Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakta Pertahanan Makkah dan Dampaknya bagi India

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:00 WIB

294 Views ㅤ

Ilustrasi: Peta Pakistan, India, Arab Saudi dan sekitarnya. (Dreamstime)

PADA 7 Agustus 2026, dunia dikejutkan dengan penandatanganan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah (Mecca Joint Defence Agreement) antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye.

Pakta ini bukan sekadar deklarasi simbolis, tapi isinya menyebutkan bahwa serangan bersenjata terhadap satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya, mirip dengan Pasal 5 Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization /NATO).

Penandatanganan di kota suci Makkah oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Presiden Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif memperluas Perjanjian Pertahanan Strategis Bersama bilateral (SMDA) antara Riyadh dan Islamabad (September 2025) yang kini mencakup Ankara.

Ketika AS Gagal Melindungi Sekutunya

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Pakta ini lahir dari kekecewaan mendalam negara-negara kawasan terhadap AS. Negara-negara Teluk yang secara tradisional mengandalkan payung keamanan Amerika kini menjadi sasaran serangan Iran, dan AS terbukti tidak mampu membela mereka. Pangkalan AS yang sebelumnya dianggap sebagai jaminan keamanan kini justru menjadi beban yang membuat mereka rentan terhadap serangan.

Kuwait bahkan telah merundingkan perjanjian pertahanan yang diperluas dengan Pakistan untuk penempatan pasukan dan peralatan sebagai pengganti investasi. Ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk mulai mencari alternatif di luar AS.

Pertanyaan paling menggelitik, akankah “bom Islam” julukan untuk senjata nuklir Pakistan, masuk dalam payung pakta ini?

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif, tahun lalu mengatakan program nuklir negara itu “akan disediakan” ke Arab Saudi jika diperlukan di bawah SMDA. Ini adalah pernyataan yang mengguncang kawasan dan memperkuat spekulasi bahwa pakta ini membawa implikasi nuklir.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Dampak bagi India

Operasi Sindoor (Mei 2025) menjadi titik balik. Sebagai respons terhadap serangan terhadap turis di Pahalgam, India menyerang jantung militer Pakistan dan menetapkan asimetri militer yang menentukan. Serangan presisi jarak jauh India terhadap target militer mendapat sedikit perlawanan, meskipun sistem pertahanan udara HQ9 dihancurkan dan landasan pacu dinonaktifkan.

Selama konflik empat hari, Pakistan secara aktif dibantu oleh China dan Turkiye. Pakistan secara luas menggunakan drone Turkiye untuk menargetkan posisi India.

Adapun yang sedang dicermati India adalah, masih belum jelas kriteria dan prosedur di mana ketentuan pertahanan kolektif dapat digunakan. Prosesnya kemungkinan bersifat konsultatif.

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Hal lainnya, implikasi operasional. Jika India melakukan aksi militer terhadap Pakistan sebagai respons terhadap serangan teroris, apakah mungkin Turkiye dan Arab Saudi akan bergabung secara militer?

Sementara hubungan India-Arab Saudi telah diperdalam secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Saat Kerajaan Saudi mempertimbangkan diversifikasi ekonomi dan keamanannya, India menjadi pilar penting yang tidak ingin hilang. []

Sumber: The Diplomat

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya

Rekomendasi untuk Anda