Panel Surya Jadi Sumber Kehidupan Pengungsi di Gaza

Seorang pria mengisi daya telepon seluler (ponsel) dengan panel surya di Kota Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 16 Januari 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Di tengah perang genosida penjajah Israel yang tak henti-hentinya di selama 125 hari masih berlanjut, disertai dengan pemadaman listrik yang berkepanjangan, maka telah menjadi sumber utama penerangan, pengisi daya telepon, dan listrik bagi individu dan keluarga pengungsi warga Palestina di wilayah kantong tersebut.

Quds News Network (QNN) pada Selasa (6/2) melaporkan, panel surya menjadi warga Palestina di Gaza yang mengungsi, nampak deretan tenda di kamp pengungsi Rafah yang padat, terletak di bagian paling selatan Jalur Gaza, kini dihiasi panel-panel surya berwarna gelap.

Panel-panel ini melapisi jalanan dan atap rumah, menawarkan secercah harapan bagi mereka yang ingin mengisi daya ponsel, radio, dan perangkat penting lainnya.

Di kota yang berbatasan dengan Mesir, permintaan energi alternatif meningkat drastis sejak pecahnya perang.

Mawasi Rafah, salah satu daerah pengungsian terbesar di Gaza, menampung hampir satu juta pengungsi Palestina yang hidup dalam kondisi yang sangat menantang, menurut pemerintah setempat dan PBB.

Menerangi Penderitaan Pengungsi

Keluarga Tareq Masoud yang beranggotakan sembilan orang setelah tiba di Rafah dari kamp pengungsi Jabalia di utara Jalur Gaza, memutuskan untuk berinvestasi pada empat panel surya dan peralatan energi pelengkap.

Tenda mereka, satu-satunya tempat berlindung yang bisa mereka temukan, menjadi simbol ketahanan terhadap kegelapan yang merambah.

“Setelah gelombang pengungsian, kami memutuskan untuk tidak menyerah pada kegelapan. Kami membeli empat panel surya seharga $4.000 (62 juta rupiah) dan memasangnya di atas tenda kami. Panel-panel ini menerangi kehidupan kita dalam situasi yang penuh tantangan ini, membawa harapan baru,” kata Masoud (33 tahun).

Panel surya ini tidak hanya mencerahkan kehidupan keluarga Masoud tetapi juga memungkinkan dia untuk melanjutkan pekerjaannya membuat dan menjual panel kayu, memenuhi tingginya permintaan akan pemanas dan mendirikan lebih banyak tenda untuk keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Ibunya, yang duduk di depan tenda mereka, menyebutkan bahwa Tareq menghidupi ayahnya yang sakit, seorang saudara lelaki yang berkebutuhan khusus, dan sebuah keluarga beranggotakan lima orang.

Simbol Kehidupan

Panel surya telah menjadi secercah harapan dan simbol kehidupan bagi warga Gaza yang menghadapi krisis listrik yang melumpuhkan selama empat bulan terakhir. Larangan Israel untuk mengalirkan listrik ke Jalur Gaza memperburuk situasi.

Sebelum perang, warga Gaza hanya menerima listrik selama 6 jam setiap hari, selebihnya bergantung pada generator bertenaga bahan bakar dengan biaya yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Solusi lain yang dilakukan sebagian warga adalah memasang panel surya di atap rumah mereka sebagai alternatif penyediaan tenaga listrik, apalagi mengingat krisis listrik yang terjadi pada tahun 2006.

Ibrahim al-Zaini, warga Rafah, mengisi daya peralatan penting menggunakan panel surya yang dia beli sebelum perang. Sambil berdiri di samping trafo darurat yang dia persiapkan untuk tetangganya, dia berkata, “Sebelum perang, saya membeli delapan panel dan empat baterai 800 ampere. Berkat mereka, saya tidak menderita krisis listrik.”

Hidup Tanpa Penerangan

Sejak perang yang sedang berlangsung dimulai pada tanggal 7 Oktober, harga panel surya dan peralatan energi tambahan telah meningkat lima kali lipat. Mohammed Shandagli, seorang pengungsi Kota Gaza yang sekarang tinggal di Rafah, menghabiskan $800 atau 12 juta rupiah untuk membeli satu panel surya dan peralatan untuk menerangi tendanya dan keluarga besarnya.

Shandagli, 28, berdiri di depan tendanya, menyatakan bahwa kehidupan tanpa penerangan tidak mungkin terjadi di dalam tenda kecil yang dipenuhi orang dari segala usia. Malam hari sangat keras, bahkan dengan keramaian.

Dengan panel surya tunggal ini, Mohammed berhasil mengisi daya 20 ponsel setiap hari untuk tetap berhubungan dengan keluarganya yang tersisa di Gaza utara. Dia menekankan bahwa satu panggilan terkadang membutuhkan waktu satu jam untuk upaya yang gagal karena jaringan komunikasi yang terputus.

Ahmed Mraheil, pengungsi lain dari Kota Gaza di Rafah, menyebutkan bahwa tidak adanya sinar matahari selama berjam-jam selama musim dingin membuat keluarganya kehilangan aliran listrik. Panel surya hanya menghasilkan sedikit energi.

“Sebelum perang, saya membeli panel surya, namun saya tidak mampu membeli peralatan energi tambahan karena harganya yang mahal. Oleh karena itu, listrik hanya tersedia pada siang hari hingga matahari terbenam,” kata Mraheil (40).

Terlepas dari tantangan yang ada, pria ini, yang tiba di Rafah bersama keluarganya tiga bulan lalu menceritakan usahanya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di tengah kesulitan dalam kamp pengungsian akibat pengeboman dan agresi penjajah Israel.

“Saat cuaca cerah, saya mengisi daya ponsel saya dan keluarga. Lalu bagi yang berminat, dengan satu syikal (mata uang), saya isi daya ponselnya, dan dengan lima syikal, saya isi baterainya. Dengan cara ini, saya dapat menghemat uang untuk memenuhi kebutuhan minimal anak-anak saya di tengah kesulitan dalam pengungsian,” tambah Mraheil.(AT/R5/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)