Pandemi Menambah Parah Luka Pemuda Gaza (Oleh: Hana Adli, Gaza)

Hampir 8.000 warga Palestina terluka selama 21 bulan protes Great March of Return, menyebabkan krisis kesehatan di Gaza yang diperparah oleh pandemi COVID-19. (Foto: Ashraf Amra/APA Images)

COVID-19 menghantam Gaza dengan keras, dengan cara yang tidak selalu langsung terlihat oleh dunia luar.

Diberlakukannya lock down dan pembatasan perjalanan oleh otoritas Gaza, Palestina, menambah apa yang telah selama ini diberlakukan oleh Mesir dan Israel. Langkah penguasa Gaza itu sebagai respon terhadap lonjakan baru dan berbahaya dalam kasus virus sejak Agustus 2020.

Mungkin mereka yang paling terpukul dari lock down itu adalah mereka yang menunggu untuk pergi ke luar negeri bermaksud menjalani operasi medis.

Banyak dari calon pasien operasi itu terluka saat demonstrasi Great March of Return yang terjadi sejak Maret 2018 hingga Desember 2019. Mereka menyaksikan pengunjuk rasa tak bersenjata berkumpul di perbatasan antara Gaza dan Israel menuntut pencabutan blokade terhadap Gaza serta menegaskan hak mereka untuk kembali ke rumah dan desa mereka, atau milik orangtua mereka dari tempat mereka diusir secara paksa dalam Nakba tahun 1948-49.

Militer Israel menanggapi dengan kekuatan yang mematikan. Penembak jitu menembakkan peluru tajam, beberapa untuk membunuh, tetapi banyak yang sengaja bertujuan melukai.

Hasilnya adalah ratusan pemuda Palestina cedera yang tidak dapat dirawat di Gaza. Setelah hampir satu setengah dekade blokade yang diberlakukan Israel, infrastruktur sektor kesehatan yang dibutuhkan sama sekali tidak tersedia.

Banyak dari pasien jenis ini masih menunggu perawatan hingga sekarang. Kini, mereka juga menjadi sandera pandemi global yang semakin membatasi kesempatan mereka untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri.

Penderitaan mereka tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik, tetapi juga kerugian psikologis, profesional, dan pribadi.

Hanya rasa sakit

Contohnya Ahmad Juha (30) yang terluka saat demonstrasi pada September 2018.

“Saya melakukan protes di dekat perbatasan bersama banyak orang lainnya ketika peluru meledak di kaki kanan saya,” kata Ahmad.

Dokter dan organisasi internasional telah mendokumentasikan beberapa kasus seperti kasus Ahmad, di mana peluru menciptakan luka keluar yang luar biasa besar. Secara lokal, tembakan dikenal sebagai peluru yang meledak. Kerusakan luka yang ditimbulkan oleh jenis peluru tentara Israel itu seringkali tidak dapat ditangani di Gaza.

Ahmad telah menjalani beberapa operasi di kakinya di rumah sakit di Gaza untuk menghindari amputasi. Namun, semua upaya lokal sejauh ini gagal. Dalam upaya terakhir untuk menyelamatkan kakinya, lembaga medis Médecins Sans Frontières (MSF) mengatur agar dia melakukan perjalanan keluar Gaza pada bulan Maret.

Namun, COVID-19 membayar harapan itu. Pada bulan Juni, dokter memberi tahu dia bahwa tidak ada harapan untuk menyelamatkan kakinya. Dia dituntut untuk menandatangani surat izin amputasi.

“Saya tidak tahu. Saya takut untuk menandatanganinya. Saya ingin mengambil setiap kesempatan untuk menyelamatkan kaki saya,” katanya.

Semnetara itu, rasa sakit terus menderanya siang dan malam.

“Saya tidak merasakan apa-apa selain rasa sakit. Saya menjadi murung karena obat penghilang rasa sakit,” katanya.

Ia terluka dan tertekan. Ahmad kehilangan semua yang pernah dimilikinya. Pernikahannya tidak dapat bertahan dari tekanan, anak-anaknya sekarang tinggal bersama ibunya. Meskipun dia dulu bekerja di Taboon, restoran pizza paling terkenal di Gaza, kini dia tidak dapat lagi bekerja.

“Protes telah berhenti. Saya kehilangan kaki saya, pekerjaan saya, dan saya tidak dapat menemukan pekerjaan baru untuk memberikan kehidupan yang layak bagi kedua putri saya,” kata Ahmad.

Ahmad Juha (kanan) dan Jaber Suleiman (kiri). Keduanya mengalami penundaan perawatan akibat COVID-19. Keduanya bersahabat setelah mereka terluka, saat keduanya melakukan protes dalam Great March of Return. (Foto: Hana Adli)

Krisis kesehatan Gaza

Menurut MSF, lebih dari 7.900 warga Palestina terluka dengan amunisi aktif selama 21 bulan protes Great March of Return berlangsung.

MSF mengatakan kepada The Electronic Intifada bahwa “lebih dari dua tahun sejak dimulainya protes, banyak dari mereka yang terluka masih memerlukan operasi lanjutan, perawatan yang diperpanjang karena luka yang terinfeksi, serta membutuhkan rehabilitasi dan perawatan khusus yang lama.”

Dalam makalah pengarahan dari MSF, organisasi tersebut mencatat bahwa pandemi COVID-19 telah berdampak buruk pada tindak lanjut medis bagi warga Palestina yang terluka di Gaza.

“COVID-19 membuat proses pemulihan mereka yang menyiksa semakin lama dan semakin sulit, karena banyak layanan dan aktivitas medis telah dikurangi atau ditangguhkan sementara.”

MSF di Gaza telah mencoba mengoordinasikan perjalanan ke Yordania melalui pos pemeriksaan Erez ke Israel, tetapi pandemi telah mencegah banyak orang bepergian.

Ashraf Al-Qedra, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan kepada The Electronic Intifada bahwa blokade panjang Israel telah “melemahkan kemampuan kami dan meninggalkan kami tanpa banyak obat dan peralatan yang dibutuhkan.”

“Kebutuhan hanya meningkat dalam menghadapi tantangan COVID-19.”

Perjalanan medis yang tertunda

Rida Al-Bannan (46) adalah ibu dari sembilan anak. Suaminya semakin bersedih dan masalah kontrol emosi yang labil karena tidak bisa bekerja. Keluarga bergantung pada bantuan pemerintah dan dari lembaga swadaya masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Rida secara teratur menghadiri protes Great March of Return sebagai sukarelawan untuk membantu mereka yang terluka. Namun, dia berakhir sebagai salah satu dari mereka yang terluka, ketika dia sendiri ditembak di kaki dalam satu protes pada Desember 2018.

Rida seharusnya melakukan perjalanan ke Luksemburg dengan koordinasi MSF untuk menerima pengobatan, tetapi jadwal itu ditunda karena pandemi.

Untuk saat ini, Rida menjalin hubungan dengan orang lain yang sama-sama terluka. Mereka mencoba untuk saling menyemangati dalam pertemuan di ruang kota.

Namun itu juga menjadi lebih sulit.

“Kami menghabiskan waktu di sini untuk menghindari perselisihan dengan keluarga kami. Tetapi aturan jarak sosial telah meningkatkan tekanan pada kami. Kami tidak dapat melakukan aktivitas lain saat ini,” katanya kepada The Electronic Intifada.

Memilih hidup bermartabat

Muhammad Al-Bahtiti (28) tinggal di lingkungan Shujaiya di Gaza City. Dia ditembak di kakinya saat protes pada Mei 2018.

Setelah hampir setahun menjalani perawatan, para dokter di Gaza memutuskan, kaki Muhammad harus diamputasi.

Dia menjalani operasi pada Februari 2019. Namun, rehabilitasi memakan waktu lama dan akhirnya terganggu oleh virus corona.

“Saya sangat stres tinggal di rumah selama penguncian. Kunjungan ke klinik dibatasi dan saya melakukan sesi fisioterapi sendiri. Dokter memandu saya melalui telepon. Itu adalah hal tersulit selama pandemi,” kata mantan pekerja konstruksi itu kepada The Electronic Intifada.

Rasa sakit yang terus-menerus membuatnya merasa sulit terhadap orang lain.

“Saya selalu membentak istri saya dan marah kepada anak-anak saya,” katanya.

Yang menambah masalah, dia sekarang juga berutang. Keluarganya mencoba membantu, tetapi itu juga menyebabkan perselisihan.

“Saudara laki-laki saya tidak dapat membayar utang saya, sementara saya hanya duduk di rumah, dan mereka mulai menyalahkan saya karena pergi melakukan protes tanpa hasil,” katanya.

Muhammad diagendakan melakukan perjalanan ke Amman, Yordania, pada Maret, tetapi dikunci. Akibatnya, dia harus diamputasi lebih lanjut. Enam sentimeter diambil dari kakinya di atas lutut.

Perlahan, dia mencoba bangkit kembali. Ia sudah mulai memproduksi sabun untuk dijual dari rumahnya ke kios pasar.

“Saya akan melakukan apa yang saya bisa untuk memberikan kehidupan yang bermartabat kepada anak-anak saya. Kami tidak butuh banyak,” kata Muhammad.

Sudah masuk ke kamar mayat

Jaber Suleiman (28) ditembak pada 2018. Dia hampir tidak selamat.

“Setelah cedera, saya kehilangan kesadaran karena pendarahan. Para dokter memutuskan untuk memasukkan saya ke kamar mayat rumah sakit karena mengira saya sudah mati. Ayah saya yang mengetahui bahwa saya masih hidup. Kementerian Kesehatan memindahkan saya ke Ramallah (Tepi Barat),” katanya.

Namun sejak kembali dari Ramallah, izin perjalanannya ditolak oleh Israel tujuh kali sebelum pandemi melanda. Tiga pekan lalu dokter harus mengamputasi bagian bawah kakinya.

Jaber, seorang penduduk lingkungan Daraj di Gaza City. Ia adalah seorang pekerja harian lepas sebelum cedera, tapi dia akan beruntung karena akan mendapatkan pekerjaan konstruksi serupa setelah perawatannya selesai.

Dia, seperti ribuan orang lainnya, menghadapi masa depan yang keras, terperangkap karena semua orang di Gaza adalah musuh bagi pendudukan militer, dengan ekonomi dalam reruntuhan, dan pandemi global. (AT/RI-1/P2)

Sumber: The Electronic Intifada

Mi’raj News Agency (MINA)