINA – Program Padat Padat Karya Tunai Desa Lintas Kementerian dan Lembaga Negara yang dilaksanakan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diantaranya bertujuan untuk mencegah Stunting atau kekerdilan pada anak.

Hal itu diungkapkan Asisten Deputi Pemberdayaan Desa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Dr Ir Herbert Siagian MSc ketika melakukan monitoring pelaksanaan program padat karya untuk pembangunan jalan usaha pertanian dan irigasi pertanian di Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu, Brebes, hari Jumat (9/2).

“Desa Kalinusu ini salah satu dari 10 desa di Kabupaten Brebes yang menjadi proyek percontohan untuk program Padat Karya Tunai ini,” katanya di sela-sela kegiatan monitoring.

Menurutnya, program Padat Karya Tunai yang bersumber dari Dana Desa (DD) dimaksudkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Desa Kalinusu merupakan salah satu desa yang ditemukan adanya anak stunting atau kekerdilan sehingga menjadi salah satu pilot proyek.

“Diharapkan dengan Padat Karya ini masyarakat akan menerima upah yang dapat digunakan untuk membeli makan yang bergizi untuk keluarga dan anak-anaknya,” ujar Herbert.

Melalui padat karya ini selah satu upaya untuk mencegah stunting di masa yang akan datang meski bukan sebagai program spisifik. Selanjutnya untuk spesifik penanggulan stunting dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dengan pemberian vitamin dan obat-obatan atau lainnya.

“Ini bukan program spesifik untuk stunting tapi setidaknya dapat mendukung untuk pencegahan stunting,” kata Herbert.

Padat karya tunai merupakan metoda dan pekerjaannya diantaranya untuk membangun jalan usaha perekonomian, irigasi pertanian dan lainnya. Pekerjaan seperti itu sebelumnya menggunakan jasa kontraktor, sekarang langsung oleh masyarakat di desa.

“Sehingga nantinya pekerjaan yang biasanya menggunakan mesin dapat dilakukan oleh tenaga manusia sepanjang masih dapat dilakukan agar masyarakat dapat menerima upah secara tunai,” terang Herbert.

Meski dengan tenaga manusia untuk kualitas tetap harus diutamakan sesuai ketentuan. Kecuali jika tidak mungkin dengan tenaga manusia dapat menggunakan bantuan mesin.

Saat ini sebagai percontohan untuk Padat Karya Tunai se-Indonesia ada di 100 desa dan pada tahun 2018 ini akan dilakukan pula di seribu desa se-Indonesia.

Kepala Desa Kalinusu, Khaeroni yang menerima dan mendampingi tim monitoring mengatakan, kegiatan padat karya tunai di desa diantaranya untuk membangun jalan usaha tani dan irigasi pertanian.

“Melalui padat karya ini warga dapat langsung merasakan manfaatnya baik dari upahnya maupun hasil pembangunannya,” katanya.

Diharapkan kesejahteraan warga akan meningkat dengan meningkatnya daya beli dari upah yang diterimanya. Sehingga kasus gizi buruk dan stunting di Desa Kalinusu dapat dicegah untuk masa-masa yang akan datang.

Selain melakukan monitor, Herbert juga sempat berdialog dengan warga dan melakukan penyerahan sertifikat serta penyerahan upah secara simbolis. Menyambut kedatangan tim monitoring Sekcam Bumiayu, Eko Purwanto SIP, Kasi Bidang Penguatan Kelembagaan dan Pengelolaan Partisipasi Masyarakat BPMDK Brebes Darmawan Adhinugroho dan pejabat Muspika Bumiayu serta lainnya. (L/B05/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)